Edisi 11-07-2018
Bola Asyik, Adil


Piala dunia Rusia 2018 yang sudah memasuki babak semifinal berlangsung gegap gempita. Jutaan pasang mata menyaksikan pertandingan tim elite dunia langsung atau lewat siaran televisi.

Sungguh rugi bila tontonan berskala dunia ini tidak diambil hikmah pelajaran untuk pendewasaan untuk perse pak bolaan nasional. Kita perlu melihatnya dengan mata kepala dan sekaligus mata hati setiap kejadian, utamanya yang unik-unik. Dari padanya, terpancar cahaya, ilmu, nutrisi, dan semangat perjuangan yang tertanam ke jiwa bangsa.

Realitas rohaniah ini perlu diolah sedemikian rupa agar tertransformasikan sebagai karakter bangsa. Bila sikap bi jak demikian dapat dikonkretkan, saya yakin, persepakbolaan nasional semakin maju, ber kualitas, dan berkeadilan. Renungkanlah beberapa argumentasi berikut.

Pertama, sepak bola itu permainan. Mengasyikkan. Semua orang yang pernah bermain sepak bola tentu merasakan keasyikannya.

Keasyikan itu perlu terus dijaga, dipertahankan, syu kur dikembangkan. Keasyikan itu wujud dari perilaku hukum insan-insan sepak bola. Bangsa yang sehat roha niah nya, pasti mampu berbuat lebih banyak, lebih baik, dan lebih maksimal dalam memajukan persepakbolaannya. Pada gilirannya, jiwa bangsa akan tertransformasikan dalam bentuk perilaku hukum alamiah, ramah, dan santun. Tidak ada kekerasan, bentrok, kolusi, kecurangan. Kita amat rindu tampilnya perilaku hukum insan-insan sepak bola secara alamiah itu.

Kedua, objek permainannya ada lah bola, strategi, dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Semua tim harus menggunakan daya, kemampuan, dan kecerdasan untuk memaksimalkan potensi objek-objek tersebut.

Kuncinya pada profesionalitas yang didasarkan moralitas kebangsaan dan dijauhkan dari intervensi politik. Terbukti, pada bangsa yang serius mengelola sepak bola secara kontinu dan intensif, pasti terbentuk tim yang tangguh.

Ketiga, dalam sepak bola ada aturan main (hukum) yang berlaku universal. Semua orang yang terlibat, harus paham atur an main itu. Aturan main te lah dibuat sedemikian bagus, te rus dievaluasi, serta dikem bangkan.

Terakhir, ada Video Assistant Referees (VAR). Aturan ini mulai diberlakukan pada Piala Konfederasi 2017. Pada Piala Dunia 2018, penggunaannya sangat nyata. Dengan VAR, maka kejadian-kejadian kontroversial, (misal soal offside, hands ball di kotak penalti), dapat diselesaikan dengan cepat dan tuntas. Sejurus dengan perkembangan aturan main persepak bolaan, maka di ranah nasional, aturan-aturan main itu ha rus dipahami, ditaati, dan ditegakkan demi terwujudnya keadilan sosial dan kebahagiaan bangsa secara keseluruhan.

Keempat, dalam sepak bola terlibat banyak orang, baik di da lam maupun di luar lapangan. Ada manajer, pelatih, pemain, suporter, dan lain-lain. Semuanya ikut menentukan kualitas permainan.

Kalahnya tim Argentina bukan semata-mata bu ruknya penampilan Lionel Messi. Pun pula kalahnya tim Por tugal bukan karena kesalahan Ronaldo. Sepak bola itu permainan tim, perjuangan seluruh komponen bangsa. Faktor mentalitas, menjadi penentu utama kalah atau menangnya sebuah tim. Fundamental persepakbolaan terletak pada karakter, perilaku, dan pandangan hidup insan-insan persepakbolaan negara masing-masing.

Kelima, sepak bola merupakan perpaduan aktivitas fisik dan aktivitas rohaniah. Sehebat apa pun usaha-usaha telah dilakukan, belumlah jaminan bahwa tim itu pasti sukses. Sering dijumpai hal-hal tak terduga, irasional.

Ada pula nasib sial. Maka, keterhubungan dengan kekuatan suprarasional, perlu di jalin sepanjang waktu. Para pe main khusyuk berdoa sebelum pertandingan dimulai. Pemain dan pelatih bersujud syukur selepas mencetak gol. Doa itu kekuatan. Doa itu aktivitas rohaniah yang ilmiah. Doa dan syukur menjadi penyempurna usaha lahiriah.

Keenam, apa pun hasil akhirnya -kalah, seri, atau menang- tiada lain merupakan resultant dari usaha, doa, dan syukur, sekaligus wujud progresivitas persepakbolaan modern.

Hasil akhir adalah wujud keadil an sosial bagi semesta. Skor berapa pun, merupakan propor sionalitas dari akumulasi pen dayagunaan potensi-potensi bangsa dan aktivitas jiwaraga secara terpadu. Dari beberapa argumentasi tersebut, kiranya dapat di pahami bahwa pengelolaan sepak bola –di dalam dan di luar lapang an, sebelum dan pada saat pertandingan- perlu dilakukan secara cerdas, krea tif, terpadu, dan kom pak.

Kekompakannya dapat diiba rat kan sebagai pa sukan yang mau berperang. Patuh pada komando, militan, dan rela berkorban, demi kejayaan negeri. Pada Piala Dunia 2018, Jepang tampil spektakuler, impresif, dan sportif. Suporternya disanjung bangsa lain karena santun, mampu menjaga kebersihan, mengedepankan moralitas sosial-kebangsaannya.

Ini layak dijadikan inspirasi pembinaan persepakbolaan nasional. Pada 1980-an, PSSI mampu menga lah kan kesebelasan Jepang. Jepang kala itu masih terbelakang perihal persepakbolaan.

Kini, persepakbolaan Jepang bang kit. Mereka bersepak bola da lam keterpaduan antara kekuatan fisik, jiwa, dan sema ngat kebangsaan. Persepakbolaan Jepang sarat dengan nilai kebangsaan, nilai perjuangan, dan nilai kemuliaan. Mereka sadar bahwa bangsa Jepang sejajar de ngan bangsa lain, maka persepakbolaan Jepang pun diya ki ni pasti bisa menang atas kesebelasan negara-negara Ero pa atau Amerika Latin.

Mereka te lah mampu membuk ti kan nya. Tim Nasional PSSI U-19 kini sedang berlaga di Grup A Piala AFF 2018. Di dalamnya ber tabur bibit-bibit unggul pesepak bola nasional. Bibit-bibit itu per lu dirawat, disiram, dipupuk, agar berkembang menjadi pesepak bola tingkat internasio nal. Tidak apa, untuk sementara kalah dari Thailand.

Sudah proporsional, fair , dan adil. Kali lain, Indonesia mesti unggul. Masa depan persepakbolaan nasional akan cerah bila dikelola secara holistik. Seluruh potensi jiwa-raga, lokal-nasional, pu satdaerah, semua level generasi, perlu digali dan di transformasikan sebagai kekuatan nasional. Persepakbolaan dunia di pelajari, dia jarkan, dan di prak tikkan. Jayalah sepak bola Indonesia.

SUDJITO ATMOREDJO

Pencinta Sepak Bola, Guru Besar Ilmu Hukum UGM

Berita Lainnya...