Edisi 12-07-2018
Soliditas Tim


Hiruk-pikuk Piala Dunia masih terus ber jalan hingga ha ri ini. Secara mengejutkan banyak pemain kategori terbaik dunia saat ini seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, terakhir Neymar, terpaksa harus angkat koper lebih awal.

Mohamed Salah yang musim lalu begitu bersinar pun nyata-nyatanya sudah tersingkir, bahkan saat baru men ja lani dua laga. Meskipun berjalan di luar dugaan, kalau kita perhatikan lebih men dalam ada benar nya juga mengapa pesona ke bintangan seseorang tidak cukup menyelamatkan sebuah negara (tim sepak bola) dari kegagalan.

Kita harus memahami terlebih dulu bahwa sepak bola adalah olahraga tim, yang merupakan gabungan dari 11 pemain di la pangan, bukan penonjolan salah satu anggotanya. Untuk memenangkan suatu pertandingan, diperlukan tim solid yang mampu membangun kebersamaan dan pemahaman yang sama di antara pemain, pela tih, dan pengelola sepak bola. Hal itu lah yang bisa di pahami dari pengalaman beberapa negara yang telah menjadi world champion. Pada Piala Dunia empat tahun lalu, Jerman sudah membuktikan bahwa kesebelasan me reka mampu menjadi yang terbaik, kendati tidak ada pemain terbaik dunia yang bermain untuk tim mereka.

Tetapi me reka memiliki modal ko lek - ti vi tas yang berasal dari para pe main dengan kualitas me ra - ta dan hampir semuanya be r - main di liga papan atas. Tetapi, ti dak ada individu yang betulbe tul tam pak paling menonjol la yak nya peraih Ballon díOr (ge lar pe main sepak bola ter - baik Eropa), bah kan di laga fi - nal mereka ber hasil me nga lah - kan Argentina yang di da lam - nya diperkuat Lio n el Messi.

Fenomena seperti ini yang ke mudian mengilhami penulis un tuk berpikiran sederhana. Ada kalanya untuk mem per - oleh sesuatu yang besar di bu - tuh kan sumber daya yang kuat dan soliditas yang erat. Sebuah ru mah megah pun jika hanya meng andalkan satu pilar besar un tuk menahan semua te kan - an lam bat laun akan segera run tuh ju ga.

Termasuk di da - lam nya te rang kum pesan te n - tang cara un tuk me me nan g - kan pe r saing an ekonomi. Saat ini perekonomian kita meng hadapi turbulensi eko no - mi dunia yang sangat dah syat. Mun culnya perang da gang an - ta ra China dan Ame ri ka Serikat (AS) tentu akan se ge ra memicu dam pak domino ter hadap st a - bi li tas ekonomi dan sosial yang sa ngat besar ba gi negaranegara lain.

Khu sus nya, ter ha - dap ne ga ra yang saat ini tengah me lakukan trad ing dengan Chi na dan AS. Jum lahnya bisa ja di sa ngat b a nyak karena ke - dua ne ga ra se dang menjadi ku - tub per da gang a n dunia–dan be berapa ne gara sudah ada yang meng alami “batuk”.

Ada ju ga yang bah kan sudah mulai “mun tah” se perti Turki yang meng alami pe nurunan mata uang n ya pa ling parah. Kurs rupiah secara perlahan na mun pasti sudah tampak me - nu ju keseimbangan yang baru. Di awal Juni 2018 kurs kita, ber - da sarkan data Jakarta In ter - bank Spot Dollar Rate (Jisdor), ma sih tampak lumayan sehat, ber ada di angka Rp13.872 per do lar AS (4/6).

Berikutnya, pa - da 10 Juli kemarin, sudah me le - mah menjadi Rp14.326 per do - lar AS. Kendati Bank Indonesia (BI) sudah berupaya menahan tur bulensi ekonomi dunia de - ngan meningkatkan tingkat bu - nga acuan (7 days repo rate)sam - pai 3 kali, hasilnya pun belum se - perti yang diharapkan.

Penulis me yakini, bisa jadi setelah ini BI akan kembali meningkatkan 7DRR sembari menunggu ba - gai mana The Fed (Bank Sentral AS) akan menciptakan akrobat ke bijakan moneter selanjutnya. Sebagai informasi, men je - lang Lebaran kemarin The Fed su dah menaikkan Fed Fund Rate (FFR) untuk yang kedua ka - li nya pada tahun ini, dari 1,75% men jadi 2%.

