Edisi 12-07-2018
Menampilkan Wajah Ramah Jamaah


Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI Beberapa bulan terakhir ini sorotan pelbagai media terhadap gerakan radikalisme agama cukup intens.

Ter lebih setelah ter jadinya aksi bom bunuh diri di Surabaya men jelang bulan Ra ma dan. Ka rena pelakunya per nah me - nge nyam pen di dikan di se ko - lah dan perguruan tinggi, lalu ba nyak pihak yang men coba meng hubung-hu bu ng kan pe - ris tiwa ini dengan ke g iatan ke - agamaan di sekolah dan per gu - ruan ting gi. Terlebih setelah ter jadi pe nangkapan terhadap warga kam pus yang disang ka - kan akan melalukan penge - bom an pada pelbagai fa silitas ne gara oleh Densus 88.

Baru-baru ini Kemenristek Dikti juga telah menindak te - gas seorang guru besar dari sa - lah satu kampus ternama yang diduga juga menjadi bagian dari salah satu organisasi ter - larang. Rentetan pelbagai pe - ristiwa ini makin menguatkan kecurigaan publik bahwa lem - baga pen di dik an merupakan kontributor pe nyemai paham radikal yang berpotensi me me - cah belah umatdan menipiskan paham ke bang saan yang se - lama ini telah se pakat m en jun - jung ting gi em pat pilar ke bang - saan, yaitu Pan casila , Bhin neka Tunggal Ika, Ne gara Kesatuan Republik In do nesia (NKR I), dan Undang-Un dang Dasar (UUD) 1945.

Kecurigaan terhadap lem - baga pendidikan sebagai salah satu tempat pertumbuhan dan penyebaran paham radi ka lis - me memang tidak salah, tetapi ini bukan tempat satu-sa tu - nya. Se tiap ada komunitas dan event b esa r, di situ ada ke lom - pok-ke lom pok tertentu yang meng incar dan menyusup un - tuk men ja dikannya sebagai sa - saran pe nyebaran ideologi.

Tidak hanya mereka yang memboyong pa ham radikal, yang liberal dan ideo logi trans-nasional lainnya juga tergiur. Oleh karena itu semestinya ti - dak hanya lem ba ga pendidikan saja yang men jadi fokus per - hatian untuk di jaga, tetapi juga lembaga-lem baga pemerintah dan kegiatan-kegiatan keaga - ma an lainnya. Salah satu ke - giatan keagamaan yang juga ur gen untuk sosia li sasi paham mo derasi agama ada lah pe lak - sanaan ibad ah haji.

Haji dan Keberagaman

Pelaksanaan ibadah haji ada lah salah satu ibadah yang pa ling sarat pesan simbolik. Ma kin bisa memahami pesanpe san ini, para jamaah akan ma kin khusyuk melaksanakan iba dah dan akan memberikan bekas (atsar) positif setelah me lak sa na kannya .

Melaksanakan iba dah haji tidak hanya mem buk ti kan Rukun Iman dan me lak sa na kan Ru - kun Islam saja, tetapi juga dalam rangka memantap kan Ru - kun Tetangga. Ter - kum pul nya ham - pir 2 juta umat Is - lam pada waktu dan tempat yang sama ini pasti ti - dak bisa di hindari kemungkinan mereka bertemu de ngan tetang ga ru - mah, tetangga kam - pung, te tang ga daerah, dan juga te tang ga negara.

Bertemunya pel ba gai va - rian asal daerah jamaah ini pasti juga akan memper li hat - kan kera gam an suku, bu daya, bangsa, ne gara , dan pa hampa ham ke aga maan ma singma sing. K a lau semua ja maah menyikapi kon disi ini se bagai anugerah, hal ini akan mem - bawa berkah, tetapi se ba lik nya jika per be daan ini di ton jolkan dan di ke de pankan, hal ini akan me nim b ulkan kete ga ng an dan rasa gelisah.

Kalau ter kait dengan per be - da an simbol-simbol daerah mung kin bisa di pahami, tetapi begitu per tama jamaah tiba di Ma di nah atau di Mekkah, me - lihat ama liah iba dah yang beda-beda, hal ini akan me - nimbulkan pertanyaan pada jamaah, ter uta ma yang baru pertama me nunai kan ibadah haji.

Kenapa ini begini, kenapa mereka be gitu, kenapa tidak seperti yang saya amalkan dan seba gainya . Apalagi sering juga terj adi s e le ba ran-selebaran yang senga ja dibagikan ke lom pok ter - tentu un tuk menyalah-nya - lahkan yang t idak sepaha m. Hal ini pasti akan mem bi ng ung kan banyak jamaah.

Bahkan mung - kin ad a kelompok-kelompok ter tentu atau petugas yang se - cara resmi diberi amanah untuk me nga yo mi dan m elayani semua jamaah justr u se cara se - ngaja memak sa kan paham-paham ekstrem. Hal ini tentu akan mem bi ngung kan d an me - re sahkan jamaah.

Pembekalan Petugas

Tidak semua petugas haji yang ditunjuk pemerintah me - miliki kompetensi keagamaan, k hususnya terkait dengan se - luk-beluk ibad ah haji secara me madai. Mereka yang diberi tu gas bukan pada bidang bim - bi ng an ibadah haji memang bu kan untuk memberikan la - yan an bimbingan ibadah ja - maah, te tapi mereka tidak bisa di pi sahkan keberadaannya de - ngan jamaah.

Dalam situasi tertentu tidak menutup kemungk inan secara me ndad ak para jamaah meng ha dapi persoalan ibadah. Da lam situasi seperti ini petugas dipaksa untuk bersikap dan me lakukan yang sebenarnya bu kan menjadi tugas pokok dan fung sinya.

