Edisi 10-08-2018
Teknologi Kuat, Negara Berdaulat


PesawatN-250Gatot Kaca bergemuruh di langit Bandara Husein Sastra negara, Bandung. Sayap pesawat melekuk indah membelah biru cakrawala, mengharubirukan hati bangsa Indonesia yang menyaksikan.

Peristiwa bersejarah itu tercatat pada 10 Agustus 1995. Sayangnya sebagian anak bangsa sudah melupakan peristiwa bersejarah tersebut. Mungkin banyak yang sengaja mengabaikannya. Bahkan bisa pula menilai peristiwa itu bukan hal penting bagi bangsa Indonesia. Terlepas dari itu semua, ke - berhasilan mengangkasakan pesawat terbang yang saat itu diproduksi PT IPTN adalah simbol penting kemajuan teknologi dalam negeri. Karena N-250 me - rupakan karya anak Indonesia. Berbekalprestasiitupemerintah menetapkan momentum penerbangan N-250 sebagai Hari Ke - bangkitan Tek nologi Nasional (Harteknas) melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 1995 yang ditand atangani Presiden RI kedua Soeharto.

Teknologi dan Kebijakan Nasional

Sejak penetapan Harteknas pada 1995 upaya penerapan dan pengembangan teknologi dalam negeri masih jalan di tem - pat. Tiada kemajuan teknologi yang signifikan. Teknologi da - lam negeri belum jadi tuan rumah di negeri sendiri. Padahal semangat Hartek - nas adalah upaya menggelora - kan teknologi dalam negeri. Hal itu tertulis tegas dalam Keppres No 71 Tahun 1995 yang mengamanatkan penerapan dan pe - ngembangan teknologi di bidang kedirgantaraan pada khususnya dan teknologi pada umumnya.

Kesadaraan atas pentingnya pengembangan teknologi nasional juga tertuang pada sejumlah regulasi seperti UU No 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Litbang dan Iptek, Peraturan Presiden No 106 Tahun 2017 tentang Kawasan Sains dan Teknologi, Peraturan Menteri Perindustrian No 33/M-IND/PER/7/2013 ten - tang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Terjangkau serta masih se tum - puk peraturan lain yang me - nempatkan teknologi se bagai sesuatu yang berharga. Lahirnya sederet aturan itu memberikan arahan terhadap upaya serta pihak mana saja yang terlibat dalam pengem bangan teknologi dalam negeri.

Namun aturan yang sudah tersusun itu hanya menjadi regulasi di atas kertas saja, tidak mampu diimplementasikan lebih nyata. Tidak terimplementasinya penguatan teknologi dalam ne - geri berdampak luas. Sejumlah indikator memperlihatkan ketertinggalan Indonesia dari negara lain. Pertama, Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan UNDP menem pat - kan Indonesia di posisi ke-113 dari 188 negara. Meraih angka 0,689 yang menempatkan ne - geri ini dalam kategori pem - bangunan kelompok mene - ngah. Hal itu disebabkan kesenjangan pendidikan.

Kesenjangan pendidikan juga terbukti dari data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2017. Dalam data IPM tersebut terlihat re - rata kelompok usia 25 tahun ke atas hanya menikmati pendidik an 8-10 tahun atau kelas IX. Suatu kondisi keterjang - kaua n pendidikan yang belum memadai. Kedua, dataGlobalInno vation Index 2017 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-87 dari 128 negara dalam pe ngem - bangan inovasi. Ke mam puan Indonesia masih ren dah bila dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Bahkan posisi Indonesia masih lebih rendah daripada Bosnia- Herzegovina yang menjadi negara nyaris hancur oleh konflik militer.

