Edisi 12-09-2018
Dilema Turki


Seperti seorang pelari maraton, Turki tampak terengah-engah kehabisan napas menjelang garis akhir.

Kedudukan organisasi teroris Haya’t Tahrir al-Sham yang terpojok di Provinsi Idlib dianggap sebagai tanda-tanda akan berkurangnya konflik bersenjata dan kemungkinan akan lahir nya proses negosiasi dan di plo masi untuk menyelesaikan konflik di Suriah. Krisis ekonomi dalam negeri, ancaman ge lom bang pengungsi dari Provinsi Idlib, dan ancaman sanksi eko nomi AS menyebabkan posisi Turki dalam percaturan politik in ternasional semakin lemah.

Turki dulu adalah negara yang dapat memengaruhi nasib pihak-pihak yang bersengketa dalam perang proksi di Suriah, tetapi nasibnya saat ini justru akan di tekan oleh pihak-pihak tersebut bila tidak dapat me nyelesaikan tiga masalah pokok di atas. Turki adalah salah satu negara yang tingkat per tum buhannya tertinggi kedua di dunia pada 2010, menyusul China (Tiongkok) sebelum perang Suriahbermula pada 2011. Ting kat pertumbuhan ekonomi Tur ki adalah 9,2% pada 2010, 8,8% pada 2011, namun lang sung turun tajam 2,2% pada 2012. Angka itu kemudian kembali tumbuh tinggi karena didorong oleh tingkat konsumsi yang cukup masif walaupun melubangi neraca negara yang se ma - kin luas defisitnya.

Dana asing yang mengalir melalui surat obligasi dan pasar saham me nam bal lubang itu, namun dengan risiko mudahnya danadana asing itu “pergi” hanya ka rena sentimen-sentimen seperti yang terjadi tiga bulan b e lakangan ini. Defisit yang berjalan tentu terkait dengan produktivitas yang rendah di dalam negeri, namun keterlibatan Turki da - lam perang di Suriah juga menjadi salah satu sebab pe nge luaran Turki membengkak. Turki awalnya berusaha men ja ga hubungan baik dengan Su riah, terutama Presiden Assad. Dua negara memiliki hu bu - ngan bilateral yang baik. Turki misalnya menjembatani ne gosiasi antara Suriah dan Israel pada 2007 terkait konflik di Dataran Tinggi Golan. Israel tidak memiliki hubungan di plomatik dengan Suriah, namun berhubungan baik dengan Turki.

Suriah dan Turki juga mendirikan Dewan Kerja Sama Tingkat Tinggi Quadripartit pada Juni 2010 bersama Yor dania dan Lebanon demi mencip takan zona pergerakan be bas barang dan orang-orang. Turki mulai terlibat ketika mulai membuka perbatasan dan wilayahnya untuk peng ung sian pada Maret 2011. Awal nya jumlah pengungsi adalah 250 orang dan ditam pung di wilayah Hatay dan ke mudian menjadi 10.000 orang pada Juni. Turki adalah satu di antara penanda tangan Kon vensi 1951 tentang Pengungsi di mana ada kewa jiban untuk me nerima dan mem berikan sta tus pengungsi bagi warga yang mencari per lin dungan. Turki saat ini menampung lebih dari 3,7 juta pengungsi dari Suriah.

Kehadiran jutaan pengungsi itu juga membuat Turki menjadi basis berdirinya organisasi-organisasi perlawanan atau pemberontak melawan Pemerintah Suriah. Turki juga pada ak hirnya terlibat dalam mengon di sikan dan membantu organisasiorganisasi itu berkembang seiring dengan banjirnya bantuan militer dari negara-negara Barat, terutama AS dan Eropa, kepada kelompok-kelompok pemberontak. Hal ini yang me nyebabkan ketegangan dengan Pe - me rintah Suriah menjadi se makin tajam. Turki juga menerima bantuan dana dari beberapa negara untuk menghidupi para pe ngungsi selain uang dari kantong mereka sendiri. Otoritas Pe - nang gulangan Bencana dan Kejahatan Turki (AFAD) adalah satu di antara pihak yang me ngalokasikan program dan dana untuk pengungsi.

Sebelum pe - rang, lembaga ini meng ha biskan sekitar USD395 juta per ta - hun dan bertambah lebih dari 75% menjadi USD1,5 miliar pada 2011, dan USD1,7 miliar pada 2012 sebagai akibat lang - sung dari perang sipil Suriah. Turki telah mengalokasi pe nge - luaran lebih dari USD30 miliar pada 2018 ini di saat negaranegara lain mengurangi kontri - busi sumbangannya. Ada sisi positif dan negatif secara ekonomi karena keha diran pengungsi di Turki. Sisi po si - tifnya adalah tersedia para pekerja yang dapat mendorong per ekonomian skala kecil di beberapa kota pengungsi. Sebagian pengungsi juga dapat mem - buka toko-toko kecil untuk membiayai hidup mereka. Kegiatan-kegiatan kemanusiaan di sekitar kampung-kampung pengungsian juga menim bulkan efek domino yang positif bagi perekonomian lokal.

