Edisi 12-07-2018
Enam Ruas Tol Dalam Kota Dikebut


JAKARTA - Proyek pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota yang sempat mangkrak kembali dikebut. Pemprov DKI memilih melanjutkan proyek yang sudah digagas sejak 2010 di era Gubernur Fauzi Bowo tersebut untuk me mas tikan transportasi Jakarta ke depan bisa lebih lancar.

Berdasarkan pengamatan, pengerjaan jalan tol dalam kota saat ini berada di Jalan Boulevard Raya, Kelapa Ga ding me nuju ke Pulo Gebang melintasi Jalan Pegangsaan Dua- Jalan Raya Bekasi menuju Pulo Gebang. Pengerjaan di tengah me dian jalan dipagari pembatas seng. Jalur yang umum nya tersedia dua-tiga jalur kini hanya bi sa dilintasi satu jalur.

Kemacetan pun tak terhindarkan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menu tur kan, proyek seksi A (Kelapa Gading-Pulo Gebang) merupakan bagian dari tahap I pembangunan enam ruas tol da lam kota (Semanan-Pulo Gebang). Dia optimistis seksi A ini bisa diselesaikan sesuai dengan jadwal dan pertengahan tahun depan sudah bisa commercial operation.

“Tol ini dampaknya sangat luar biasa untuk mengurai kemacetan dari barat ketimur. Apa lagi dibagian jalan tol tersebut terdapat jalur bus Trans - Jakarta dan titik simpul perhentian moda transportasi lain seperti mass rapid transit (MRT) dan ligh rail transit (LRT). Adanya jalan tol ruas Semanan-Pulo Gebang ini akan men jadi urat nadi barat ketimur,” kata Sandiaga seusai mengunjungi lokasi proyek seksi A di Kelapa Gading kemarin.

Sandiaga optimistis ketiga sek si pengerjaan fase I bisa rampung dan dioperasikan pada 2021. Adapun keseluruhan enam ruas jalan tol dalam kota akan rampung dan beroperasi pa da 2023. Dia memastikan akan mendukung sepenuhnya agar target tersebut dapat berjalan lancar.

Dia pun memastikan, enam ruas jalan tol dalam kota menghubungkan moda-moda transportasi yang bersinggungan dengan transit oriented development (TOD) sehingga keberadaan enam ruas tol dalam kota tidak semata-mata memuliakan pengendara pribadi. “Kita bantu bangun interkoneksinya. Hal paling penting untuk konversi masyarakat yang meng gunakan kendaraan priba di kekendaraan umum ini harus dipermudah dengan lancar,” ungkapnya.

Direktur Utama PT Jakarta Toll Road Development (PT JTD) Frans Sunito menuturkan, pengerjaan seksi A Kelapa Gading-Pulo Gebang memang di jadwalkan sejak 2016 lalu, tetapi baru dilakukan pada 2017. Itu pun hanya berupa fondasi. Sementara saat ini pem bangun an digenjot dan sudah dalam tahap pembuatan tiang dan kepala tiangnya atau pier dan pier head -nya. Persentasenya baru sekitar 16%.

“Kalau pier dan pierhead selesai semua, baru pasang balok atau box grider yang direncanakan pada September nanti. Kalau sudah itu, pengerjaan akan cepat. Seperti pab rik saja di lapangan. Pakai launching girder, ada 5 pasang peralatan yang bekerja secara serentak nanti,” ungkapnya. Frans optimistis seksi A dapat beroperasi pada pertengahan 2019 dan disusul oleh seksi B yang kini dalam proses lelang dengan jadwal pengerjaan mulai Oktober 2018 men da tang.

Ada pun seksi C baru akan ditender pada awal 2019 dan m ulai konstruksinya sekitar Maret-April 2019. “Ma singmasing seksi, tapi dia over lap kan, dia setengah paralel setengah overlap.Untuk sekarang on track on schedule dan tidak ada kendala,” ungkapnya. Mengenai integrasi ruas tol dengan moda transportasi umum, Frans mengaku belum membahasnya secara detail.

Na mun pada prinsipnya, jalan tol dalam kota ini akan menyediakan shelter bus dengan jarak yang berbeda, tentunya dari yang ada biasanya sekitar 1 km. “Jadi untuk orang turun-naik. Memang jarak antara shelter tidak sedekat seperti yang di jalan biasa. Di jalan biasakan kurang 1 km, kalau ini mungkin ada 3 km. Jadi untuk titik-titik TOD, jadi untuk transit,” ungkapnya.

Anggota DPR Komisi V DPR Mu hidin M. Said menyambut baik rencana pemerintah menghidupkan kembali ruas tol dalam kota yang sudah lama da lam perencanaan. “Tentu yang pertama bisa sedikit meng urai kemacetan di Kota Jakarta. Dan ja ngan lupa pembangunan jalan tol pada prinsipnya akan menghidupkan suatu kawasan,” ujarnya.

Untuk diketahui, pengerjaan proyek 6 ruas tol dalam kota DKI Jakarta yang kembali dimulai sejak Februari 2017 lalu akan dibuat melayang. Secara keseluruhan, keenam ruas tol ter sebut dengan total panjang 69,77 km diperkirakan baru akan rampung pada tahun 2022 mendatang.

PT JTD yang menggarap proyek memiliki konsesi selama 45 tahun. Adapun pengerjaan keseluruhan 6 ruas tol akan dimulai sebelum 2019. Pada tahap awal, pengerjaan dilakukan pada ruas Semanan-Sunter-Pulo Ga dung yang ke mudian dibagi lagi pengerjaan nya dalam beberapa seksi.

Pekerjaan tahap II dan III juga akan dimulai secara paralel dengan berlangsung nya pekerjaan pada tahap I. Keenam ruas tol dimaksud me liputi ruas Semanan-Sun ter sepanjang 20,23 km; Sunter- Pulo Gadung (9,44 km); Duri Pulo-Kampung Melayu (12,65 km); Kemayoran-Kampung Melayu (9,60 km); Ulujami- Tanah Abang ( 8,70 km); Pa sar Minggu-Casablanca (9,16 km).

Sementara itu pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengatakan penam bahan ruas jalan memang salah satu dari pola transportasi makro yang mampu mengurai kemacetan. Namun, dengan kondisi kemacetan seperti ini, Pemprov DKI seharusnya lebih fokus pada pengembangan trans portasi mas sal seperti massrapid transit (MRT)-bus rapid transit (BRT), dan light rail transit (LRT) yang saling terin tegrasi dengan mitra daerahnya.

“Pembangunan jalan tol atau layang justru kontra produktif dengan pengembangan trans portasi massal. Di satu sisi memfasilitasi kemudahan bagi kendaraan pribadi, di sisi lain mendorong warga untuk ber alih ke transportasi massal,” ungkapnya. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, mengakui pembangunan ruas tol dalam kota sangat membantu pergerakan kepadatan ken daraan di Kota Jakarta.

Meski begitu pembangunan tiga ruas tol dalam kota tersebut harus di imbangi dengan pem ba ngunan transportasi umum massal lainnya. “Pemerintah jangan hanya fo kus pada pembangunan fisik jalan tol. Mereka hendaknya mempertim bangkan transportasi massal yang sudah men jadi kebutuhan masyarakat perkotaan seperti Jakarta,” ujarnya.

bima setiadi/ ichsan amin