Edisi 08-07-2018
Bayar Utang pada Masyarakat


”Saya merasa seperti punya utang budi pada negara dan masyarakat karena saya sudah kuliah dengan biaya murah.” Demikian jawaban Baron ketika ditanya alasannya ingin membantu masyarakat.

Saat diterima di Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI), Baron sangat bangga sekaligus senang. Apalagi dari SMA-nya, dialah siswa pertama yang berhasil menembus UI. Kebahagiaan Baron tidak selesai sampai di situ, karena setiap semester ia hanya harus mengeluarkan biaya kuliah sebesar Rp120.000. “Sisanya menggunakan APBD.

Itu kan uang masyarakat. Bagi saya, itu berarti saya juga harus memberikan sesuatu untuk masyarakat dan bangsa ini,” katanya. Beruntung setelah menikah, Baron memiliki istri yang satu visi dan misi dengannya. Cita-cita mereka adalah ingin bermanfaat bagi orang lain. Pasangan ini tidak pernah ragu membuka rumah mereka di Depok agar bisa didatangi banyak orang.

Rumah bukan cuma tempat beristirahat, tapi bisa pula dijadikan lokasi berkumpul dan berbagi ilmu. Sejak lulus kuliah, Baron tidak pernah berniat bekerja di perusahaan orang, melainkan ingin punya usaha sendiri. Tujuan lelaki kelahiran Jakarta ini adalah membantu masyarakat setelah dirinya sukses.

Namun, niat sukses berwirausaha tidak pernah terwujud lantaran sudah 15 kali perusahaan yang ia dirikan bangkrut. “Saya masih berpikir konvensional, berpikir bagaimana kita makan dulu, kita mapan, baru bantu orang. Tapi, di dalam perjalanan ternyata kita tidak perlu mapan dulu untuk membantu masyarakat.

Mulai dari sekarang, tanpa modal pun kita bisa bantu orang lain,” ungkapnya. Menyandang predikat alumni jurusan dan kampus bergengsi ti dak membuat Baron punya impian memiliki profesi besar. Dengan menjadi perantara petani belimbing untuk menemukan pembeli secara langsung saja sudah memuaskan dirinya.

Bahkan, menurut Baron, ada keterkaitan ilmu teknik mesin dengan aktivitas sosial yang dilakukannya sekarang. Menurut Baron, dalam ilmu teknik mesin diajarkan cara me re ka ya sa mesin. Merangkai komponen yang berbeda bentuk dan fungsi menjadi satu kesatuan untuk me nye lesaikan masalah.

“Di masyarakat juga sama. Se tiap orang punya potensi berbeda. Permasalahannya, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya punya potensi. Setelah dieksplorasi potensi mereka, tinggal bagaimana merangkainya sehingga bisa berkelanjutan,” tutur Baron.

ananda nararya