Sisi negatifnya, penduduk lokal merasa terjadi pe ning katan pengangguran karena kom - petisi dengan tenaga kerja pengungsi dari Suriah. Hal ini terjadi khususnya di sektor in formal yang proporsinya lebih besar daripada sektor formal. Para majikan di Turki lebih ber sedia mempekerjakan para pengungsi Suriah dengan ting kat pen didikan yang sama de ngan mayoritas warga Turki ka rena tidak perlu membayar pajak jaminan sosial. Karena itu, para pengung si semakin banyak dipe kerjakan di sektor informal, menggan tikan pen du duk Turki yang berkeahlian rendah.

Situasi mulai berubah total ketika Donald Trump me mimpin Amerika Serikat. Keeng ganan AS untuk terlibat dalam perang Suriah secara konkret diterjemahkan dengan ber ku rangnya bantuan baik dana dan teknis kepada kelompok-ke lompok pemberontak. Di satu sisi, Rusia mulai terlibat mem bantu Suriah pada 2015 dan menimbulkan kehancuran ke lom pok pem be rontak mulai dari kelompok radikal seperti ISIS hingga kelompok moderat seperti Front Perlawanan Su riah. Satu persatu basis pem be rontak dapat dikuasai oleh Pe merintah Suriah dan sebagian besar tersisa di Provinsi Idlib Suriah. KTT Rusia, Turki, dan Iran di Te heran minggu lalu sejatinya adalah membahas situasi terakhir di Idlib ini.

Konferensi Astana tahun lalu telah me netapkan provinsi ini sebagai satu dari empat de-escalation zone. Provinsi Idlib adalah yang terbesar selain Latakia, Aleppo, dan Hama. Menurut perjanjian, tidak ada pesawat tempur yang diizinkan untuk me ner bang - kan misi di wilayah yang ter - masuk dalam zona aman. Namun, masalahnya, ke - lompok teroris juga meman - faat kan kesepakatan itu untuk berlindung bersama dengan kelompok-kelompok yang mo - derat. Kelompok moderat ada - lah kelompok pemberontak yang bersedia mengambil jalan negosiasi daripada kekerasan. Ini yang menjadi alasan bagi Pemerintah Suriah yang tentu didukung oleh Rusia untuk melakukan penguasaan total di pro vinsi tersebut.

Turki mengharapkan agar tidak ada penyerangan total di Provinsi Idlib karena khawatir terjadi gelombang pengungsi besar-besaran yang akan menye berang ke Turki. Ter pe nu hi - nya harapan ini sangat ter gantung dari belas kasihan atau niat baik dari Rusia dan Iran karena Turki tidak lagi memiliki du kungan AS seperti sebelumnya. Dalam KTT Rusia, Turki, Iran itu sendiri, khususnya Rusia, mengambil jalan tengah yaitu dengan meminta Turki unt uk memulai upaya diplomasi dengan kelompok pemberontak baik yang radikal dan moderat untuk mengarahkan mereka ke jalur diplomasi.

Rusia dan Suriah tetap akan menyisir wilayah-wilayah yang sepi penduduk. Apabila Turki gagal untuk menunaikan tugas tersebut, Rusia segera membantu Suriah membebaskan Pro vinsi Idlib dari kelompokkelompok pemberontak. Tiga ke pala negara juga mem bi ca rakan penggunaan mata uang se - lain dolar AS dalam per da gangan antarmereka. AS dan Eropa sendiri telah me nyatakan bahwa akan me lakukan intervensi apabila di temu kan ada penggunaan senjata kimia. Apabila hal itu terjadi lagi, maka posisi politik Turki mungkin akan semakin sulit antara mendukung Suriah atau membantu AS yang sudah d i jadikan musuh karena dianggap biang keladi rusuhnya ekonomi di Turki.

Turki juga menuduh AS membantu kelompok Kurdi untuk memiliki wilayah otonomi. Turki sendiri membutuhkan Eropa untuk membantu pe mulihan ekonomi mereka. Dan, kita tahu hubungan per dagangan dengan Eropa sangat penting bagi Turki meski Eropa kerap memprotes pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Turki. Pengalaman Turki ini menggambarkan ragam dilema yang dialami Turki dan tarik-menarik kepentingan antarnegara terkait pemecahan konflik.

Pada akhirnya negara-negara yang bertetangga dekat menjadi penanggung jawab utama. Pilihan Turki akan me me ngaruhi pula nuansa penanganan migran, konflik bersenjata, dan kerja sama ekonomi antarkubukubu politik global yang mulai mengental.

Dinna Wisnu, PhD
Pengamat Hubungan Internasional @dinnawisnu