Edisi 12-07-2018
Haru Biru Henry


SAINT-PETERSBURG–Saat wasit Andres Cunha asal Uruguay meniup peluit panjang, asa Belgia pun hancur.

Setelah meredakan dan menghibur Kevin de Brunye dkk yang terluka lantaran gagal melangkah ke final Piala Dunia 2018, Thierry Henry pun menghampiri Didier Deschamps.

Dari media tribune, terlihat dengan gentle dia berjalan ke arah mantan rekannya saat bahu membahu di tim nasional Prancis, Henry lalu berbicara sedikit, memeluk Deschamps, mencium kedua pipinya, dan menepuk pundaknya. Kebesaran hati ditunjukkan Henry, dini hari kemarin. Secara gamblang terlihat Henry mengucapkan selamat atas keberhasilan Deschamps melaju ke final Piala Dunia 2018. Les Bleus memastikan itu setelah memukul Belgia 1-0. Dari layar televisi media terlihat jelas raut kecewa Henry yang sejak 2016 lalu menerima pinangan Roberto Martinez untuk menukangi Belgia. Peran besar Henry membentuk The Red Devils sebagai tim yang amat agresif di kualifikasi dan putaran final Piala Dunia sangat diakui Martinez.

“Perasaan dia pasti campur aduk. Negaranya lolos ke final, dia pasti bangga. Apalagi, dia dulu lama membela timnasnya. Tapi, se - karang, anak asuhannya gagal ke final karena di - singkirkan timnas negara nya. Saya salut kepada dia,” ujar Jean, wartawan asal Belgia. Dalam beberapa kesempatan, termasuk latihan tim, Henry selalu hadir. Dia memiliki pendekatan ber - beda dengan De Bruyne dkk. “Lebih personal, pemain amat mengagumi dia. Dia memiliki banyak peng alaman yang bisa bermanfaat bagi pemain Belgia,” ucap Jean. Henry tak pernah terlihat di konferensi pers. Bahkan, di beberapa media opportunity yang digelar Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Henry tidak ikut berbicara. Penam - pakannya juga hanya sekilas.

“Itu Roberto (Marti nez),” ujar nya, menghindari perta - nyaan wartawan dan meng - arahkan para pemburu berita agar bertanya kepada sang nakhoda, kala digelar media meeting di basecamp Prancis di Istra Distict, Glebovsky, Ok - tybrs kaya, luar Kota Moskow. Legenda Arsenal itu pernah merespons mengapa dia mau memoles tim Belgia dan kenapa tidak bergabung de - ngan Deschamps mengembalikan masa kejayaan sepak bola Prancis. Jawabannya singkat: “Belgia adalah tempat belajar yang tepat,” ujarnya.

Hanna farhana