Edisi 12-07-2018
Mengubah Paradigma untuk Keselamatan Pelayaran


Dalam tujuh bulan terakhir telah terjadi delapan kecelakaan kapal di Indonesia yang mengakibatkan sekitar 77 korban jiwa (belum termasuk korban hilang).

Ke celakaan terakhir di bulan Juli 2018 pada kapal ferry KM Lestari Maju. Kapal bocor dan nakhoda memutuskan mengandaskan kapal di sekitar Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih besar. Aktivitas pelayaran me mi liki risiko dan konsekuensi besar. Korban jiwa adalah konsekuensi terbesar, kemudian kerugian aset (kapal dan muatannya), kerusakan lingkungan, dan rusaknya reputasi perusahaan pelayaran.

Secara na sio nal, jika frekuensi kecelakaan laut naik, maka reputasi pemerintah dalam pengelolaan ma na jemen ke selamatan di laut akan merosot. Banyak pihak akan mempertanyakan kinerja dan integritas dari pihak kesyahbandaran sebagai port state control yang berwenang menahan atau mengizinkan kapal berlayar. Risiko kecelakaan kapal sangat dipengaruhi oleh setidaknya empat hal, yaknifaktorcua ca buruk, kegagalan konstruksi kapal atau sistemnya, pola operasi dan perawatan kapal, serta sistem pengawasan keselamatan.

Persyaratan Teknis Kapal

Kapal melalui beberapa tahap selama usia teknisnya mu lai dari tahap desain, konstruksi dan pengujian, operasional dan perawatan, hingga akhirnya masa pensiun (decommissioning) dan pembesituaan (scrap). Tiga tahapan pertama memiliki kontribusi signifikan pada risiko kecelakaan kapal.

Pertama, tahap desain. Kapal dirancang merujuk pada standar teknis yang diterbitkan oleh sebuah badan independen disebut badan klasifikasi. Ba dan ini memastikan kapal telah di ran cang sesuai standar teknis dan per aturan keselamatan yang berlaku. Mutlak diperlukan keahlian khusus dan spesifik dari te naga ahli dalam bidang telaah desain ini.

Kedua, tahap konstruksi dan pengujian. Pada saat konstruksi diawasi ketat agar sesuai dengan desain yang disetujui badan klasifikasi. Selesai tahap konstruksi, dilakukan peng ujian kapal. Tujuannya untuk me - ma s tikan bahwa kapal dapat men capai kinerja yang diper - syaratkan di antaranya kece patan, daya muat, termasuk ber - fungsinya alat keselamatan.

Ketiga, tahapoperasionaldan perawatan kapal. Tahap ini melibatkan banyak pihak dan banyak kepentingan. Ada kepentingan pemerintah untuk me menuhi ke butuhan trans portasi laut. Selain itu, juga kepentingan bisnis pengusaha, kepentingan nakhoda dan anak buah kapal (ABK), serta badan klasifikasi untuk memastikan status kelas kapal.

Tanggung Jawab Banyak Pihak

Setiap pihak yang terlibat dalam operasional kapal seharus nya bertindak sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangannya. Pemerintah, sebagai pihak yang mempunyai hierarki paling tinggi dalam hal keselamatan kapal, melakukan pe - nga wasan kelayakan kapal. Syahbandar memiliki kewenangan untuk menahan atau mengizinkan kapal berlayar.

Pengusaha, selain memiliki kepentingan bisnis, wajib memiliki komitmen kuat dalam implementasi keselamatan kapal sebagaimana disyaratkan International Safety Management Code. Sementara itu, nakhoda kapal sebagai perwira tertinggi harus mengetahui dengan akurat kondisi dan kemampuan kapalnya.

Profesionalisme dan kewenangan mengambil kepu tusan menerima/menolak perintah operasi harus diterapkan de ngan baik. Nakhoda harus tegas pada aturan. Sementara itu, badan klasifikasi bertanggung jawab terhadap pengawasan kesesuaian kondisi teknis kapal terhadap standarnya. Badan ini secara periodik memeriksa kondisi kapal dan menerbitkan atau menahan sertifikat kapal.

Profesionalisme dan integritas karyawan di lembaga ini sangat berpengaruh pada kualitas kapal. Dari sisi penumpang juga memiliki andil sangat besar da lam keselamatan pelayaran. Pe numpang harus mengikuti instruksi pihak berwenang dan semua ketentuan keselamatan pelayaran. Sebagai contoh, ada perilaku penumpang tidak me ng indahkan keselamatan pe la yaran pada kapal ferry jenis Ro-Ro.

Penumpang banyak yang tetap berada di dalam ken da raan selama pelayaran. Kebia saan ini sangat berbahaya. Pada keadaan darurat, maka penumpang akan kesulitan keluar dari kendaraan jika jarak antarkendaraan terlalu dekat. Saat kapal mengalami oleng, kendaraan da pat bergeser atau terguling.

Penumpang pun makin sulit un tuk selamat. Pihak lain yang turut berkontribusi pada peningkatan keselamatan pelayaran adalah institusi pendidikan. Perlu penemuan ide dan metode baru, termasuk inovasi teknologi lain yang bisa meningkatkan keakur atan rancangan, pengawasan konstruksi, maupun metode kerja yang lebih baik.

Cara paling ampuh untuk mendongkrak keselamatan pela yaran adalah mengubah pa ra - digma, yakni mengubah cara ber pikir bahwa keselamatan pelayaran hanya tanggung jawab institusi/organisasi ter tentu saja. Semua stakeholder pelayar an memiliki andil pada keselamatan pelayaran.

Ke tidakpa tuhan pada aspek ke se lamatan ka pal memiliki konsekuensi sangat besar, yakni an caman terhadap puluhan bah kan ratusan nyawa penumpang kapal. Iklim/cuaca ke depan tidak makin ramah, tetapi ju s tru menaikkan risiko pada keselamatan pelayaran. Semua yang terlibat harus ber - kon tribusi memperkecil risiko kecelakaan di laut, tanpa harus mengandalkan pihak lain.

ACHMAD ZAKKY RIDWAN

Praktisi Industri Maritim dan Dosen Universitas Pamulang

Berita Lainnya...