Edisi 12-09-2018
Mewaspadai Potensi Ketidakseimbangan Baru


Indonesia bersama banyak negara lain sedang menyongsong ketidakseimbangan (disequilibrium) baru jika Amerika Serikat (AS) terus berperilaku ugal-ugalan dalam mengelola perekonomiannya.

Untuk mereduksi ekses dari ketidakseimbangan baru itu, Indonesia memang harus melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi. Jikapenyesuaiantidakse gera dilakukan, Indonesia justru akan terlihat konyol. Sebab, dampak ketidakseimbangan baru akan menghadirkan beberapa dampak, yang langsung maupun tak langsung, akan membuat banyak orang tidak nyaman. Bersyukur bahwa pemerintah telah berani menginisiasi langkah pertama dari upaya penyesuaian kebijakan itu dengan me naikkan tarif pajak peng hasilan ( PPh) impor atau PPh Pasal 22 atas 1.147 komoditas atau produk. Termasuk dalam daftar barang yang PPh-nya dinaikkan itu adalah impor mobil-mobil eksotis berkubi kasi besar dan barang mewah lainnya. Sudah barang tentu penye - suaian kebijakan itu tidak asalasalan.

Pemerintah tetap mengalkulasi kebutuhan konsumsi masyarakat serta menjaga kebutuhan dan keberlanjut an aktivitas industri dalam negeri. Namanya juga penyesuai an dengan situasi dan kon disi, tentu saja penyesuaian kebijakan itu tidak berstatus harga mati. Kebijakan menaikkan PPh impor itu bisa diubah lagi jika situasinya sudah memungkinkan. Jadi, bagi konsu - men yang ingin membeli sedan eksotis, tas mahal, dan arloji super mewah, Anda tidak dila - rang untuk belanja meski dengan risiko membayar belanjaan lebih mahal dari sebelumnya. Kalau ingin mendapatkan harga murah atau moderat, Anda hanya diminta menunda dulu sampai terwujudnya keseimbangan baru atau ber akhirnya gejolak nilai tukar valuta.

Boleh jadi, penyesuaian ke - bijakan oleh pemerintah akan berlanjut dengan model pendekatan lain jika bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), meneruskan skenario men dongkrak suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate (FFR) dan Presiden Donald Trump mengeskalasi perang dagang. Selain impor barang mewah dan komponen barang modal, Indonesia juga impor bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan. Ada BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi. Demi menjaga daya beli masyarakat dan kondusi - vitas di tahun politik, peme rin - tah sudah berketetapan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Terhadap tarif dasar listrik, arah kebijakan pemerintah pun terlihat sama.

Sudah barang tentu Pertamina dan PLN harus bekerja keras menjaga likuiditas. Untuk memenuhi permintaan dalam negeri, Indonesia pun secara reguler impor belas an komoditas pangan, meliputi beras, gula, kedelai, tepung terigu, susu, jagung, gandum dan meslin, garam, minyak goreng, kentang, lada, mentega, telur, daging, hingga buah-buahan. Per semester pertama 2018 belanja pangan impor bernilai USD8,18 miliar. Nilai ini mencerminkan lonjakan sebesar 21,64% dibanding semester pertama 2017. Dengan dolar AS yang kini terapresiasi, nilai belanja pangan impor sudah pasti mengalami pembengkakan. Itulah beberapa risiko yang tak bisa dihindari Indonesia- dan juga sejumlah negara lain - akibat gejolak nilai tukar atau lonjakan kurs dolar AS.

Penguat an nilai tukar dolar AS yang ekstrem itu biasanya merusak keseimbangan neraca transaksi berjalan, neraca pem bayaran, neraca perdagangan, dan juga neraca jasa. Masalah inilah yang harus dikelola dengan sangat hati-hati melalui penyesuaian kebijakan. Penyesuaian kebijak an menjadi keharusan bagi Indonesia guna meminimalkan kerusakan akibat gejolak nilai tukar valuta dan ekses perang dagang dua raksasa ekonomi, AS versus China.

Seperti sudah diketahui bersama, Fed berencana masih akan menaikkan FFR hing ga paruh per tama 2019. Semen tara itu, Presiden Trump su dah meng ambil ancangancang meng eskalasi perang dagang AS dengan China. Sabtu (8/9) pekan lalu Trump sudah menegaskan bahwa dia akan me naik kan tarif produk dari China men jadi USD267 miliar do lar AS, dari skenario sebelum nya yang USD200 mi liar. China tak ting gal diam. Beijing menya ta kan akan membalas skenario Trump itu walau - pun dengan risiko perdagangan global men jadi se ma kin tidak kondusif.

