Edisi 11-07-2018
Cara Berbagai Negara Hargai Prestasi Atlet


Cerita mantan atlet berprestasi yang hidup menyedihkan di masa tua masih menjadi kisah memilukan atlet di Indonesia.

Padahal profesi atlet sejatinya layak disebut sebagai pahlawan olahraga karena kontribusinya mengharumkan nama bangsa dan negara. Tak mengherankan ada banyak negara yang memberi apresiasi dan penghargaan sangat tinggi atas jasa dan prestasi atlet-atletnya.

Berikut sejumlah negara yang memberi apresiasi tinggi kepada atlet dan bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia.

1.Thiago Braz Da Silva

Brasil Pemerintah Brasil memberi gelar pahlawan nasional kepada atlet lompat galah Thiago Braz Da Silva atas prestasinya meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016. Selain gelar pahlawan, Brasil juga memberi gelar kehormatan kepada Silva atas torehan prestasinya itu.

2.Ruben Limardo Venezuela

Pemerintah Venezuela memberi gelar pahlawan nasional kepada atlet anggar Ruben Limardo. Selain diberi gelar pahlawan, dirinya juga diarak keliling Ibu Kota Caracas dibawah pimpinan mendiang Presiden Hugo Chavez. Dirinya merupakan atlet peraih emas bagi Venezuela di Olimpiade 2012 London. Emas Limardo merupakan medali emas kedua bagi negara kaya minyak itu di ajang Olimpiade.

3.Alex Ferguson

Inggris Kerajaan Inggris memberi gelar kehormatan "Sir" kepada mantan pelatih Manchester United (MU) Alex Ferguson atas kontribusinya di dunia sepak bola Inggris Raya selama ini. Dibawah Ferguson, MU menjadi klub yang disegani di dunia. Puncaknya adalah ketika Ferguson membawa MU meraih Treble Winner ( 3 gelar di kompetisi berbeda di musim sama) tahun kompetisi 98/99. ‘Setan Merah’ menjadi tim pertama di Inggris yang bisa menyandingkan 3 gelar juara sekaligus, yaitu liga Champions, liga.

4.Usain Bolt

Jamaika Legenda sprinter, Usain Bolt, mendapat penghargaan khusus dari negaranya Jamaika berupa dibuatnya sebuah patung menyerupai dirinya di Stadion Nasional Kingston, Jamaika yang diresmikan pada 3 Desember 2017. Selain pembuatan patung dirinya, pemerintah Jamaika juga memberi penghargaan tinggi Order of Jamaica pada Oktober 2009. Bahkan pemerintah menunjuk Bolt sebagai duta besar dan pemberian status diplomatik penuh. Bolt tercatat sebagai pemegang rekor pelari tercepat di dunia pada nomor 100m dan 200m. Selain itu ia mencatatkan diri sebagai salah satu Olimpian tersukses dengan mengumpulkan delapan medali emas.

5.Saina Nehwal

India Karena kiprah dan prestasinya di dunia bulutangkis, pemerintah India memberi anugerah penghargaan sangat tinggi kepada atlet bulutangkis putri Saina Nehwal. Pada 2016, Nehwal mendapat penghargaan Padma Bhushan. Ini adalah penghargaan sipil tertinggi nomor tiga di India setelah Bharat Ratna dan Padma Bibhusan. Sebelumnya, Nehwal telah mendapat penghargaan Rajiv Gandhi Khel Ratna dan Arjuna Award. Kedua penghargaan tadi khusus diberikan pada atlet berprestasi. Selama kariernya, Nehwal telah memenangkan lebih dari dua puluh gelar internasional termasuk sepuluh gelar Superseries.

6.Xuan Vinh

Vietnam Xuan Vinh, 41 tahun, merupakan petembak andalan Vietnam. Ia menyabet emas dari nomor 10 meter pistol di Olimpiade Rio 2016. Raihan medali emas ini sudah dinanti lebih dari enam dekade sejak Vietnam kali pertama jadi peserta Olimpiade. Prestasi gemilang Vinh langsung diganjar penghargaan. Petembak yang juga tentara berpangkat Kolonel itu dikabarkan menerima bonus USD100 ribu atau 50 kali lipat dari rata-rata pendapatan warga Vietnam yang berkisar USD2.100.

