Edisi 12-07-2018
Tersubur Belum Tentu Juara


ST PETERSBURG –Kubu Belgia boleh saja mengeluh tentang gaya main Prancis. Tetap saja Prancis yang melangkah ke final melalui gol Samuel Umtiti pada menit ke-52 setelah memanfaatkan tendangan sudut Antoine Griezmann.

Prancis juga boleh diberi stempel sebagai tim yang tidak pernah menang dengan meyakinkan dari satu fase ke fase berikutnya. Mulai laga pembuka melawan Australia, di mana Les Bleus ditolong video assist ant referee yang berbuah penalti untuk Griezmann untuk mengunci kemenangan 2-1. Mereka juga kurang meyakinkan saat menundukkan Peru (1-0) dan bermain membosankan melawan Denmark. Ya itu, mereka tidak sekadar lolos, melainkan menjadi juara grup. Pada fase selanjutnya pasukan Didier Deschamps juga lolos dari lubang jarum saat me - nga lahkan Argentina dengan skor 4-3. Unggul melalui penalti Griezmann, tertinggal kemudian unggul lagi karena Kylian Mbappe mendadak menjadi bintang dan menjadi pemain tercepat pada Piala Dunia saat mencetak gol ketiga Prancis.

Melawan Uruguay, kemenangan Prancis ditentukan sundulan Raphael Varane dan blunder Fernando Muslera yang tak bisa menangkap bola tendangan Griezmann. Lagilagi proses gol menjadi tak penting karena Prancis ke semifinal. Pada semifinal mereka juga menjadi tim dengan produktivitas paling sedikit dibanding kontestan lain. Sebelum mengalahkan Belgia, Les Bleus hanya melesakkan sembilan gol, sedangkan Belgia 14 gol, Inggris (11), dan Kroasia (10). Faktanya, Belgia ter - singkir. Kini kans Hugo Lloris dkk menjadi juara tetaplah terbuka lebar. Apalagi, fakta menunjukkan bahwa terdapat 13 tim yang pernah menjadi juara justru bukan tim terproduktif sepanjang turnamen.

Ada Spanyol pada 2010. La Furia Roja menggenggam trofi, meski hanya mencetak delapan gol. Padahal sang lawan, Jerman, lebih tajam (16). Pada 2006 sang juara Italia hanya mengemas 12 gol dibandingkan tim tersubur saat itu, Jerman (16 gol). Be - gitu juga dengan Brasil pada 1994 (11 gol), Italia 1982 (12 gol), Argentina 1978 (15 gol), Jerman Barat 1974 (13 gol), Inggris 1966 (11 gol), Brasil 1958 (16 gol), Jerman Barat 1954 (25 gol), Uruguay 1950 (15 gol), Italia 1938 (11 gol), Italia 1934 (11 gol), dan Uruguay 1930 (11 gol). Selain itu, Les Bleus mematahkan prediksi bahwa bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik tidak bertahan lama.

Kenyataannya, Prancis melaju ke final ke - timbang Brasil, Spanyol, ataupun Belgia yang mendominasi penguasaan bola pada setiap pertandingan. Prancis seakan belajar dari pengalaman masa lalu. Saat menghadapi Portugal pada final Piala Eropa 2016, me - reka bermain agresif, me nye - rang, dan mendominasi bola. Namun, mereka kalah 0-1 oleh Portugal. Berbagai statistik tersebut jelas menjadi modal bagus Prancis jelang laga final, Minggu (15/7), di mana me - reka akan bersua pemenangan laga semifinal antara Inggris versus Kroasia dini hari tadi. “Detail kecil me - nentukan hasil pertanding an semi final,” kata Pelatih Belgia Roberto Martinez.

Alimansyah