Atas ke naik an ter - se but BI kemudian ber usa ha men g imbangi dengan me ning - kat kan 7DRR dari 4,75% men ja - di 5,25%. Tuju an nya agar para pe modal me na han lebih lama uang nya di Indonesia. Beberapa bankir kemudian mem prediksi, jika The Fed akan me ningkatkan kembali FFRnya hingga dua kali lagi di sisa ta - hun 2018, maka BI yang se men - ta ra ini secara agregat sudah me ningkatkan suku bunga acu - an nya hingga 1%, akan terus mem b engkak menjadi total 2%.

BI tampaknya cukup pede, per caya diri, karena di awal ge - b ra k annya merasa cukup efe k - tif un tuk meredam ke me ro - sot an ni lai rupiah. Tetapi, de - ngan ber ja lannya waktu itu tam paknya mu l ai butuh pe - nye garan. Ban tal an per eko no - mi an domestik ki t a belum mam pu bertahan, kh u susnya yang berasal dari ne ra ca per da - gang an ekspor-im por.

Sa lah satu penyebabnya ka re na tim eko nomi kita masih di ra sa kan be lum solid. Bauran kebijakan be lum tampak bekerja sa ma se cara simultan. Hal yang pa - ling tam pak justru dari pe me - rin t ah yang dianggap masih ter la l u lam ban menyikapi tur - bu len si ini.

Akan tetapi, hal ini ma sih da lam taraf yang bisa “di mak lumi” meng ingat pe r - ubah an-pe r ubah an kebijakan ki ta ti dak bisa di lakukan se ca - ra akro ba t ik kar e na negeri kita me mi liki gaya ke bi jak an yang u n tuk me lakukan s e suatu ha - rus ada du kungan legal-for - mal nya (re gu l a si), m i sal nya ter kait per ubah an belanja ke - men te ri an/lem baga (K/L). No menklatur be lan ja K/L su - dah cu kup ketat ka re na telah di atur d a l am Un dang-Undang APBN.

Karena itu, pe me rintah ti dak bi sa ser ta-mer ta meng - ubah ke rang ka be lan ja se per ti laik nya ki ta me re tur ba rang ke se buah to ko. Un tuk men ci p ta - kan ke bi jak an yang men da dak pun terkesan se lalu bu tuh wak tu yang relatif panjang. Hal tambahan yang perlu di - so rot juga adalah birokrasi pe - me rintah yang terkesan ber be lit dan tidak ada breakthrough ba - gaimana memotong proses bi - ro krasi menjadi lebih cepat dan efek tif. Khusus yang terkait de - ngan kegiatan investasi dan pe - la yanan publik lainnya.

Ini pu la yang kemudian paling di ke luh - kan oleh para investor, ter utama pa da saat meng ha dapi regulasi di tingkat daerah. Pa dahal, kita sama-sama me nge tahui bahwa hasil-hasil ke bi jakan investasi me rupakan tar get pem ba ngun - an di tingkat pu sat maupun dae - r ah. Namun, ada conflict of in te - rest karena di sisi yang lain, di ma na ber be lit nya sistem biro - kra si, kerap men jadi “berkah” ter sendiri ba gi pemerintah (me - la lui pen da pat an retribusi) mau pun ok num pemerintah (pem buru rente).

Jika sudah demikian, kita ju - ga hendaknya tidak terlalu ba - nyak mengeluh tentang ke ada - an yang sekarang ini terjadi. Ka - re na kita, sebagai produsen dan kon sumen, yang terkadang le - bih memilih menggunakan ba - rang impor ketimbang hasil pro duksi dalam negeri. Efek konsumsi dan pro - duksi ba rang-barang impor itu lah yang membuat nilai tu - kar kita eng gan menguat.

Keinginan kon sumen dan ke - mam puan pro dusen sering ga - gal me ne mu kan titik-titik k e - se pa ham an. Konsumen bi a sa - nya me nun tut harga produk do mestik nor matifnya dalam har ga yang mu rah, tetapi kua li - tas nya tidak ter paut jauh de - ngan produk luar negeri. Nah, di sisi yang lain pro du - sen kita merasa berat me nye - dia kan harga yang murah untuk me nyediakan barang-barang ber kualitas.

