Edisi 10-08-2018
Ulama dan Elektabilitas


Keterlibatan kiai dan ulama dalam gerakan politik praktis sudah mengakar jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Kontribusi besar kiai dan ulama dalam perjuangan ke mer dekaan sedikit pun tidak diragukan. Sebagai komponen penting yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa, kiai dan ulama berperan proaktif dalam mem perjuangkan dan memerdekakan Bangsa Indo nesia dari belenggu penjajahan. Sebut saja misalnya nama KH Hasyim Asy’ari, KH Masykur, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Wahid Hasyim. Mereka terlibat lang sung dalam per juangan heroik-patriotik membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. KH Wahid Hasyim terkenal se bagai salah seorang Bapak Pendiri Republik dan anggota Tim Sembilan yang ikut me rumus kan Pancasila (usulan Soekarno) sebagai dasar NKRI.

Ikatan tradisional, kultural, dan paham keagamaan yang sama menjadi perekat kiai dan ulama bergabung dalam Partai Nahdlatul Ulama (1952-1973). Sebelum 1952, NU berstatus sebagai organisasi sosial-keagama andanbergabungdengan Partai Masyumi. Pada 1952, NU me mutuskan keluar dari Masyumi dan mendeklarasikan diri se bagai parpol inde penden. Kurun waktu 1973-1984, NU berfusi ke dalam Partai Per satuan Pem bangun an (PPP). Sejak 1984 sampai sekarang, NU kembali ke khittah 1926 (kembali menjadi organisasi sosial-keagama an dan tidak berafiliasi dengan par pol mana pun). Namun, keter libat an kiai dan ulama NU sebagai pribadi (tidak atas nama NU) tetap ber kibar di pang gung politik.

Kiai dan ulama NU menyan dang popularitas karena mereka me miliki banyak santri dan ko mu nitas. Pesantren yang mereka pimpin sekaligus ber peran se bagai jaringan politik yang efek tif terutama menjelang pemilu. Itulah sebabnya, kiai dan ulama NU juga memiliki potensi elektabilitas politik yang tinggi dalam pemilu.

Dua Kiai NU Jadi Cawapres

Parpol memanfaatkan popularitas dan potensi elektabilitas politik kiai dan ulama. Atas dasar pertimbangan dan kalkulasi politik inilah, KH Hasyim Muzadi (saat itu sebagai Ketua Umum PBNU) diusung sebagai cawapres men dampingi Megawati Soekarnoputri (capres dari PDI Perjuangan) dalam Pilpres 2004. Popularitas sosial-ke agamaan dan potensi elekta bilitas politik tampaknya sudah ada pada sosok Hasyim Muzadi. Karena itu, PDIP mengusungnya menjadi cawa - pres. Selama menjadi cawa pres, Hasyim Muzadi dinon aktifkan dari jabatannya se bagai Ketua Umum PBNU.

Lirikan yang sama dilaku kan oleh Partai Golkar dalam Pilpres 2004 dengan meng usung tokoh penting NU, KH Shalahuddin Wahid (Gus Sholah), sebagai cawapres men dampingi capres Wiranto. Tentu saja pinangan Golkar untuk Gus Sholah sudah me lalui kalkulasi politik, meng - ingat dia adalah pengasuh Pesantren Tebuireng, mempunyai santri, memiliki komunitas, dan dikenal luas oleh jutaan warga NU di seluruh Indonesia. Tidak hanya kiai dan ulama NU yang digandeng menjadi cawapres dalam Pilpres 2004. Tokoh yang berlatar belakang kulturNUjugadilirikolehpar pol peminat. Partai Demokrat meng gandeng Jusuf Kalla (JK) sebagai cawapres mendam pingi capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Selain dikenal se bagai tokoh Golkar, JK juga di kenal sebagai tokoh yang ber latar belakang kultur NU. Jadi, Demokrat mempunyai kepentingan untuk mendongkrak elektabilitas SBYJK agar per oleh an suaranya mening kat terutama dari kalangan massa Nahdliyin. Dalam pertarungan Pilpres 2004, PPP meng usung Hamzah Haz sebagai capres yang disandingkan dengan cawa pres Agum Gumelar. Hamzah Haz juga dikenal se bagai tokoh pen ting NU. Senin, 26 Juli 2004, hasil pil - pres diumumkan dengan distribusi perolehan suara sebagai berikut. Pasangan SBY-JK berada di urutan pertama dengan suara 33,57%; Megawati-Hasyim Muzadi (26,60%, Wiranto-Gus Sholah 22,15%); Amien Rais- Siswono Yudohusodo (14,65%); danHamzahHaz-AgumGumelar (3,00%).

Pasangan SBY-JK bertarunglagimelawanpasangan Megawati-Hasyim Muzadi pada putaran kedua, sedang tiga pa - sang an lainnya tersisih. Dalam Pilpres 2004 putaran kedua, pasangan SBY-JK tampil se - bagai pemenang. DalamPilpres2019yangakan datang, ada dua capres yang sudahpastiakanber tarung, ya itu Joko Widodo (calon peta hana yang diusung oleh PDIP dan mitra koalisinya) dan Prabowo Subianto (diusung oleh Gerindra dan mitra koalisi nya). Belajar dari pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya, popularitas dan potensi elektabilitas politik kiai dan ulama tentunya akan diperhitungkan dalam mengusung cawapres masing-masing. Nama ustaz, kiai, dan ulama yang muncul ke permukaan, antara lain KH Ma’ruf Amin yang akhirnya terpilih se bagai cawapres mendam pingi calon petahana Joko Widodo.

Nama ustaz Abdul Somad (UAS) juga sempat disebut se bagai bakal cawapres mendampingi capres Prabowo Subianto. UAS direkomendasi oleh forum Ijtimak Ulama sebagai bakal cawapres, tetapi UAS menolak karena yang bersangkutan sudah merasa nyaman di jalur kegiatan pendidikan, tabligh, dan dakwah. Namun Prabowo akhirnya memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres. Sebagai warga negara, kita berharap Pilpres 2019 ber langsung sesuai UU Pemilu, aman, dan damai. Kemenangan dan kekalahan dalam pilpres merupakan bagian dari demokrasi.

Faisal Ismail
Guru Besar Pascasarjana FIAI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta







Berita Lainnya...