Edisi 12-07-2018
BTN Siapa Akuisisi Manajemen Investasi


JAKARTA –PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) siap mengakuisisi perusahaan manajemen investasi sebagai anak usaha perseroan yang baru.

Rencananya aksi korporasi tersebut akan dilaksanakan pada September 2018. Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, akuisisi terhadap perusahaan mana jemen investasi dilakukan guna menggarap potensi pen danaan jangka panjang seusai beroperasinya Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).

Pasalnya, dalam payung hukum terkait Tapera, entitas bank diberikan dua opsi pilihan untuk mengelola dana tersebut, yakni sebagai bank kustodian atau memiliki manajemen investasi. Dari hasil kajian bisnis perseroan, kata Maryono, perseroan memutuskan meng ambil opsi kedua.

Nanti entitas manajemen investasi yang akan direncanakan tersebut ba kal digunakan untuk me nge lola dana Tapera secara profesional dan komersial. “Pada September tahun ini, kami akan membeli anak usaha dalam bentuk manajemen investasi.

Ini sebagai salah satu langkah kami mengamankan sumber pembiayaan jangka menengah pan jang termasuk yang bersumber dari Tapera,” ujar Maryono di sela-sela acara Nonton Bareng Piala Dunia 2018 bersama Direksi BTN di Jakarta, kemarin.

Maryono menambahkan, langkah strategis tersebut juga dilakukan melihat prospek yang semakin cerah seusai relaksasi loan to value (LTV) di sektor perumahan yang dite tap kan Bank Indonesia (BI). “Kebijakan tersebut menjadi keuntungan bagi BTN dengan core business pembiayaan pe rumah an,” kata Maryono.

Maryono juga meyakini dengan adanya relaksasi dari pemerintah tersebut, per seroan akan mampu mencapai target pertumbuhan pem biaya an pada tahun ini. Apa lagi, kata dia, mulai paruh ke dua tahun ini BTN sudah bisa menggunakan dana fasilitas likuiditas pem biayaan perumahan (FLPP). Skema FLPP pada tahun ini pun dipandang akan menguntungkan posisi BTN.

Pasalnya, pada skema baru tersebut, sebanyak 75% dananya ber asal dari pemerintah, se dang kan 25% sisanya bersumber dari PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Dengan pe nambahan fasilitas tersebut, emiten bersandi saham BBTN ini juga bisa menggunakan dua sumber pembiayaan, yakni subsidi selisih bunga (SSB) dan FLPP.

Untuk memperkokoh sum ber pembiayaan, tutur Maryono, BTN juga terus berinovasi me ngembangkan produk-produk low-cost fund di antaranya perseroan telah menyiapkan program me narik untuk pro duk tabungan dan giro. “Kami telah menyiap kan program low-cost fund me narik untuk mendukung ren cana pem biayaan kami yang ekspansif.

Semua langkah tersebut kami siapkan agar BTN tetap men jadi leader di bidang peru mah an, dan kami optimistis target bisnis tahun ini akan tercapai,” kata Maryono. Sementara itu, pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menilai, kondisi BTN saat ini sangat diuntungkan dengan relaksasi aturan loan to value (LTV) yang diterbitkan Bank Indonesia ditambah adanya skema baru dari fasilitas likui ditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau KPR bersubsidi.

Skema barunya, yakni KPR FLPP dananya 75% dari pe me rintah dan 25% dari PT Sarana Multi Financial (SMF). “Ini tentu menguntungkan BTN dari sisi bisnis sehingga penyaluran KPR akan meningkat,” ujarnya. Hingga Mei 2018, BTN telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp187,61 triliun.

Posisi DPK tersebut tercatat naik 17,15% secara tahunan (yearon- year/yoy) dari Rp160,14 triliun pada bu lan sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan simpanan masyarakat di BTN tersebut juga terpantau masih berada di atas rata-rata posisi kenaikan DPK di industri perbankan nasional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan DPK secara industri hanya naik di level 8% yoy pada April 2018. Dari sisi penyaluran kredit dan pembiayaan pun, per Mei 2018, BTN telah menyalurkan fungsi intermediasi senilai Rp209,23 triliun atau tumbuh 20,58% yoy dari Rp173,52 triliun.

rakhmat baihaqi




Berita Lainnya...