Edisi 12-07-2018
Polri Diminta Buang Budaya Koruptif


JAKARTA–Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta segenap anggota Polri membuang budaya koruptif saat bekerja.

Hal ini dilakukan agar kepercayaan terhadap kinerja Polri terus meningkat. Demikian salah satu instruksi Presiden saat memimpin upacara HUT ke-72 Bayangkara di Istora Senayan, Jakarta, kemarin.

”Saya instruksikan seluruh jajaran Kepolisian RI untuk terus tingkatkan kinerjanya, yaitu membuang budaya koruptif, hindari tindakan yang berlebihan, dan tingkatkan kepercayaan publik,” kata Jokowi.

Selanjutnya, Jokowi berpesan agar Polri melakukan perbaikan terhadap kelemahankelemahan yang ada. Terutama dalam penegakan hukum, harus dilakukan secara profesional, transparan, dan berkeadilan. Jokowi juga meminta Polri untuk mengedepankan langkah- langkah pencegahan.

Polri harus melakukan tindakan humanis dalam menangani segala permasalahan sosial yang timbul. ”Kemudian tingkatkan sinergi, koordinasi, dan komunikasi dengan TNI dan semua elemen pemerintah, dan masyarakat dalam menjalankan tugas,” ungkapnya.

Jokowi meyakini dengan ikhtiar melakukan perbaikanperbaikan terhadap hal di atas maka Polri akan menjadi institusi yang semakin dipercaya rakyat. Kepercayaan masyarakat akan meningkat kepada Polri sebagai penjaga stabilitas keamanan, penegak hukum serta sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

”Polri juga harus terus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman kejahatan terorisme. Negara-negara maju pun sedang menghadapi ancaman yang sama,” terang mantan gubernur DKI Jakarta ini. Jokowi lalu menyinggung adanya beberapa kali aksi terorisme yang terjadi di Tanah Air.

”Di dalam negeri kita tidak pernah lupakan tindakan biadab dari para pelaku bom bunuh diri yang tidak hanya memakan korban jiwa masyarakat, tetapi juga menjadikan aparat kepolisian sebagai target aksi teror,” kata Kepala Negara. Ke depan, kata Jokowi, Polri akan menghadapi tantangan dan tugas yang semakin berat dan kompleks.

Tuntutan dan harapan rakyat terhadap Polri semakin meningkat. Terlebih lagi dunia sekarang ini semakin terus berkembang dan bergerak yang membawa ancaman-ancaman baru terhadap situasi keamanan. ”Di era digital seperti sekarang ini, Polri harus mampu mengantisipasi perkembangan tindakan kejahatan yang semakin beragam yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi,” ucap mantan wali kota Solo ini.

Jokowi mengingatkan agar Polri mematangkan persiapan diri untuk mengawal jalannya agenda besar pemerintah seperti Asian Games dan pertemuan IMF-Wolrd Bank di Bali. Apalagi, kata dia, dua agenda internasional tersebut akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

”Agenda internasional seperti Asian Games 18 dan Asian Paragames dan pertemuan tahunan IMF-Bank dunia perlu langkah antisipatif,” tambahnya. Di hadapan Presiden, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memamerkan keberhasilan program internal Polri yakni Promoter (Profesional, Modern dan Terpercaya).

Menurut Tito, program tersebut telah membuat internal Korps Bayangkara semakin mendapatkan kepercayaan di mata masyarakat. ”Selama dua tahun implementasi program Promoter telah menunjukkan hasil yang baik,” klaim Tito dalam sambutannya.

Tito menuturkan, program Promoter difokuskan pada tiga kebijakan utama yang sederhana, yaitu peningkatan kinerja, perbaikan kultur, dan manajemen media. Peningkatan kinerja, sambung Tito, diwujudkan melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, profesionalisme dalam penegakan hukum, dan pemeliharaan stabilitas keamanan dan ketertiban nasional (kamtibmas) secara optimal.

Perbaikan kultur diwujudkan dengan menekan budaya koruptif, menghilangkan arogansi kekuasaan, dan menekan kekerasan eksesif. Lalu, manajemen media dilaksanakan pada media konvensional dan media sosial dengan mengangkat prestasi-prestasi Polri dan menetralisasi berita negatif, termasuk hoax.

”Program Promoter dibangun melalui pendekatan profesionalisme dan modernisasi guna meraih kepercayaan publik,” paparnya. Selama dua tahun penerapannya, Tito mengklaim bahwa Promoter telah membuahkan hasil dan tren positif di masyarakat. Menurutnya, Polri sempat menjadi lembaga yang paling tidak dipercaya publik.

Oleh sebab itu, dia meminta kepada jajarannya langsung melakukan perbaikan internal. Kini Polri, kata Tito, berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga, telah berada pada tiga besar lembaga dengan kepercayaan publik terbaik. ”Implementasi program Promoter telah menunjukkan hasil yang baik.

Public trust terhadap institusi Polri terus meningkat,” tutup Tito. Di akhir acara, Presiden Jokowi menganugerahkan Bintang Bhayangkara Nararya kepada empat anggota Polri. Bintang jasa tersebut diberikan oleh pemerintah kepada polisi atas pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Penerima bintang tersebut adalah Brigjen Pol Teddy Minahasa, Kombes Pol Setiawan Heri Karyadi, Kombes Pol Suhendri, dan AKBP Andarias Hisage. ”Saya yakin apa yang dilakukan setiap anggota Polri wujud pengabdian terbaik kepada rakyat, bangsa, dan negara. Seluruh anggota Polri di manapun melakukan tugas, terhormat dan membanggakan sebagai bayangkara,” tutur Jokowi.

m yamin/sindonews