Edisi 11-07-2018
Imigran di Semifinal


MOSKOW- Perilaku rasial sudah sepatutnya dihilangkan dari sepak bola. Pasalnya, olahraga mengolah si kulit bundar itu sudah menjadi kecintaan masyarakat di seluruh penjuru bumi.

Itu terlihat saat Piala Dunia 2018. Jutaan orang hadir di Rusia untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Walau sudah banyak yang tersisih, animo mereka untuk menikmati turnamen sepak bola sejagat itu tetap tinggi. Bahkan, sekali pun saat ini yang tersisa tinggal tim Eropa. Piala Dunia 2018 sudah memasuki semifinal yang diikuti Prancis, Belgia, Kroasia, dan Inggris. Namun, itu tidak membuat pencinta sepak bola berbon - dong-bondong meninggalkan Rusia. Mereka tetap antusias hadir ke stadi - on, khususnya untuk menyaksikan duel Inggris kontra Rusia di Luzhniki Stadium, Moskow, dini hari nanti.

Bagi banyak orang, partai babak 4 besar bukan sekadar pertemuan sesama tim Eropa. Tapi, itu merupakan pembuktian kesetaraan antaretnis. Pasalnya, cukup banyak pemain dari empat semifinalis itu yang berbeda warna kulit, golongan, atau agama. Persamaan antara skuad Prancis, Belgia, Kroasia, dan Inggris adalah terdapat pemain yang bisa dianggap keturunan imigran. Itu membuat mereka yang tampil di semifinal mendapat sebutan Laskar Pelangi. Meski untuk pertama kali lagi sejak 1982 tidak ada lagi wakil Afrika di babak gugur Piala Dunia, warga non- Eropa tetap hadir di Rusia. Karena, mereka merasa masih punya “wakil” yang bisa diberi dukungan. Kylian Mbappe, misalnya.

Bomber muda andalan Prancis itu lahir di Paris. Tapi, dia dianggap bisa mewakili Benua Afrika lantaran ayahnya berasal dari Kamerun dan ibunya berdarah Aljazair. Paul Pogba dan Nabil Fekir juga punya latar belakang keturunan Afrika. Belgia juga memiliki pemain yang keturunan dari Benua Hitam seperti Romelu Lukaku. Bomber Manchester United itu punya orang tua yang ber - asal dari Kongo. Bahkan, nama leng - kapnya mengandung unsur Afrika, yakni Romelu Menama Lukaku Bolingoli.

“Ketika sega - lanya berjalan lancar, surat kabar me nye - but saya Romelu Lukaku, striker Belgia. Tapi, ketika jika tidak berjalan mulus, mereka menyebut saya Romelu Lukaku, penyerang Belgia keturunan Kongo,” ucap Luka - ku, dilansir Skysport . Menurut statistik, dari 23 pemain yang dimiliki Prancis maupun Belgia, 50% di antaranya punya darah Afrika. Artinya, tim asuhan Didier Des - champs maupun Roberto Martinez itu tidak sepenuhnya murni keturunan Eropa. Sama halnya dengan Inggris dan Kroasia yang akan berduel dini hari nanti. Keduanya juga membawa pe - main yang berasal dari Afrika.

The Three Lions punya Kyle Walker, Danny Rose, Jesse Lingard, dan Raheem Sterling. Kemudian Danny Welbeck, Fabian Delph, Ashley Young, Marcus Rash - ford, Dele Alli, serta Ruben Loftus- Cheek serta Trent Alexander-Arnold. Walker dikabarkan punya ayah yang lahir di Jamaika. Bila ditelisik lebih jauh, personel Tiga Singa yang berkulit putih ber jum - lah 12 orang, yakni Jordan Pickford, Eric Dier, John Stones, Harry Maguire, Jordan Henderson, Harry Kane, Ja mie Vardy, Kieran Trippier, Jack But land, Gary Cahill, Phil Jones, dan Nick Pope. Menurut data, hanya Sterling yang lahir di luar Inggris, yakni di Kingston, Jamaika. Meski demikian, 48% pemain Inggris bisa dianggap keturunan imigran.

“Di Inggris, kami menghabiskan waktu sedikit lebih banyak untuk mencari identitas mo - dern kami. Tapi, tentu segala sesuatunya akan ditentukan dari hasil akhir di sepak bola,” ucap Sterling. Sementara Kroasia, meski tidak sebanyak Prancis, Belgia, dan Inggris, tetap punya pemain yang berasa dari keturunan Afrika. Ada juga yang dulunya imigran dari negara non- Eropa maupun Afrika. Itu sebabnya, partai semifinal Pial Dunia 2018 disebut sebagai panggung Laskar Pelangi.

M mirza