Edisi 11-07-2018
Kroasia Bukan Hanya Modric


Untuk kali pertama sejak Piala Dunia 1990, Inggris kembali menginjakkan kaki di semifinal panggung sepak bola terakbar. Armada Gareth Southgate pun ingin mencapai hasil lebih baik alias juara dunia.

Apalagi slogan Itís Coming Home merujuk pada sepak bola yang berasal dari Inggris kembali pulang kian kencang didengungkan. Catatan impresif The Three Lions —julukan Inggris—membuat Ashley Young dkk optimistis bisa mengulang sukses masa kejayaan Inggris 52 tahun lalu.

Saat itu pada Piala Dunia 1966, Inggris untuk pertama kali dan terakhir membawa pulang trofi supremasi sepak bola ke Bumi Ratu Elizabeth II. Sejak itu, prestasi Inggris dilanda kemarau pan jang. Catatan terbaik setelah itu adalah menyentuh semifinal Piala Dunia 1990.

Di Italia, 28 tahun lalu, Inggris merintis asa bisa kembali merasakan manisnya gelar juara dunia, tapi di semifinal mereka tak berdaya menghadapi Jerman Barat. Sedangkan di perebutan tempat ketiga, tuan rumah Italia yang berkuasa.

Sementara di semua kompetisi sepak bola, laga semifinal terakhir yang dirasakan The Three Lions adalah Piala Eropa 1996 yang digelar di hadapan publik sendiri. Namun ternyata, football hanya mampir karena mimpi Inggris lantas dihancurkan Jerman di semifinal.

Kini seluruh pemain memiliki satu fokus, yakni menaklukkan Kroasia pada semi final Piala Dunia 2018 di Luzhniki Stadium, Moskow, dini hari nanti. Walau Kroasia menyadari Luka Modric dkk merupakan tim amat ber bahaya, punggawa The Three Lions yakin bisa melangkah ke babak puncak.

Bagaimana persiapan Inggris? Strategi apa yang disiapkan untuk mere dam Kroasia? Berikut petikan wawancara dengan gelandang tangguh Ashley Young yang dilakukan di Cronwell Park Hotel Pepino, Saint Petersburg.

Slogan It’s coming home terus kencang terdengar. Apakah di dalam tim kalian seoptimistis ini?

Kami memiliki peluang bagus untuk memenangkan Piala Dunia. Mood kami bagus, semua pemain bersemangat, dan itu suatu hal sangat ber harga. Para pendukung yang datang ke stadion ataupun di Inggris juga menjadi pelecut semangat yang amat besar. Saya yakin dengan tim ini, kami se mua yakin. Skuad Inggris ba nyak dihuni pemain muda brilian. Ini sangat bagus karena kami optimistis sepak bola memiliki masa depan.

Tapi, Kroasia adalah tim yang amat tangguh. Tanggapan Anda?

Ya, mereka luar biasa. Kami menyaksikan semua pertandingan mereka, dan saya yakin mereka juga mempelajari kami. Banyak yang menyebut Luka Modric setiap berbicara soal Kroasia. Modric memang luar biasa, kami harus fokus 100% untuk meladeni pemain seperti dia.

Tapi, Kroasia lebih dari itu. Mereka memiliki banyak sekali pemain hebat di semua lini. Kami menghadapi satu tim, satu tim yang ber bahaya. Mereka sampai ke semifinal bukan tanpa usaha dan kerja keras.

Kroasia lebih siap meng hadapi laga ini karena mereka sudah dua kali melakoni adu penalty dibabak 16 besar (melawan Denmark) dan di perempat final (kontra Rusia). Apakah Inggris meningkatkan latihan set piece?

Persiapan besar dilakukan Inggris. Sebetulnya kami selalu melakukan latihan set piece dan penalti, tapi karena kami belum pernah melaju ke babak berikutnya dengan melalui adu penalti, maka itu tak terlihat. Saya rasa setiap tim di Piala Dunia selalu melakukan latih an ini dan terus meningkatkan persiapan ketika di babak gugur.

Banyak yang menilai lolos nya Inggris kesemifinal cukup mengejutkan. Apa lagi terakhir Inggris merasakan semifinal sudah lama sekali pada Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1996. (Dalam lima Piala Dunia terakhir, langkah ter jauh The Three Lions adalah perempat final yakni pada 2002 di Korea elatan -Jepang dan 2006 di Jerman. Sedangkan pada 2014 di Brasil, Inggris tak mampu maju kebabak gugur). Menurut Anda?

Kami berbicara dengan beberapa pemain yang berlaga 22 tahun lalu (Piala Eropa 1996). Hanya untuk merasakan feel-nya.

Anda ulang tahun kemarin (9 Juli). Apa kado terbaik?

Ke final. Tapi, kami harus konsentrasi dulu melawan Kroasia. Waktu masih menjadi pemain muda, saya bermimpi ingin tampil di Piala Dunia dan itu terwujud. Lalu, dengan tim yang amat percaya diri, ber main dengan high intensity, se mua bersemangat, saya ber mimpi kembali untuk meme nangkan Piala Dunia.

HANNA FARHANA

Laporan Wartawan KORAN SINDO

SAINT PETERSBURG, RUSIA