Edisi 12-07-2018
Manfaat Lebih Pijat Bayi


PIJAT bayi masih belum jamak dilakukan. Padahal, tidak hanya menghilangkan pegal atau bounding semata, pijat bayi juga memiliki manfaat lebih. Apa saja?

Pijat bayi dapat menguatkan ikatan atau bounding antara ibu dan bayi. Hal ini memang sudah banyak yang tahu. Namun, tahukah Anda bahwa memijat bayi juga meningkatkan nafsu makan si kecil serta mendukung tumbuh kembang anak? Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes Dr dr Ina Rosalina SpA(K) MKes MHKes mengatakan, pijat bayi berhubungan dengan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). “Pijat bayi merupakan salah satu program yang kami lakukan di Kemenkes dan ini sudah ada penelitiannya. Misalnya, bayi lahir beratnya 2,5 kg, bila dipijat setiap hari, 9 atau 12 bulan kemudian tumbuh kembangnya bisa terkejar,” ujar dr Ina dalam acara Sentuhan Cinta yang diadakan PT Johnson & Johnson Indonesia.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum paham manfaat memijat bayi dan cenderung memberikan tugas ini kepada dukun pijat. Padahal, jika dilakukan sendiri, pijat hanya berlangsung 10-15 menit sambil bernyanyi atau berdoa. Bukan hanya ibu, ayah, pengasuh, atau kakek-nenek juga bisa memijat si kecil. Menurut dr Bernie Endyarnie Medise SpA(K) MPH dari UKK Tumbuh Kembang- Pediatri Sosial, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), masa neonatal amat penting. Terlebih, bayi baru lahir sangat rentan, terutama pada awal masa kehidupannya (28 hari). “Kulitnya masih berkembang, rawan terjadi gangguan kesehatan. Daya tahan tubuh juga masih lemah, pencernaan belum berkembang sehingga asupan nutrisi harus tepat, yaitu ASI,” papar dr Bernie.

Tumbuh kem bang yang terganggu dapat berpengaruh buruk pada kehi dupan selanjutnya (kecerdasan emosi fisik). Maka itu, bayi perlu penanganan khusus dan stimulasi rutin. 1.000 HPK adalah window of opportunity sekaligus critical period. “Kalau terjadi sesuatu dalam 1.000 HPK, bisa berakibat stunting atau kejang yang dapat berdampak permanen,” ucap dr Bernie. Cara terbaik perawatan neonatal ialah dengan memenuhi kebutuhan fisik (nutrisi, higienis, perawatan fisik, dan stimulasi fisik), mental atau emosional, stimulasi multisensori dan kasih sayang, serta spiritual (agama dan etika). Multisensori terdiri atas penglihatan, penciuman, pera - gaan, pendengaran, pengecap, keseimbangan.

Kapan wak tu - nya menstimulasi? Kapan saja, seperti saat makan, main, per - siapan tidur, dan ketika dipijat. Brand Manager Johnson‘s Wynne Lukman mengatakan, memastikan orang tua me nge - tahui pentingnya sentuhan cinta ibu yang diberikan melalui ritual pijat dan mandi bayi telah menjadi komitmen Johnson’s sejak lama. “Kami bahkan telah meng - adakan kegiatan-kegiatan ter - kait edukasi ritual pijat dan mandi bayi di berbagai wilayah Indonesia yang secara rutin dilakukan setiap tahunnya. Misalnya, tahun lalu kami mengadakan pelatihan pijat bayi bersama ratusan bidan di Jakarta,” kata Wynne.

Sentuhan Cinta yang dilak - sanakan pada Mei-Juni 2018 telah mendapat dukungan le bih dari 250.000 ibu Indonesia dan secara tidak langsung mem - bantu bayi melalui Yayas an Sayangi Tunas Cilik (mitra Save The Children di Indo ne sia) dengan memberikan pe latih an rutinitas pijat bayi ke pada orang tua di Indonesia, ba ik di kota besar maupun kota ke cil. Adapun Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia, menga - ta kan, guna menciptakan kehi - dupan yang lebih baik bagi anak Indonesia, pihaknya bekerja sama dengan Alfamart, Toko - pedia, dan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (mitra Save The Children di Indonesia) dalam program Sentuhan Cinta.

“Johnson’s akan memandu dan mengadvokasi orang tua dengan membekali mereka pe - nge tahuan ritual pijat bayi,” bebernya.

Sri noviarni