Edisi 10-08-2018
2019, Publikasi Indonesia Akan Jadi No 1 di Asia Tenggara


PEKANBARU - Pemerintah me yakini bahwa jumlah publikasi internasional Indonesia akan berada di posisi per tama se-Asia Tenggara pada tahun depan.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir menga takan, posisi pub lika si in ter na sional Indonesia per 7 Agus tus mencapai 16.528 pub li kasi atau berada di posisi ke dua setelah Ma laysia yang me m i liki 17.211 pub - likasi. Nasir op timistis, tahun de pan Indonesia akan m enyalip Malaysia se bagai pemilik jum lah ter ting gi publikasi in - ter nasional se-Asia Tenggara. “Sekarang (selisihnya) h a - nya 700. Ini kerja keras luar biasa. Saya yakin 2019 Indonesia lead er di Asia Tenggara. Itu target saya,” kata Nasir pada per - ingat an Hari Kebangkitan Te kno logi Nasional (Hakteknas) di Pe kanbaru, Riau, kemarin. Dia menerangkan, per tum - buh an jumlah publikasi in terna sional Indonesia memang luar biasa. Pada 2015, riset yang ma suk publikasi internasional ha nya 5.400.

Hal itu me nye dih - kan karena jumlah penduduk In donesia sangat besar, bahkan jum lah perguruan tinggi men - ca pai 4.579, dosen di atas 260.000 orang. Ironisnya, pub - li ka sinya hanya 5.400 buah. Namun kini jumlah pu bl i - ka si internasional Indonesia me le bihi Singapura dengan 12.593 pub likasi dan Thailand 9.595 pub likasi. Padahal e m - pat tahun lalu posisi Indonesia ber ada di ba wah Negeri Gajah Pu tih tersebut. ‘’Negara tetangga kita tidak se berapanya dari Indonesia. Ta - pi publikasi (mereka) luar biasa se hingga inovasinya jauh lebih ba nyak daripada kita,’’ katanya.

Mantan Rektor Undip itu men jelaskan, salah satu cara un tuk menjadi nomor satu di Asia Teng gara adalah dengan adanya po tensi 32.000 lektor kepala do sen yang menjabat se bagai lek tor kepala dan ada 5.500 g u ru besar yang me mi - liki ke ha rus an meneliti. Jika me reka semua me neliti, akan ada 37.000 pu b li ka si baru. Dia menjelaskan, salah satu pe micu makin banyaknya pub - li ka si adalah adanya Peraturan Men teri Keuangan Nomor 106/2016 tentang Per tang - gung ja wab an Keuangan Pe ne - liti. Kini pe neliti tidak lagi di - be bani mem buat laporan pe - ma kaian per tanggung jawab - an keuangan. Nasir mengatakan, dengan ada nya Rencana Induk Riset Na sional (RIRN), telah di pe ta - kan 10 sektor riset yang di ang - gap penting untuk di kem bang - kan.

Pengelompokan 10 riset ini di koordinasikan karena riset mu lai sekarang harus ber da sar - kan demand side. Riset yang di - mak sud adalah pangan dan per - ta nian, kesehatan dan obatobat an, transportasi, infor ma - si, komunikasi dan teknologi, se r ta sosial dan humaniora. Nasir menjelaskan, salah sa - tu penyebab posisi Indonesia ter puruk pada Global Com pe ti - tiv e ness Index di World Eco no - mic Forum adalah tingkat ke - siap an teknologi Indonesia ma - sih rendah. Hal ini terjadi ka re - na dahulu riset belum di pe ta - kan. Setelah kini dipetakan, di - ke tahui bahwa riset Indonesia ma sih di tingkat dasar atau ha - nya sebatas berdebu di per pus - ta kaan dan belum terapli ka si - kan sehingga tidak ada inovasi yang tercipta. “Maka kami harus dorong ke ino vasi.

Kami harap Revolusi In dustri 4.0 bisa mendorong per ekonomian Indonesia yang ti dak lagi berbasis sumber daya alam, tetapi berbasis know - ledge,” ujarnya. Sementara itu Hakteknas Ke-23 di Pekanbaru mengambil te m a “Inovasi untuk Ke man di - ri an Pangan dan Energi”. Me - nur ut Menristek Dikti, dipilih - nya Riau dengan tema seperti itu karena kebutuhan pangan di Riau sangat tinggi, sementara pro duksinya masih kurang. Karena itu lewat kegiatan ter se but inovasi-inovasi yang ada di pemerintah pusat bisa di - per kenalkan ke Riau. Salah sa - tu nya Kemenristek Dikti sa - ngat mendukung inovasi sagu yang dikembangkan Pemprov Riau. Sebab sagu bisa menjadi pa ngan alternatif yang lebih se - hat daripada beras.

Sementara itu mantan Pre - si den BJ Habibie berharap, de - ngan adanya Hakteknas akan se ma kin banyak kerja sama an ta ra pemerintah pusat dan dae rah untuk menge mbang - kan tek no logi di Tanah Air. Ha - bibie me ngatakan, dia sangat ber syu kur bisa menghadiri Ha k teknas ta hun ini. Sebab pa da 23 tahun la lu dia m e ne - pati janji kepada men diang Pre siden Soeharto ba h wa In - do n esia bisa me lun cur kan dan me nerbangkan per da na pe sa - wat N-250 Gatotkaca pa da 10 Agustus 1995 di Bandung. Adapun Rektor Universitas In donesia (UI) Muhammad Anis mengatakan, pihaknya te - lah berupaya meningkatkan pe ne litian sejak 2015.

Se jum - lah ke bijakan strategis di tetapkan gu na mengangkat budaya r i set di UI. Terbukti, sejak 2016 UI te lah menggelar konferensi in ter na sional guna memacu pe ngem bangan budaya riset dan ino v asi serta m e ning katkan jum lah publikasi jurnal ilm iah internasional.

Neneng zubaidah