Alasannya, karena faktor-faktor struktural yang ba nyak menghambat. Misalnya ber kat kapasitas infrastruktur yang kurang memadai dan ku - rang merata maka biaya tra n - sak si yang ditanggung pro du - sen sering menjadi berlipat gan - da. Sepanjang pemerintahan Pre siden Joko Widodo yang ter - li hat amat loyal untuk belanja in frastruktur, pada ke nya ta an - nya belum cukup kuat menekan bia ya transaksi yang muncul da - ri sistem transportasi, energi, mau pun irigasi.

Jika kita terlalu ting gi mengandalkan ke mam - pu an pemerintah, akselerasi pem bangunan kita bisa jadi akan tersendat. Karena pe me - rin tah sendiri terus mencari pe - luang, bagaimana men da pat - kan dana pembangunan untuk men cukupi semua kebutuhan pem biayaan tersebut? Faktor tenaga kerja pun tam - p ak nya ikut memengaruhi me - nga pa produk dalam negeri ti - dak seberapa dilirik konsumen do mestik.

Menteri Tenaga Ker - ja beberapa waktu lalu m engat a - kan, t enaga kerja kita yang bisa di bilang cukup terampil hanya se kitar 55 juta orang. Angka rasionya terlihat ke - cil ji k a dibandingkan total te - na ga ker ja kita yang jumlahnya men ca pai sekitar 112 juta orang.

Alumni-alumni pendi - dik an ki ta juga tidak sedikit yang overlap an tara bidang stu - di dan dunia ke r janya sehingga bi sa dis im pul kan kurikulum pen didikan ki ta belum cukup sin kron de ngan dunia kerja. Untuk saat ini, sepertinya alang kah lebih baiknya jika pe - me r intah fokus pada per eko no - mi an dalam negeri, dengan meng utamakan stabilitas dan pe merataan.

Aspek per tum buh - an akan mengalami kon trak si yang signifikan selama ni lai ru - piah terus anjlok dan di du kung fen omena perekonomian glo bal lain. Tetapi, selama ma sya rakat ma s ih mampu bekerja, ber be lan - ja, dan kebutuhan pa ngan se la lu tersedia, kestabilan dan pe me ra - taan bisa akan terus terjaga.

Pemerintah daerah juga per - lu lebih banyak dilibatkan un - tuk membantu urusan pem ba - ngun an nasional. Sinkronisasi ke bijakan sudah sewajarnya te - rus dilakukan agar pe nge lo la an - nya menjadi efektif. Dana-dana trans fer (sebagaimana prinsip mo ney follow function) sudah sa - ngat banyak digelontorkan pe - me rintah pusat ke daerah de - ngan berbagai skema.

Tetapi, data menunjukkan bahwa dana-dana pemerintah daerah yang mengendap di perbankan ma sih lumayan besar. Per April 2018 kemarin jumlah dana idle di perbankan sudah mencapai Rp212,41 triliun. Angka ini ten - tu jumlah yang sangat besar, se - ki tar 27,72% dari total dana trans fer ke daerah dan dana de - sa (TKDD).

Kalau proses pe nye - rap annya saja sudah belepotan, ba gaimana dengan proses ad - mi nistrasi lainnya? Karena itu, penulis me ni tip - kan pesan untuk kita semua, da - lam menghadapi turbulensi eko nomi yang tampaknya akan mu n cul secara bertubi-tubi ini. Ki t a harus mampu men cip ta - kan tim yang solid untuk mem - per kuat perekonomian dalam ne geri.

Karena semua stake hold - er berpeluang turut andil di po si - si ekonomi masing-masing un - tuk menjadikan Indonesia se ba - gai negara ekonomi yang le bih baik. Setelah ini perlu di ba ngun tim ekonomi yang solid yang di - du kungoleh birokrasi yang efek - tif dan efisien, mes ki pun bi ro - kra si itu sendiri juga per lu terus per baikan. Ma sya ra kat bisa men g isi pos-pos pe ngua t an me - la lui posisi sebagai pro dusen dan/atau konsumen.

CANDRA FAJRI ANANDA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya