Edisi 10-08-2018
Drama Cawapres


Dramatis dan mengejutkan. Ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan proses pengumuman calon wakil presiden (cawapres) pendamping Joko Widodo (Jokowi) untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 kemarin.

Di luar perkiraan banyak orang, Jokowi selaku petahana akhirnya memilih Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Adapun Prabowo Subianto akhirnya memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai cawapres. Keputusan memilih Sandiaga baru diumumkan koalisi Prabowo pada pukul 23.30 tadi malam. Pengumuman cawapres kubu Prabowo ini dilakukan tanpa kehadiran Partai Demokrat yang sebelumnya bergabung dengan koalisi ini. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga akan mendaftar ke Komisi Pemilihan (KPU) sebagai pasangan caprescawapres pada hari ini.

Drama di kubu Jokowi terjadi pada detik-detik akhir peng - umuman cawapres sore kemarin. Betapa tidak, hingga sore hari, nama yang santer disebut-sebut akan dideklarasikan sebagai pendamping Jokowi adalah Mahfud MD. Namun pada detik-detik akhir justru nama Ma’ruf Amin yang diumumkan sebagai cawapres. Keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin yang didukung oleh sembilan pimpinan partai politik ini kemungkinan besar didasari pertimbangan demi menjaga soliditas suara Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai ormas keumatan terbesar di Indonesia, NU bagi Jokowi beserta koalisinya memang tidak bisa begitu saja diabaikan aspirasinya.

Apalagi sehari sebelumnya elite PBNU sudah menyam paikan peringatan bernada ancaman mengenai kemungkinan nahdliyin tidak akan mendukung Jokowi jika pilihan cawapresnya tetap Mahfud MD. Mahfud memang kader NU, tetapi mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut dinilai bukan sosok yang merepresentasikan organisasi tersebut. Demi menghindari perpecahan suara NU yang bisa berakibat pada perolehan suara di pilpres, pilihan Jokowi akhirnya dijatuhkan kepada Ma’ruf Amin yang juga Rais Aam PBNU. Dalam hal meraih dukungan suara, keputusan Jokowi memilih Ma’ruf bisa disebut cermat.

Kiai dan ulama NU ini memang dikenal punya popularitas karena memiliki banyak santri dan jaringan politik pesantren yang bisa efektif dalam meraih suara di pemilu nanti. Selain mampu menyolidkan dukungan nahdliyin, Ma’ruf sebagai ulama senior juga merepresentasikan Islam. Salah satu titik lemah Jokowi selama ini adalah persepsi bahwa dia tidak memihak kalangan Islam. Dengan merekrut Ma’ruf, potensi serangan dari kubu lawan yang membawa isu agama juga sedikit banyak bisa diredam. Lantas, dari sisi ekonomi, bagaimana respons pasar dengan terpilihnya Ma’ruf Amin? Untuk mengukurnya memang masih harus menunggu perdagangan hari ini. Namun sebagian langsung merespons negatif dengan menyatakan bahwa keputusan Jokowi di luar ekspektasi pasar.

Sebab yang diharapkan pelaku pasar saham untuk mendampingi petahana adalah sosok yang memahami persoalan ekonomi. Untuk mengatasi situasi ekonomi dalam negeri yang kurang kondusif saat ini, sangat diperlukan sosok cawapres yang memiliki kemampuan mumpuni. Kemarin beberapa pengamat pun sudah mengingatkan agar dilakukan antisipasi terhadap kemungkinan aksi profit taking pada hari ini. Bagaimanapun Jokowi dan Prabowo telah memilih cawapres - nya. Berbicara soal kapasitas, kapabilitas, kompetensi, dan lainnya, siapa pun tokoh yang dipilih pasti memiliki plus-minus.

Hal yang terpenting adalah bagaimana pasangan capres dan cawapres ini menyiapkan visi-misi dan program kerja jika nanti mendapatkan amanah dari rakyat Indonesia. Tak kalah penting, elite politik harus menjamin proses Pilpres 2019 berlangsung dengan aman dan damai. Kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati bersama.

Berita Lainnya...