Edisi 12-07-2018
Air Kehidupan


Prancis SAINT PETERSBURG –Strategi defensif selalu menjadi sasaran kritik pedas para idealis sepak bola. Namun, di era modern, bermain efisien, termasuk memanfaatkan bola mati, menjadi salah satu cara memenangkan pertandingan. Tidak percaya?

Prancis sudah membuktikannya dan menyegel satu tempat di partai final. “Bola mati dalam sepak bola ibarat air untuk kehidupan. Anda membutuhkannya untuk bertahan hidup”. Pernyataan mantan bek tim nasional Amerika Serikat Alexi Lalas ini menjadi gambaran nyata eksekusi bola mati memegang peranan penting dalam keberhasilan tim memenangkan pertandingan. Di Piala Dunia 2018 Rusia, Prancis yang selama turnamen tidak terlalu menekankan strategi penguasaan bola kembali membuktikan jika sepak bola efisien lebih menjamin kemenangan dibandingkan permainan indah. Rata-rata ball posisition Paul Pogba dkk hanya sekitar 52% sejak fase grup hingga semifinal.

Margin gol kemenangan pasukan Didier Deschamps juga tidak terlalu mencolok. Hanya melawan Uruguay, Les Bleus menang 2-0, selebihnya saat menghadapi Australia (2-1), Peru (1-0), Denmark (0- 0), dan Argentina (4-3), hanya unggul satu gol. Termasuk ketika melawan Belgia, Prancis hanya mencatatkan 40% penguasaan bola dan hanya butuh satu gol untuk memastikan satu tempat di Stadion Luzhinki, Moskow, 15 Juli nanti. Strategi yang diterapkan Deschamps ini lantas mengundang kritik pedas dari kapten Belgia Eden Hazard dan penjaga gawang Thibaut Courtois.

“Saya lebih suka kalah di perempat final melawan Brasil. Setidaknya mereka merupakan tim yang ingin bermain sepak bola. Tidak seperti Prancis setelah unggul dari tendangan sudut, mereka langsung bermain defensif,” tandas Courtois, dilansir The Guardian. Kritik penjaga gawang Chelsea tersebut cukup beralasan. Dalam laga di Saint-Petersburg Stadium tersebut, keunggulan 1-0 membuat Prancis menerapkan permainan bertahan. Tim Ayam Jantan hanya sesekali mengandalkan serangan balik. “Saya lebih suka cara Belgia kalah daripada menang seperti Prancis. Mereka bertahan dengan sangat kuat dan efisien. Kami tidak menemukan celah dengan strategi defensif. Butuh keajaiban untuk membongkar pertahanan tim yang bermain rapat dan itu tidak ada,” ujar Hazard.

Kedua pemain Belgia yang juga punggawa Chelsea itu boleh saja melontarkan kritik pedas. Namun, data statistik menunjukkan bahwa gol dari eksekusi bola mati, baik dari tendangan sudut, free kick , maupun penalti, cukup mendominasi selama Piala Dunia 2018. Sebanyak 69 atau 48% dari total 158 gol yang tercipta hingga semifinal pertama merupakan hasil dari eksekusi bola mati. Jumlah ini mencetak rekor dan merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah turnamen. Bagi Les Bleus , gol semata wayang Samuel Umtiti dari eksekusi bola mati merupakan yang keempat di tim nasional Prancis sepanjang Piala Dunia 2018. Tiga lainnya masingmasing disumbangkan Antoine Griezmann saat melawan Australia dan Argentina dari titik penalti serta Rafael Varane (Uruguay) yang memanfaatkan assist tendangan bebas.

“Dalam pertandingan, perbedaannya hanya pada situasi bola mati. Hanya butuh satu tendangan sudut dan itu yang harus Anda terima di semifinal,” ucap Pelatih Belgia Roberto Martinez.

Abriandi