Edisi 12-07-2018
Asa Deschamps Kejar Der Kaiser


Hingga kini tidak ada yang me ngalahkan catatan emas Franz Beckenbauer di Piala Dunia. Dia masih men jadi satu-satunya orang di muka bumi yang mampu merasakan manisnya gelar juara dunia sebagai kapten tim dan pelatih.

Kini Didier Des champs mem bangun asa untuk menyamai pres tasi Der Kaiser - julukan Becken - bauer. Senyum dan tawa tak pudar dari wa jah Didier Deschamps. Sang nakhoda Prancis itu ju ga terus memeluk semua pemainnya seusai tim Ayam Jantan-julukan Prancis–mematuk Belgia di semifinal Piala Du nia 2018 di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg, dini hari kemarin.

Sukses tersebut membuatnya melangkah ke final pesta sepak bola terakbar. Les Bleus - julukan lain Prancis–akan bersua dengan pemenang laga Kroa sia kon tra Ing gris yang saat berita ini di turunkan masih berlangsung di Luzhniki Stadium, Moskow. Tampilnya Prancis di final pada 15 Juli mendatang membuka kans untuk Deschamps se bagai orang kedua yang memeluk trofi juara dunia sebagai kapten tim dan nakhoda.

Des champs merupakan kapten tim Ayam Jantan saat Prancis berjaya di rumah sendiri pada 1998. “Ba nyak momen bahagia dalam karier saya, tapi mengangkat trofi dan menjadi juara ada lah yang terbaik,” ujar pria berusia 49 tahun itu. Rekor Der Kaiser sudah bertahan 28 tahun. Beckenbauer membawa Jerman merebut Piala Dunia 1990 di Italia setelah mengalahkan Argentina 1-0 di final.

Sebagai kapten Becken bauer mengangkat trofi pa da edisi 1974 seusai menjinak kan Belanda yang dipimpin Jo han Cruyff. Der Kaiser yang berposisi sebagai bek sukses membuat Cruyff tak berkutik dan total football Belanda tak berkembang. Selain Beckenbauer, Mario Zagallo juga pernah merasakan manisnya juara dunia sebagai pemain-pelatih.

Dia bahkan orang pertama yang merebut titel juara dunia dengan status berbeda. Dia melakukannya pa da 1958 dan 1962 sebagai peng gawa dan 1970 sebagaina kho da Selecao dan 1994 sebagai asisten pelatih. Namun, Zagal lo tidak menjabat sebagai kapten kala Brasil berjaya diedisi 1958 dan 1962. Dan, kiprah Les Bleus di Rusia dikaitkan dengan sukses 20 tahun lalu.

Hingga sekarang generasi emas yang meng ha dir kan prestasi teragung bagi sepak bola Prancis tersebut ada lah panutan, pelecut semangat bagi Griezmann dkk. Saat itu dengan tangan dingin Aime Jacquet, peng gawa seperti Des c hamps, Zinedine Zidane, Marcel Desailly, Bixente Lizarazu, Lilian Thuram, Fabien Barthez, Emmanuel Petit, dan Youri Djorkaeff dipoles menjadi kekuatan menakutkan.

Di final, Brasil digasak 0-3. “Itu adalah masa yang sangat indah. Hingga kini publik masih membicarakannya kala membahas sepak bola Prancis,” ungkap Deschamps pada konferensi pers memukul jatuh The Red Devils -julukan Belgia–dengan skor1-0. Bek tangguh Les Bleus Raphael Varane mengungkapkan, tidak ada pelecut semangat yang lebih efektif di bandingkan keberhasilan Les Bleus mera jai dunia sepak bola pada 1998.

“Para pemain sangat bersemangat jika membicarakan hal ini. Tentu saja kami harus me nyamai prestasi terdahulu kami sehingga menjadi kami yang kemudian dibicarakan,” ung kapnya. “Semangat itu selalu ada dalam diri kami setiap hari, di pertandingan, atau saat la tihan,” imbuhnya.

Namun, kini para penggawa tidak ingin bicara dulu tentang kans berjaya di Luzhniki Stadium. Mereka berkonsentrasi un tuk mempersiapkan berlaga di final. “Kami tahu apa tujuan kami di sini. Dan, tentu saja akan sangat menyenangkan bila kami bisa mewujudkannya. Kami berjuang keras dan kami berhak mendapatkan tempat ini (final),” ujar kartu as Les Bleus Antione Griezmann.

HANNA FARHANA

Laporan Wartawan KORAN SINDO

MOSKOW, RUSIA