Edisi 12-09-2018
Kemenhan Borong 8 Heli Chinook


JAKARTA– Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memastikan pembelian pesawat angkut C-130 Hercules tipe J dan helikopter Chinook buatan Amerika Serikat.

Seluruh pesawat angkut berat itu akan memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI sesuai dengan rencana strategis minimum essential force(MEF). Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menjelaskan, pembelian seluruh pesawat tersebut untuk mendukung arsitektur pertahanan. Sebab pesawat angkut Hercules yang dimiliki Indonesia saat ini kondisinya sudah tua. Bahkan, ada pesawat Hercules dibeli sejak 1961. ”Pesawat Hercules ada yang buatan 1960-an. Pak Jokowi nggak mau, bilang pesawatnya sudah tua,” kata Menhan di Jakarta, kemarin. Menurut dia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengharapkan adanya regenerasi pesawat angkut berat terbaru.

Rencananya jumlah pesawat Hercules yang dibeli 5 unit. Anggaran untuk pengadaan pesawat tersebut juga sudah dialokasikan. Sedangkan untuk pengadaan helikopter angkut, pihaknya berencana membeli Chinook karena cocok dengan kebutuhan operasi terutama dalam misi bantuan kemanusiaan. Sebelumnya Mabes TNI ingin membeli Heli MI-26 buatan Rusia. Namun, heli ini dinilai tidak layak untuk operasi di Indonesia. ”Karena dengan jarak 100 meter, empasan angin dari baling-baling bisa menyebabkan genteng-genteng rumah warga bertebangan. Butuh lapangan yang luas, nggak cocok itu,” ujarnya.

Terkait dengan pengadaan pesawat tempur Sukhoi (Su) 35 sebanyak 11 unit, Ryamizard memastikan pesawat akan diterima pada Oktober 2019 bertepatan dengan HUT TNI. Mantan Pangkostrad ini juga menyampaikan bahwa Indonesia tidak akan terkena sanksi dari Amerika Serikat terkait dengan rencana pembelian pesawat tempur buatan Rusia tersebut. ”Waktu saya ketemu di Hawai, Menhan Amerika Serikat James Mattis bilang, nanti saya akan urus itu semuanya. Jadi saya percaya itu,” katanya. Ryamizard menambahkan, Kemenhan telah melaksanakan tugasnya menandatangani pengadaan pesawat tempur tersebut, tinggal Kementerian Perdagangan karena terkait dengan imbal dagang.

”Sukhoi, Oktober tahun depan, dari perdagangan belum. Menhan sudah selesai. Anggaran USD1.140 juta,” ungkapnya. Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksamana Muda Agus Setiadji menjelaskan, pembelian lima unit Hercules C-130 tipe J terbaru ini sudah dalam proses. Bahkan, diupayakan pembelian lebih dari itu tergantung pada negosiasi. ”Nilainya USD500 juta. Karena Hercules kita kan banyak yang mau grounded. Prosesnya kalau lancar 36 bulan. Ini jenis terbaru sekali dan hanya beberapa negara yang punya. Indonesia termasuk negara yang punya Hercules terbaru,” katanya.

Sedangkan untuk pengadaan helikopter Chinook, Kabaranahan menyebutkan, Kemenhan berencana membeli delapan unit helikopter menyusul dibatalkannya rencana pengadaan helikopter VVIP. ”Artinya, Chinook itu ada 6 tambah 2 jadi delapan nilai USD330 juta,” ujarnya. Kabaranahan juga memastikan rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia tidak akan berbuntut sanksi dari Amerika Serikat. ”Optimistis (tidak ada sanksi), jadi dari pihak James Mattis menyam - paikan bahwa sudah ada pendelegasian dari parlemen kepada Presiden Trump untuk mengambil keputusan waiver. Jadi, membatalkan sanksi. Optimistis tidak kena sanksi Indonesia. Ini disampaikan sendiri oleh Jenderal Mattis,” ungkapnya.

Mengenai jumlah pesawat Sukhoi (Su) 35 yang dibeli tetap 11 pesawat. Kalau tahun ini kontrak efektif berupa pembayaran uang muka sebesar 15% dari nilai penjualan, maka proses pembelian sudah berjalan. ”Tanda tangan kontrak sudah, tapi belum efektif. Efektif apabila uang muka dibayar. Besarannya 15% dari nilai jual,” ujarnya. Dia menambahkan, secara keseluruhan pemenuhan MEF baru 62,57%. Pihaknya menargetkan tahun depan akan ada peningkatan.

”Kendalanya di anggaran. Uangnya belum cukup kita. Pada tahun depan bisa 70% target di 2019. Alutsista yang sudah ditandatangani sudah banyak seperti pesawat Sukhoi, rudal pertahanan ibu kota, medium tank, kapal perusak kawal rudal (PKR), serta kapal selam,” ujarnya.

Sucipto