Edisi 12-07-2018
Maju Bersama Tim Ketimbang Pamer Kecakapan


Bermunculannya layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) diharapkan menjadi alternatif solusi dalam mengatasi kendala permodalan yang dihadapi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Seiring pesatnya perkembangan teknologi, usaha rintisan (startup) fintech pun ikut berkembang. Kehadirannya disambut para pelaku UKM karena bisa membantu memberikan pinjaman modal. Modalku, salah satu perusahaan rintisan yang dinakhodai generasi muda, ingin berkontribusi dalam mengatasi masalah financial gap yang ada di Indonesia.

Co-founder & CEO Modalku Reynold Wijaya mengatakan, Modalku ingin berperan menciptakan inklusi keuangan di Asia Tenggara. Mengusung platform Peer to Peer Lending (P2P Lending), saat ini Modalku secara regional berhasil mencapai total pencairan pinjaman UKM sekitar Rp1,61 triliun.

Di sisi lain, perusahaan startup fintech dihadapkan pada tantangan untuk menjaga kepercayaan, transparansi, serta menanamkan awareness masyarakat akan manfaat layanan fintech. Hal ini disadari oleh Reynold Wijaya yang turut membidani kelahiran Modalku bersama rekannya. Lantas, bagaimana kiat dan strateginya sehingga bisa mengembangkan usaha tersebut pada usia muda? Berikut petikan wawancara KORAN SINDO dengan Reynold, beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan awal mula Modalku berdiri?

Modalku berdiri saat saya masih kuliah S-2 di Harvard Business School, Amerika Serikat (AS). Bersama Kelvin, teman saya yang sekarang jadi Co-founder, kami mempunyai visi dan tujuan sama. Kami ingin mulai untuk melakukan bisnis. Dari situ kami mencari apa yang menarik untuk bisnis ke depan dan memberikan impact kepada masyarakat. Nah, saya kepikiran bahwa teknologi adalah masa depan.

Dari semua itu, kami yakin bisnis yang ber-impact itu di bidang financial technology (fintech) karena aspek keuangan itu merupakan ranah yang paling penting untuk memberikan impact kepada semua orang.

Lalu saya belajar dari fintech yang sudah ada di Indonesia karena saya merasa pinjammeminjam itu masalah yang memberikan impact paling besar. Apalagi, kesenjangan keuangan masih menjadi masalah besar. Jadi, kami berpikir bagaimana bisa memecahkan financial gap yang ada di Indonesia.

Apa tantangan dalam mengembangkan bisnis modalku?

Tantangan kami di sini adalah bagaimana mengenalkan bisnis ini kepada orang-orang yang ingin meminjam. Kami harus memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa Modalku merupakan platform peer to peer (P2P) lending atau crowd funding yang merupakan pilihan terbaik pengganti pinjaman dari bank. Kami juga harus mengedukasi masyarakat seperti mengadakan seminar, melalui blog, dan sebagainya.

Selain itu, kami juga harus transparan dengan menunjukkan performance atau kinerja yang biasanya kami perlihatkan di website Modalku. Sebetulnya, yang sulit itu bagaimana menanamkan kesadaran. Maka itu, kami harus transparan dengan memberi tahu berapa bunga yang didapat dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana strategi perusahaan menghadapi hal itu?

Kami selalu memberikan pelayanan yang nyaman serta selalu membuat para customer percaya. Kepercayaan itu penting dan kami terus memberikan penetrasi lebih dalam.

Apa kelebihan Modalku dibandingkan startup lain?

Modalku menyalurkan pinjaman modal usaha tanpa agunan bagi UKM dengan bunga terjangkau. Produk kami juga available, kami melayani bidang usaha apa saja. Selain itu, kami juga selalu transparan kepada peminjam.

Bagaimana perkembangan Modalku saat ini?

Saat ini, Modalku secara regional berhasil mencapai total pencairan pinjaman UMKM sekitar Rp1,61 triliun. Selain di Indonesia, kami punya lisensi di dua negara, yaitu Malaysia dan Singapura. Kami juga telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

Modalku juga berhasil meraih pendanaan Seri B sebesar USD25 juta atau hampir Rp350 miliar. Pendanaan ini dipimpin oleh SoftBank Ventures Korea. Dana tersebut akan digunakan untuk merealisasikan visi Modalku untuk ikut menciptakan inklusi keuangan di Asia Tenggara.

Adapun secara regional, ada lebih dari 60.000 pemberi pinjaman terdaftar di Modalku dan Funding Societies sejak berdiri. Ke depan, kami optimistis penyaluran pinjaman akan terus bertumbuh.

Lalu, bagaimana target tahun ini?

Biasanya, kami memasang proyeksi setiap tiga bulan ke depan lalu kami perbarui lagi hingga akhir tahun. Kalau untuk tiga bulan nanti kami incar sekitar Rp500 miliar. Saat ini sudah mencapai hampir Rp800 miliar. Kami proyeksi hingga semester I/2018, pinjaman yang disalurkan di Indonesia bisa mencapai Rp1,1 triliun sampai Rp1,2 triliun.

Sebagai CEO, bagaimana Anda memandang konsep kepemimpinan?

Saya melihat memimpin sebuah startup gayanya sangat berbeda dengan memimpin sebuah korporasi. Leader yang paling hebat itu adalah leader yang membuat timnya maju dan berkembang, bukan menjadi pemimpin yang pamer kecakapan. Tugas terbesar seorang CEO itu memecat diri Anda sendiri dari pekerjaan Anda sekarang. Ketika memiliki tim yang pintar, smart, maka harus diberi keleluasaan untuk membuat sesuatu yang baru. Maka dari itu, kita harus men-support tim.

Mengingat usia Anda terbilang masih muda, lalu bagaimana gaya komunikasi Anda dengan karyawan yang lebih tua dari Anda?

Saya tidak melihat umur, mau tua atau muda. Itu alasan saya untuk merekrut orang yang baik. Jadi, kita harus punya orang-orang yang punya semangat dan attitude yang benar. Di sini tidak ada gap antarkaryawan. Semua sama, kita tim. Sebenarnya lingkungan yang bisa mengubah seseorang yang tadinya tertutup menjadi terbuka.

Saya memberikan kebebasan kepada tim untuk menyampaikan pendapat. Bagi saya, melakukan suatu pekerjaan itu bukan dihitung aktivitasnya, melainkan performance-nya. Jadi, sebenarnya kita bisa saja mengerjakan tugas atau deadline dari mana saja dan di mana saja, asalkan tugas itu selesai dengan baik.

kunthi fahmar sandy