Edisi 12-09-2018
Tawuran, 202 Siswa Terjerat Hukum


JAKARTA– Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sekitar 202 anak berhadapan dengan hukum akibat terlibat tawuran dalam rentang dua tahun terakhir hingga 2018.

Komisioner KPAI Putu Elvina mengatakan, dari jumlah itu, sekitar 74 anak terjerat kasus kepemilikan senjata tajam. Menurut dia, belum ditemukannya formula dan jalan keluar yang efektif untuk menghentikan tradisi tawuran menyebabkan banyak pelajar yang terjerat dalam kasus ini. ”Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Tawuran pelajar merupakan siklus kekerasan yang terjadi dalam satu sekolah maupun antarsekolah,” tandas Elvina di Jakarta kemarin. Apalagi, lanjutnya, dampak yang diakibatkan tawuran sangatlah luar biasa baik kerusakan fasilitas sekolah maupun publik, teror, kehilangan jiwa dari kedua kelompok yang berkelahi, dan tidak jarang menyasar masyarakat di sekitar lokasi.

Dia juga menilai penegakan hukum terhadap pelaku tawuran tidak akan optimal bila tidak dibarengi dengan membangun budaya hukum yang positif. ”Ancaman pengeluaran dari sekolah tidak akan menyelesaikan masalah karena juga akan berdampak pada masalah sosial lainnya,” ujarnya. KPAI juga mengingatkan para guru untuk ikut serta mendisiplinkan siswa untuk mengurangi terjadinya tawuran.

Namun, KPAI meminta tidak menggunakan kekerasan dalam mendisiplinkan siswa di sekolah. ”Guru di sekolah juga wajib memberikan pengarahan kepada siswa agar tidak terjadi tawuran antarsekolah,” kata Wakil Ketua KPAI Susanto.

Binti mufarida