Di sinilah pentingnya membekali kom pe - tensi ke agamaan dan paham mo derat kepada selur uh ja - maah dan le bih khusus kepada para petugas haji yang di - tunjuk pemer intah baik pe - tugas bi dang keamanan, ke se - hatan mau pun bidang bim bi - ngan ibadah.

Pembekalan kompetensi ke agamaan untuk petugas haji ti dak hanya diperlukan sebagai ja waban terhad ap potensi pro - ble matika ibadah yang ditemui ja maah haji, tetapi juga me - mas tikan bahwa pe ma ham - an aga ma mereka se laras dengan nilai-nilai mo - derasi Islam.

Hal ini di perlukan sebagai counter ter ha dap narasi Islam yang me nge de pankan kekerasan. Di te - ngah perkem ba - ngan radikalisme aga ma, para pe t - ugas haji mengemban amanah untuk men da m pi ngi ja - maah agar dapat men - jaga nama baik bangsa Indonesi a yang terwujud dalam sikap dan tingkah laku di Tanah Suci.

Jangan sampai jamaah, apalagi pe tugas haji, justru me nam pil kan sikap ke - beragamaan yang tid ak sesuai dengan nilai ke is lam an dan kebangsaan. K arena itu, selain memiliki keahlian dan pro - fesionalitas dalam tugas yang diembannya, petugas haji harus memiliki wawasan dan pengetahuan keislaman yang memadai, terutama dalam rang ka penguatan moderasi Islam. K aitan dengan ini, ada beberapa pengetahuan penting yang harus disampaikan untuk pem-bekalan petugas haji.

Pertama, pemahaman ibadah haji sesuai dengan tuntunan syariat.

As pek ini dapat mencakup rukun dan wajib haji baik secara teoretis maupun praktis. Selain itu perlu juga di sampaikan hal-hal mendasar lain yang me nd u kung ibadah haji seperti tip o logi penduduk dan kondisi geo grafis.

Kedua, penguatan mo derasi Islam ditengah dinamika perbedaan pemahaman agama.

Hal ini di - wujudkan dengan si kap se im - bang, proporsional di te ngah pelbagai pemahaman tata cara ibadah. Ibadah haji bukanlah arena kontestasi antarmazhab dan aliran. Untuk itu pr insip yang ha rus dipegang adalah sema - ngat ber ibadah bukan me non - jol kan aspek perbedaan pen da - pat. Ja ngan sampai ibadah ha ji justru menjadi tempat mem - besarkan perbedaan.

Ketiga, pengenalan Islam ramah.

Saat ini ada se ba gian kelompok yang menam pil kan Islam dengan wa jah keras dan intimidatif. Ten tunya hal ini tid ak sesuai dengan ajaran Islam yang cinta ke da mai an. Pema ham an aga - ma ha rus diajarkan de ngan benar se suai dengan pe mahaman ulama terdahulu ber upa ajaran Islam rah matan lil’alamin yang te cer min dalam sikap tawasuth (mo derat), ta wa zun (se im - bang), ta sa muh (to le ran), dan i’ti dal (tegak lurus).

De ngan be - gitu ke hadiran Islam terwujud se ba gai mana tujuan asalnya, yaitu menebarkan ke damaian bagi umat manusia, bukan me - nim bulkan ketakutan dan ke r u - sakan. Dengan demikian petugas ibadah haji tidak hanya me n ja - lan kan amanah untuk meng - upa yakan kelancaran ibadah haji, tetapi juga mengemban misi mulia sebagai agen pem - bawa moderasi Islam.
Secara praksis, hal ini menjadi bagian dari usaha segenap komponen masyarakat untuk mencegah infiltrasi ideologi radikal di semua kalangan. Sebagaimana k ita ketahui, masifnya penye - bar an ideologi radikal dapat mengancam sendi-sendi aga - ma dan bangsa. Adalah sebuah anu gerah bahwa bangsa In do - ne sia merupakan bangsa yang be ra gam, terdiri atas pelbagai suku bangsa d an agama yang ber beda-beda.

Karena itu me - nurut Menteri Agama RI Luk - man Ha kim Saifuddin, meng - ha dirkan wajah Islam yang moderat (washatiyyah) dalam kehidupan masyarakat kita adalah upaya keberlanjutan me - nebarkan per damaian dan me - wujudkan ke ru kunan bang sa Indonesia yang majemuk ini.

Secara tid ak langsung, si kap moderat, toleran, saling meng - har gai yang ditunjukkan ja ma - ah haji Indonesia dapat men - jadi sarana menguatkan nilaini lai kebangsaan ser ta me ning - katkan rasa cinta dan bangga terhad ap negara In do nesia. Dalam konteks global, iba - dah haji merupakan re pre sen - tasi bangsa Indonesi a dalam kan cah internasional baik da - lam penyeleng gara an maupun dalam sikap dan tingkah laku jamaah.

Ibadah haji membawa nama baik dan simbol negara dan bangsa Indonesia. Ke lan - car an dan kesuksesan proses pe nyelenggaraan haji serta karakter jamaah haji di Tanah Suci dapat menjadi tolok ukur citra bangsa kita. Penilaian baik terhadap pelaksanaan haji In do nesia beberapa tahun ter - akhir ini terkait dengan la - yanan dan kepuasan jamaah ha rus di tingkatkan.

Demikian pu la citra positif terhadap jamaah haji Indonesia harus tetap di perta hankan. Untuk itu ibadah haji harus dijadikan momentum un tuk menampilkan wajah ma syarakat muslim Indonesia yang ramah dan toleran sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai ajaran Islam sekaligus per wu jud an karakter khas bangsa Indonesia.

IMAM SAFE'I

Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI





Berita Lainnya...