Edisi 12-09-2018
Gudang BPBD Disulap Jadi Sekolah Sementara


BEKASI – Kegiatan belajarmengajar di SDN 1 Ridhogalih, Cibarusah, Kabupaten Bekasi sangat miris. Puluhan siswa sekolah tersebut terpaksa belajar di gudang milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi.

Mereka mengungsi lantaran bangunan sekolahnya roboh dan tak kunjung dibenahi. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak dua tahun lalu. “Kare na bangunan sekolah sebelum nya hancur, atapnya ambruk,” kata Ahmad, 43, guru SDN 1 Ridhogalih kemarin. Awalnya siswa bersekolah seperti biasa di bangunan lama. Namun karena tak kunjung diperbaiki, kondisi bangun an semakin rapuh sehing ga membahayakan siswa dan guru. “Terakhir ada atap yang ambruk, jadi ya sudah kami pindah saja. Ada gudang mi lik BPBD, kami menum - pang,” ucapnya. Lokasi gudang BPBD berdampingan dengan bangunan SDN 1 Ridhogalih

Gudang tersebut biasanya untuk menam - pung bantuan logistik penang - gu langan bencana wilayah selatan di Kabupaten Bekasi. Gudang BPBD ini lantas digunakan oleh siswa kelas I hing - ga VI. Setiap kelas hanya di ba tasi papan tulis. Beberapa di an ta - ranya memakai tripleks yang disusun membentuk ruang an se tengah tertutup. Kon disi ini jauh dari kenya man an. Susunan tripleks pem ben tuk ruangan itu hanya memi liki tinggi sekitar 120 cm. Proses belajar-mengajar pun menjadi tidak efektif. Suara guru yang menerangkan di satu kelas kerap terganggu dengan guru lain yang juga menerangkan di kelas lainnya. Belum lagi jika ada kelas yang gaduh ke mudian spontan terdengar ke kelas lain.

“Anak-anak jadi enggak fokus belajar. Terus kalau guru sedikit saja suaranya lebih kencang saat menerangkan pasti mengganggu kelas lainnya,” ujar Ahmad. Selayaknya gudang pada umumnya gudang BPBD ini tidak memiliki jendela. Gudang dikelilingi tembok dan gerbang besi berukuran 4x3 meter. Gudang minim ven ti lasi sehingga siswa maupun gu ru sering tidak nyaman ka re na suhu dalam gudang panas. Selain enam kelas yang dibatasi tripleks, ada juga ruang guru yang disatukan dengan ruang kepala sekolah dan ruangan tata usaha. Akibat kondisi sekolah yang tidak kun jung membaik, jumlah mu rid makin sedikit. Saat ini SDN 1 Ridhogalih hanya be risi kan 90 siswa.

Dia berharap keprihatinan ini segera berakhir dengan dibangun kembali bangunan sekolah yang lama. “Cuma minta dibangun saja. Kasihan anakanak sekolahnya enggak layak. Belajar juga susah, pemerintah harus buka mata,” ucapnya. Kabid Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi Heri Herlangga mengatakan, perbaikan bangunan SDN 1 Ridhogalih sebenarnya telah diajukan melalui APBD 2016, namun pembangunan tidak dilakukan lantaran gagal lelang. “Memang karena loka si nya tidak nyaman padahal su dah diajukan untuk dibangun dan masuk anggaran, tapi sa yangnya gagal lelang. Kami ajukan lagi pada APBD 2019,” ujarnya.

Menurut dia, kebijakan memindahkan siswa tidak memung kinkan lantaran sekolah harus dekat dengan domisili para siswa. Maka itu, gudang BPBD tetap digunakan. “Jujur, saya merasa miris anak-anak didik harus belajar di gudang, ini karena keterbatasan tempat. Kami akan melakukan penataan dan memasang kipas angin,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Jejen Sayuti mendesak pemerintah daerah segera memperbaiki infra struktur SDN 1 Ridhogalih. Ang garan perbaikan sekolah pasti dialokasikan jika pemerintah daerah mengusulkan. “Tahun depan kita bangun. Kasihan siswa dan guru di sekolah itu. Pemerintah semestinya peka,” ucapnya.

Abdullah m surjaya