Edisi 11-07-2018
Benih Hibrida Dorong Produktivitas


JAKARTA - Benih hibrida mendorong produktivitas tanaman. Karena itu, petani perlu menggunakan benih hibrida ditengah minimnya lahan pertanian.

Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Yuana Leksana mengungkapkan, produktivitas jagung meningkat, salah satu kontribusi uta ma adalah peng gunaan teknologi hibrida. Adapun produktivitas adalah parameter atau refleksi dari ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemudian berlanjut men dorong keterlibatan sektor swasta da lam industri benih. “Keterlibatan industri benih ber dampak positif pada rangkaian proses yang sistematis mu lai dari kebutuhan pasar, penelitian, produksi benih, pemasaran, hingga pendampingan kon sumen,” kata Yuana dalam sebuah diskusi yang diseleng garakan Forum Wartawan Pertanian di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (9/7).

Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), dalam tiga tahun belakangan produksi padi dan jagung terus meningkat. Namun, dia menilai, angka produksi jagung masih dapat digenjot. Di sisi lain, dia menyebutkan, varietas padi ciherang yang di lepas pada 2000, masih mendominasi 30,44% luas tanam padi nasional.

Kementan telah ba nyak melepas varietas padi yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Misalnya varietas padi mekongga dan inpari yang ditanam dalam skala luas. Untuk itu, dia mendorong peng gunaan benih padi hibrida. Tek nologi sudah diperkenalkan pa da 2001 lewat pelepasan varietas dan diseminasi teknologi kaji terap, baik oleh Kementan maupun swasta.

“Hibrida su dah terbukti pada jagung karena sekitar 70% areal tanam sudah menggunakan hibrida,” ungkapnya. Dia menyebutkan, produktivitas padi hibrida lebih tinggi sekitar 20% sampai 30% ketimbang benih biasa. Dalam kesempatan yang sama, Ratno Soetjiptadie selaku Senior Expatriate Tech-cooperation Aspac FAO mengatakan, il mu dan teknologi petani Indonesia perlu ditingkatkan.

Sebab, selama ini sentuhan teknologi petani masih rendah sehingga produktivitas stagnan. Dia mencontohkan, petani ti dak bisa mengukur Ph tanah atau obat-obatan apa saja yang ti dak boleh digunakan. Kemudian, petani tidak bisa memilih benih unggul.

sudarsono


Berita Lainnya...