7.Lee Chong Wei

Malaysia Pemerintah Malaysia memberi gelar kebangsawanan kepada pebulutangkis tunggal putra Lee Chong Wei atas prestasinya selama ini. Gelar prestisius yang diterima legenda hidup bulutangkis Malaysia itu adalah gelar "Panglima Jasa Negara" dari Yang Di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V. Sebelumnya Chong Wei juga menerima titel Datuk dari Kesultanan Penang dan bonus Olimpiade sebesar 500 ribu Ringgit (sekitar Rp1,5 miliar) dan sebuah apartemen.

8.Tim Rugby

Fiji Pemerintah Fiji menetapkan 22 Agustus sebagai hari libur nasional untuk merayakan keberhasilan tim rugby Fiji meraih medali emas Olimpiade 2016 di Rio. Medali emas ini merupakan medali pertama dalam sejarah keikutsertaan negara di Pasifik itu di arena Olimpiade. Dalam final cabang yang untuk pertama kalinya dipertandingkan di Olimpiade itu, Fiji mengalahkan Inggris dengan angka telak 43-7. Bahkan di media sosial muncul desakan agar Pemerintah Fiji memberi kewarganegaraan kepada pelatih rugby Fiji, Ben Ryan atas prestasi di Olimpiade itu. Ben merupakan warga negara Inggris.

9.Joseph Schooling

Singapura Perenang muda asal Singapura, Joseph Schooling, berhasil mencuri perhatian khalayak ramai setelah dirinya mengalahkan perenang dunia sekaligus peroleh medali emas terbanyak sepanjang sejarah, Michael Phelps. Dirinya menjadi penyumbang emas pertama Singapura di ajang Olimpiade Rio 2016. Ketika pulang, Schooling mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah Singapura. Untuk menghargai Schooling, pemerintah akan menunda kewajiban bela negara sampai 2020. Itu dilakukan agar Schooling bisa berkonsentrasi mempersiapkan Olimpiade Tokyo 2020. Sebelumnya Schooling juga mendapat perlakuan sama pada 2013. Sebelumnya, Schooling dibebastugaskan dari bela negara sampai usai Olimpiade Rio. Namun karena ia berhasil mendapatkan emas, maka penundaan tersebut diperpanjang. Atas prestasinya, Schooling berhak atas bonus sebesar hampir Rp10 miliar.

Negara pemberi bonus terbesar atlet peraih emas Olimpiade

Singapura

Negara kaya jiran Indonesia ini memberikan bonus sebesar USD753 ribu atau sekitar Rp9,87 miliar kepada atlet peraih emas Olimpiade. Indonesia Indonesia pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini menjanjikan bonus sebesar USD383 ribu atau Rp5 miliar plus tunjangan pensiun sebesar Rp40 juta per bulan.

Azerbaijan

Negara kecil ini berani mengguyur bonus sebesar USD255 ribu atau Rp3,34 miliar kepada atletnya yang meraih emas. Luar biasa!

Kazakhstan

Kazakhstan akan memberikan bonus sebesar USD230 ribu atau sebesar Rp3 miliar kepada atlet yang meraih emas Olimpiade Rio 2016.

Rusia

Tuan rumah Piala Dunia 2018 ini tidak mau ketinggalan memberikan bonus sebesar USD61 ribu atau sebesar Rp800 juta kepada atlet peraih emas.

Italia

Negeri Pizza itu memberikan bonus peraih emas sebesar USD185 ribu atau Rp2,4 miliar kepada atlet yang meraih emas.

Prancis

Pemerintah Prancis menjanjikan bonus sebesar USD66 ribu atau Rp865 juta kepada setiap atlet yang meraih emas Olimpiade Rio 2016.