Ketiga, data BPS tahun 2000-2016 tentang impor me - sin bagi industri dalam negeri. Berdasarkan data tersebut, ketergantungan pada teknologi luar negeri masih tinggi. Pada 2016 tercatat nilai impor mesin bagi industri dalam negeri mencapai USD3,4 miliar dengan se - jumlah negara importir seperti Jepang dan China. Bahkan tidak sedikit pula impor mesin dari Thailand. Lebih memprihatinkan lagi impor terhadap barang kon - sumsi juga menunjukkan tren meningkat. Data BPS 2015 men - catat impor barang kon sumsi mencapai USD10,8 miliar, se - dang kan pada 2016 impor ba - rang konsumsi melonjak hing ga USD12,3 miliar. Hal ini me - nunjukkan produk konsumsi dalam negeri masih dikuasai negara-negara lain.

Ketergantungan pada impor mesin bagi kepentingan indus - tri dalam negeri memberikan pesan bahwa penguasaan tek - nologi yang berkaitan pada kepentingan industri masih memprihatinkan. Terobosan pemerintah mem perkuat teknologi dalam negeri dilakukan melalui pen - dekatan birokrasi dengan menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pen didik - an Tinggi sehingga terbentuk Kementerian Ristek-Dikti. Na - mun pembentukan itu belum juga memberikan manfaat luas. Hanya sebatas memindahkan dana Dikti sebesar Rp43 triliun dari Kementerian Pendidikan Nasional ke lembaga baru Kementerian Ristek-Dikti.

Kedaulatan dan Teknologi Dalam Negeri

Tidak seriusnya peme rintah, swasta, dan masyarakat mengembangkan teknologi dalam negeri berdampak pada ancaman kedaulatan negeri. Wilayah Indonesia yang ber lim - pah kekayaan hanya dinikmati bangsa lain karena bangsa Indo - nesia tak menguasai teknologi dalam pengolahan sumber daya alam. Selain itu ketergantungan teknologi secara perlahan mem - buatsuatubangsamen jadilemah terhadap bangsa lain. Hal ini merupakan ancaman serius jika teknologi dalam ne geri tildak dipersiapkan untuk melepaskan ketergantungan tersebut. Maka wajiblah pemerintah mengambil peran terdepan dalam pengembangan teknologi dalam negeri.

Tidak sebatas menerbitkan regulasi yang mengikat sebagai dasar ke bijaka n operasional, tetapi juga se - cara institusi pemerintah meng gunakan langsung tekno - logi dalam negeri pada semua kegiatannya yang diikuti pula sanksi tegas. Pada jangka panjang, peme - rintah harus mendorong pe - ngem bangan kualitas pen - didik an generasi muda yang berorientasi pada bidang sains, teknologi, enginering dan mate - matika (STEM). Penye dia an ge - nerasi berbasis STEM merupa - kan solusi mengurangi keter - ting galan bangsa ini dalam pe - nguasaan teknologi. Sebagai data, jumlah insi nyur di Indonesia hanya 750.000 orang. Jumlah itu berbanding jauh dengan populasi di Indo - nesia. Jumlah ini rendah di antara negara ASEAN lainnya.

Bahkan jumlah sarjana lulusan teknik setiap tahun hanya 11% dari total seluruh sarjana bidang keilmuan lain. Pada tahun ini rasio masuk fakultas teknik me - sin sekitar 1:10, padahal pada 1987-an peminat masuk fakul - tas teknik mesin di perguruan tinggi negeri terkemuka itu mencapai 6.000 orang, artinya rasio calon peserta 1:40. Fakta itu memperlihatkan minat penguasaan pada bidang STEM haruslah didorong. Ka - rena hanya dengan pengua saan bidang STEM, percepatan pada penguasaan dan pengem bang - an teknologi dapat tercapai. Selanjutnya penyediaan dana beasiswa pemerintah seperti LPDP perlu memprioritaskan bidang STEM sehingga keluaran nya nanti dapat ditujukan bagi pengembangan teknologi.

Tepat pada momentum Hari KebangkitanTeknologiNasional ini, mari tumbuhkan penya daran kolektif tentang arti penting pemanfaatan teknologi dalam negeri demi kemajuan bangsa. Pada akhirnya teknologi dalam negeri menjadi kuat dan Indonesia pun berdaulat. Selamat Harteknas.

Aris Setyanto Nugroho
Rektor Universitas Mercu Buana (UMB)





Berita Lainnya...