Edisi 08-07-2018
51 Orang Tewas Akibat Banjir di Jepang


TOKYO - Sedikitnya 51 orang tewas dan puluhan warga lainnya hilang akibat banjir dan longsor yang disebabkan hujan deras di Jepang tengah dan barat.

Sebagai upaya pencegahan, otoritas penanganan bencana mengevakuasi lebih dari 1,6 ju ta orang dari rumahnya. Badan Meteorologi Jepang mengungkapkan cuaca buruk masih terjadi di tiga prefektur di Pulau Honshu. Mereka menyatakan agar warga tetap waspada denganan caman tanah longsor, banjir, dan angin kencang.

Mereka menyebut hujan kali ini sangat “bersejarah” karena menimbulkan banyak bencana dan korban jiwa. Di Motoyama, sebuah kota di Pulau Shikoku, sekitar 600 km dari Tokyo, curah hujan mencapai 583 mm. “Hingga pukul 22.30 jumlah korban tewas mencapai 51 orang,” demikian diungkap otoritas Jepang seperti di lansir stasiun televisi NHK ta di malam.

Stasiun televisi itu juga melaporkan, di antara korban tewas ada seorang pria yang jatuh dari jembatan di Hiroshima dan pria berusia 77 tahun di Takashima, 56 km timur Kyoto, yang tersapu banjir saat membersihkan sampah. Korban terbanyak terdapat di Hiroshima yakni 23 orang dan Prefektur Ehime 18 orang.

Beberapa kawasan dilaporkan ru sak pa rah yakni Prefektur Okayama, Hyogo, Kyoto, Shiga, Fukuoka dan Yamaguchi. Badan Manajemen Bencna dan Kebakaran Jepang menyatakan lebih dari 1,6 juta orang diperintahkan mengungsi dari rumah mereka karena dikhawatirkan terjadi banjir dan tanah longsor. Kemudian 3,1 juta warga di arankan mengungsi sebagai upaya preventif.

“Sebanyak 48.000 polisi, petugas pemadam kebakaran, dan pasukan bela diri Jepang siap memberikan bantuan dan upaya pertolongan,” kata Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga seperti di lansir Reu ters.Dia menambahkan bahwa Kantor Perdana Menteri Jepang membentuk pusat manajemen krisis untuk menangani bencana banjir.

Cuaca buruk juga berdampak buruk terhadap operasional industri. Beberapa perusahaan automotif menghentikan produksinya karena gangguan banjir dan memperhatikan risiko karyawannya. Mitsubishi Motors Corp menghentikan satu pabriknya karena tidak ada suplai bahan baku.

Adapun Mazda Motor Corp menghentikan produksinya di dua pabrik karena karyawan tidak berangkat kerja akibat cuaca ekstrem. Di Kyoto, banyak warga tetap mempersiapkan diri dan was pada dengan ancaman banjir. “Kita siap meng evakuasi diri jika memang di perlukan,” kata Tomoko Ito, 36, warga Kyoto.

Beberapa penduduk Kyoto lainnya tidak berharap situasi akan memburuk seperti bencana pada September 2013 berupa banjir yang disebabkan topan. “Pada 2013 banjirnya sangat buruk. Tapi kali ini kita sangat beruntung.

Mereka yang tinggal di dekat sungai pasti khawatir jika musim topan datang,” kata Manabu Takeshita, 71, pen du duk Kyoto. Jepang bagian tengah diguyur hujan deras sejak Kamis (5/7). Badan Meteorologi juga menyatakan banjir masih berlangsung kemarin dan bisa memicu banjir, tanah longsor, dan petir.

andika hendra