Edisi 22-07-2018
Modernisasi Pertanian untuk Sejahterakan Petani


JAKARTA- Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mencanangkan ”Program Pengembangan Pertanian Modern” untuk sejahterakan dan muliakan petani.

Kebijakan pemerintah yang mengutamakan keberpihakan kepada petani ini dicirikan dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif mulai pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pascapanen sehingga mengubah kegiatan usaha pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern (modernisasi pertanian).

Mentan mengatakan, modernisasi pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Hingga kini pihaknya telah menggelontorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke seluruh pelosok Tanah Air.

”Ini merupakan pertama dalam sejarah dan menjadi rekor terbanyak sepanjang sejarah pertanian Indonesia,” kata Mentan dalam keterangan tertulisnya kemarin. Dia menjelaskan, sejak 2015 Kementan telah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian dalam jumlah yang cukup besar.

Pada 2010–2014 jumlah bantuan alsintan yang dibagikan tidak lebih dari 50.000 unit dan pada 2015–2017 jumlah bantuan alsintan berbagai jenis yang dibagikan pemerintah kepada petani masing-masing berjumlah 157.493 unit, 110.487 unit, dan 321.000 unit atau naik lebih dari 600%.

”Demikian juga pada 2019, bantuan alsintan tetap akan diberikan kepada petani,” ujarnya. Amran menilai modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas komoditas pangan dan pendapatan keluarga petani sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien.

Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen, dan pascapanen, mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien. ”Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo bahwa modernisasi pertanian saat ini dibutuhkan agar kehidupan petani lebih sejahtera,” ujarnya.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, I Ketut Kariyasa menjelaskan, penggunaan traktor roda 2 dan roda 4, mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha, dan biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha.

Begitu pula penggunaan combined harvester mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%. ”Bahkan menekan kehilangan hasil dari 10,2% menjadi 2%, serta menghemat waktu panen menjadi 4 sampai 6 jam/ha,” ujarnya.

Ketut mengungkapkan, berdasarkan perhitungan sederhana, penggunaan alsintan mulai dari olah sawah hingga panen dapat menekan biaya produksi padi sebesar 6,5% dan meningkatkan produksi sebesar 33,8 % (dari 6,0 ton GKP/ha menjadi 8,1 ton GKP/ha).

Masing- masing bersumber dari penurunan kehilangan hasil sebesar10,9% akibat menggunakan combineharvester, peningkatan produktivitas11,0% akibat pengguna antran splanter yang mendorongpetanimenerapkan system tanam jajar legowo (jarwo), dan peningkatan produktivitas 11,9% akibat penggunaan inputlainnya yang membaik.”

Artinya mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani mencapai 80%, dari Rp10,2 juta/ha/musim menjadi Rp18,6 juta/ha/musim,” ungkapnya. Di samping itu, lanjut Ketut, modernisasi pertanian juga dapat mendorong minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap dunia pertanian.

Jika sebelumnya pertanian dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan untuk orang yang kurang pendidikan dan miskin, bekerja penuh lumpur di bawah terpaan sinar matahari serta lebih banyak mengandalkan kerja otot. ”Akan tetapi saat ini profesi petani modern merupakan pekerjaan yang menjanjikan dan dapat ditekuni secara profesional serta tidak lagi mengandalkan otot saja,” tutur Ketut.

Menurut dia, pendapatan yang diperoleh sebagai petani tidak kalah menariknya dan bahkan lebih besar dari upah atau gaji dari seseorang yang bekerja pada sektor non-pertanian. ”Pada kondisi seperti ini, tanpa perlu didorong, petani dengan sendirinya akan terus bersemangat untuk berproduksi,” katanya.

hatim varabi


Berita Lainnya...