Edisi 12-09-2018
Tingkatkan Penguji hingga Sterilisasi Satpas


JAKARTA– Polda Metro Jaya terus memaksimalkan layanan pembuatan surat izin mengemudi (SIM). Peningkatan sumber daya manusia (SDM) hingga sterilisasi kawasan Satpas SIM di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, digencarkan.

Kepala Seksi Satpas SIM Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kompol Fahri Siregar memastikan pelayanan SIM di jajarannya menjadi lokasi percontohan se-Indonesia. Selain para penguji tersertifikasi, tempat yang ada sangat aman dan nyaman. ”Kami ingin ciptakan kualitas pengendara. Maka, kami tingkatkan kualitas SDM. Sertifikasi kami berikan selama dua tahun. Bila selesai mereka harus ikut ujian lagi untuk mendapatkan sertifikasi,” ujar Fahri di Daan Mogot, Jakarta Barat, kemarin. Setiap penguji yang melanggar akan dicabut sertifikasinya. Hal inilah yang kemudian menjadi tekanan penguji di Satpas SIM. Lalu, demi menciptakan etika berkendara dan meningkatkan kualitas pengendara, Satpas mengajak masyarakat mengerti terhadap kendaraan.

Pembelajaran dan pemahaman berkendara serta penanganan emosi dilakukan. ”Semacam ini bisa dilakukan dari rumah. Kebiasaan baik akan memunculkan kebaikan. Karena itu, kami mengajak orang tua untuk menularkan kebiasaan baik, misalnya memakai helm saat berkendara,” tutur Fahri. Berdasarkan pantauan, setiap pengantar dilarang masuk gedung utama Satpas SIM Daan Mogot. Di dalam gedung petugas memberikan tanda pengenal pengunjung. Tanda ini didapat setelah pemohon memperlihatkan surat dokter dan surat-surat lain pada petugas jaga. Setelah itu pemohon diminta langsung membayar ujian SIM. Kemudian petugas mengarahkan untuk berfoto sebelum mengikuti rangkaian tes.

”Kenapa berfoto dulu karena kita dapat melihat ketika melaku kan uji teori dan praktik,” kata Fahri. Berbagai tahapan uji teori dan praktik membuat pemohon tak mudah dalam mendapatkan SIM. Uji praktik akan memperlihatkan kemampuan berkendara. ”Pada dasarnya kami ingin menciptakan kualitas berkendara yang aman dan nyaman,” ucapnya. Seusai melakukan semua yang diuji dan dinyatakan lulus, pemohon bisa mendapatkan SIM di timur gedung utama. Bila tak lolos, pemohon bisa melanjutkan di hari-hari berikutnya. Menurut Fahri, sistem SIM di Jakarta kini sudah canggih. Proses manual diubah menjadi sistem online. Karena itu, tak jarang pemohon SIM yang berasal dari luar daerah.

Termasuk saat SIM hilang dengan melampirkan bukti kehilangan dan fotokopi SIM yang ada maka proses pembuatan SIM hanya tinggal mencetak. Melihat ketatnya pengamanan dan akses masuk sangat sulit praktik calo dilakukan di kawasan Satpas SIM Daan Mogot. Ditambah lagi petugas hilir mudik membuat calo dijamin tak berani masuk Satpas. Rudiyanto, 33, pemohon SIM, mengaku senang memperoleh SIM C. Dia sempat mengalami gagal tes empat kali. ”Saya terima kalau gagal. Ini menunjukkan kualitas mengemudi saya belum sempurna. Karena itu, ketika gagal saya belajar lagi,” katanya. Fetty Leo Minora Tambunan, 36, warga Percetakan Negara, Jakarta Pusat, juga sempat gagal tiga kali dalam pembuatan SIM.

”Saya gagal karena saat praktik kaki saya turun,” ucapnya. Dia kemudian bertekad untuk lolos. Berkat kerja keras dan latihan dia akhirnya mendapatkan SIM C sesuai prosedur. ”Bayar semuanya hanya Rp155.000,” ucapnya.

Yan yusuf