Ugal-ugalan

Langkah The Fed untuk terus mendongkrak FFR dan tindakan Trump mengeskalasi perang dagang dengan China mendorong perekonomian global menuju ketidaksei mbang an baru. Dan, ketika dunia melihat bahwa dua raksasa ekonomi itu sulit menemukan kompromi, perekonomian global kini sedang menyongsong ketida kseim bangan baru itu. Dengan menaikkan FFR secara berkelanjutan, The Fed secara tidak langsung menarik valuta dolar AS dari pasar uang di sejumlah negara berkem bang. Untuk memelihara momentum dan mencegah panik di pasar, otoritas moneter sejumlah negara, termasuk Indonesia, harus mampu menyediakan dolar AS sejumlah yang diminta pemilik dana dan investor.

Prinsipnya, likuiditas dolar AS tidak boleh kering-kering amat walaupun dengan biaya pengadaan yang lebih mahal. Berapa pun besaran atau volume yang diminta pemilik dana atau investor, otoritas moneter harus mengupayakan ketersediaan dolar AS di pasar. Selain itu, negara dengan model perekonomian seperti Indonesia pun harus mengeluarkan lebih banyak daya dan dana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat domestik seperti belanja pengadaan BBM dan komoditas pangan. Ketika nilai impor membengkak dan nilai ekspor menciut, itulah ketidakseimbanganyangharusdiseriusi. Apalagi jika beban itu masih harus ditambah dengan kewajiban membayar utang luar negeri yang jatuh tempo.

The Fed mendongkrak FFR untuk menjaga momentum per tumbuhan sekaligus menyehat kan likuiditas di AS. Sedang - kan perang tarif yang dilancar - kan Trump bertujuan menyehat kan neraca perdagangan AS dengan semua mitranya. Jangan lupa, Trump juga mengancam pro dusen mobil dari Eropa dengan rencana menaikkan tarif impor. Namun, dua ske nario ini dinilai sebagai perilaku ugalugalan AS dalam mengelola per - ekonomi an nya. Trump sendiri tidak sepa kat dengan skenario The Fed. Sebab, patokan kurs dolar AS ter hadap sejum lah valuta lain nya tidak mencerminkan fundamen tal ekonomi AS yang sebenar nya. Artinya, nilai tukar dolar AS se karang ini tidak mencer minkan kejujuran, tetapi levelnya dipaksakan.

Sementara itu, paraeko nomdisekitarTrump pun tidak semuanya setuju dengan inisiatif perang tarif ala Trump. Skenario The Fed me naik kan FFR secara berkelanjutan tidak hanya menyebabkan keringnya likuiditas valuta dolar AS di negara berkembang, tetapi juga menyebabkan durasi gejolak nilai tukar jauh lebih lama dan sulit diperkirakan. Sedangkan aksi Trump melancarkan perang tarif akan mendorong dunia kem bali pada perilaku proteksionistis untuk menjaga dan melindungi kepentingan nasional masing-masing. AS mendorong dunia untuk merusak kesepakatan global tentang mekanisme perdagangan glo bal yang tertuang dalam aturan main Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

Namun, pada akhirnya, AS akan menerima getahnya sehingga, cepat atau lambat, The Fed dan Trump harus berhenti berperilaku ugal-ugalan. Ke - tika perbankan dan pasar uang AS mengalami kelebihan likui - ditas yang ekstrem, The Fed pada akhirnya akan dipaksa untuk memosisikan FFR pada level yang realistis. FFR yang terlalu tinggi berpotensi mem - bunuh industri AS karena ber - konse kuensi pada turunnya daya saing produk AS di pasar ekspor. Lalu, ketika aksi Trump melancarkan perang tarif dibalas oleh mitra dagang, persoal annya akan menjadi sangat serius. Trump harus berhadapan dengan aspirasi konsumen dan industri di dalam negerinya sendiri.

Sebagian kebutuhan konsumen AS dipenuhi oleh produk impor. Sebaliknya, AS juga ekspor sejumlah produk. Tidak ada yang tahu sampai kapan AS akan berperilaku ugalugalan seperti sekarang. Namun, komunitas internasional mencatat bahwa ada kegelisahan di AS akibat sepak terjang Trump. Pemerintahan Trump diketahui tidak solid karena rongrongan dari orang-orang di sekitar Presiden AS itu. Trump dinilai tidak kredibel dan cenderung ngawur. Walau pun tidak mudah, sudah muncul semangat untuk mengoreksi gaya Trump memerintah.

Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia





Berita Lainnya...