Balada pahlawan olahraga nasional yang terlupakan

Amin Ikhsan (Senam)

Mantan pesenam nasional Amin Ikhsan, harus hidup memprihatinkan setelah rumahnya di kawasan Kiaracondong, Kelurahan Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung digusur oleh Pemkot Bandung pada Agustus 2015. Untuk hidup, mantan pesenam yang pernah berada di urutan ke-7 kejuaran Dunia 2003 di Tokyo, Jepang ini harus menjual barang-barang rongsokan.

Anang Ma'ruf (Sepak Bola)

Karena alasan ekonomi, mantan bek kanan Persebaya dan Timnas Indonesia di dekade 1990-an, Anang Ma'ruf menjadi pengendara ojek online GoJek. Saat bergabung dengan timnas, Anang Maruf tercatat pernah mempersembahkan medali perak di ASEAN Games 1997 dan medali perunggu pada ASEAN Games 1999.

Marina Segedi (Pencak Silat)

Mantan atlet pencak silat Marina Segedi mempersembahkan medali emas saat SEA Games di Filipina, 1981. Selepas pensiun menjadi atlet Marina harus berjuang keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dirinya bahkan sempat berprofesi sebagai sopir taksi.

Lenni Haeni (Dayung)

Lenny sempat bekerja sebagai buruh cuci dan kerja serabutan. Lenni pernah menyabet 20 medali untuk Indonesia. Di antaranya di SEA Games Jakarta 1997, ia menyabet 3 medali emas dan 1 medali perak. Sejak menjadi atlet, pendidikan Leni terbengkalai meski sempat dijanjikan kehidupannya dijamin KONI. Dengan bermodalkan ijazah SD dan ijazah Kejar Paket B, Leni cukup kesulitan memperoleh pekerjaan.

Ellias Pical (Tinju)

Pical berhasil menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar Internasional di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, petinju yang gantung sarung pada 1989 ini mulai dilupakan. Bahkan pada 2005 ia sempat dibui selama tujuh bulan karena tertangkap melakukan transaksi narkoba ketika menjadi satpam sebuah tempat hiburan.

Tati Sumirah (Bulutangkis)

Tati Sumirah pada 1975 telah mengharumkan nama bangsa dengan menghantarkan tim bulutangkis putri meraih Piala Uber Indonesia untuk kali pertama. Setelah gantung raket pada 1981 berpuluh-puluh tahun Tati bekerja sebagai seorang kasir di sebuah apotek. Karena kebaikan Rudi Hartono (juara All England delapan kali), kini Tati Sumirah bekerja di perusahaan oli milik Rudi.

Gurnam Singh (Lari)

Di era 1960-an, Gurnam Singh pernah dinobatkan sebagai pelari tercepat Asia yang telah membawa harum nama bangsa. Ironisnya, di usia senjanya, Gurnam hidup terlunta-lunta, bahkan harus menunggu belas kasihan kerabat maupun orang-orang yang mengenalnya. Selain tak memiliki rumah, pria keturunan India ini hanya menggunakan sebuah sepeda tua sebagai kendaraannya.

Suharto (Balap Sepeda)

Suharto adalah atlet balap sepeda nasional asal Surabaya yang berprofesi sebagai tukang becak. Ia pernah merebut medali emas pada SEA Games 1979 di Malaysia untuk nomor “Team Time Trial” jarak 100 kilometer, bersama tiga rekannya. Suharto juga sempat mewakili Indonesia di ajang Tour d'Thailand pada 1977 silam.

Hasan Lobubun (Tinju)

Hasan Lobubun adalah mantan petinju juara nasional kelas bantam junior di 1987. Kini ia harus menjalani hidup yang sangat tragis, mencari rezeki dengan mengais-ngais di tempat sampah dan tumpukan barang-barang bekas di Jakarta.

Jatmiko (Angkat Besi)

Mantan juara lifter nasional yang menjadi buruh pabrik. Selepas pensiun dari atlet, Djatmiko bekerja sebagai kuli di pabrik bambu, berjarak sekitar 50 meter dari Terminal Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang.