Edisi 19-09-2018
Agen Bri Link Solusi Di Tengah Likuiditas Ketat


JAKARTA –Produk Layanan Laku Pandai PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) atau agen BRILink semakin dibutuhkan untuk menggali potensi ekonomi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Peranan teknologi seperti layanan BRILink menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian masyarakat di saat kon disi ekonomi yang tengah ter tekan. Rektor Universitas Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan telah melakukan penelitian dampak positif layanan Laku Pandai oleh perbankan.

Menurutnya, dari kawasan pinggiran di empat kota besar tercatat hanya kurang dari 30% tidak memiliki akses ke per bankan dengan berbagai alasan. Salah satunya masyarakat pinggiran kota menganggap pergi ke bank itu sangat merepotkan terlebih hanya sekadar bayar tagihan listrik atau PDAM.

“Mereka berat menabung Rp100 ribu tiap bulan namun mampu sisihkan Rp10 ribu setiap hari. Bank konvensional tidak mampu melayani segmen unbankable itu, bahkan untuk di pinggiran kota besar.

Harus ada model bisnis baru bagi yang menabung hanya Rp5.000 se - tiap hari,” ujar Prasetyantoko dalam diskusi bersama Koran SINDO di Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan, kondisi ekonomi saat ini menghadapi tren likuiditas ketat yang membuat perbankan harus mengoptimalkan dana dari dalam negeri.

Saat ini dana itu ada di ma - syarakat dan sebenarnya hanya butuh akses untuk masuk ke sistem ekonomi nasional atau terakumulasi ke perbankan. Meskipun secara likuiditas ke - tat, tapi juga semakin banyak teknologi baru yang masuk untuk mendorong praktik bis - nis seperti BRILink.

Hasilnya adalah akumulasi dana yang tersembunyi selama ini di bawah bantal atau lemari baju masyarakat bisa ditarik ke sistem ekonomi kita. “BRILink mendorong partisipasi uang masyarakat dalam bentuk ta bu - ngan di bank.

Apabila layanan ini terus meningkat tentu bisa jadi sentimen positif buat per - ekonomian nasional,” ujarnya. BRI mencatatkan volume transaksi agen Laku Pandai atau BRILink mencapai Rp250 tri - liun sejak awal 2018 hingga se - karang (year to date /YTD). Layanan agen BRILink sangat di - bu tuhkan saat ini untuk menggenjot dana yang belum masuk sistem keuangan di tengah era likuiditas kian ketat.

Kabag Desk Jaringan BRI Link BRI Ahmad Furkon me - nga takan, pihaknya terus mendorong peran agen BRILink dengan sosialisasi dan edukasi mengenai usaha-usaha mikro yang dibina BRI di berbagai dae - rah, terutama daerah ter ting - gal, terdepan, dan terluar.

Dampak yang dihasilkan terutama untuk mendukung li - kui ditas perseroan dengan dana simpanan masyarakat. Bahkan, tercatat saldo rata-rata secara nasional para agen BRILink berada di kisaran Rp13-20 juta. “Jadi, pendekatan dana sim - panan (DPK) kami berbasis tran saksi. Itu sangat efektif.

Para agen harus terus me nam - bah saldonya di BRI untuk bisa melayani transaksi na sa bah - nya,” ujar Furkon. Dia menjelaskan, BRILink merupakan perluasan layanan BRI untuk menjalin kerja sama dengan nasabah sebagai agen.

Hasilnya, BRI dapat melayani ke butuhan keuangan bagi ma - syarakat secara real time dan online. Selain itu, peran penting para agen BRILink ialah me - ning katkan literasi keuangan masyarakat yang tidak ter jang - kau perbankan selama ini.

“Kami punya banyak success story para agen di Atambua yang melayani lintas batas negara. Lalu, juga ada yang di tengah kebun sawit daerah Sumatera Utara. Juga di Makassar hingga Sorong. Mereka sangat ins pi - ratif,” ujarnya.

Dia juga bercerita tantangan yang harus dihadapi untuk pe - ngembangan agen BRILink tidak sedikit. Bahkan, cita-cita me wu - jud kan satu desa satu agen masih belum kesampaian. Hal ini ka re - na kendala infrastruktur khususnya listrik dan jaringan internet.

Misalnya, seperti di Papua ter da - pat 7.500 desa dan kelurahan na - mun ha nya kurang dari 500 titik yang memiliki jaringan komunikasi. Bahkan, sisanya belum ter - sen tuh jaringan internet. Lebih pa rahnya lagi akses listrik yang juga belum ada.

“Soal listrik sangat berat ka - rena biayanya bisa sangat mahal apabila dipaksakan. Karena itu, kami terus melakukan eks plo - rasi teknologi yang bisa di kem - bangkan. Tantangan lainnya juga edukasi dan literasi seperti para agen yang ingin berhenti ha rus memberi penjelasan ke nasabahnya,” ujarnya.

Salah satu agen BRILink dari Lebak, Banten, Haji Encep Cah - yadi, mengatakan dapat me - man faatkan potensi eko nomi ma syarakat di daerahnya. Ber - bagai strategi dilakukannya se - jak tiga tahun terakhir men jadi agen dan hingga kini eks pansi satu cabang agen BRI Link.

Dengan transaksi yang ting - gi itu, dia harus menaikkan mo - dal di dalam saldo menjadi ham - pir Rp300 juta dari awalnya Rp20 juta. Hasilnya dalam se bu - lan kini dia mengaku berhasil mendapatkan fee dalam kisaran Rp8 hingga Rp10 juta.

“Awalnya saya jadi agen hanya melayani transaksi untuk istri saja. Tapi, saya terus berusaha kem bang - kan inovasi supaya dikenal orang. Sekarang bahkan saya juga mengelola pembayaran gaji pekerja kebun sawit milik PTPN VIII di Lebak,” ujar Encep dalam kesempatan sama.

Peneliti Eksekutif Dir ekto - rat Penelitian Departemen Pe - ne litian dan Pengaturan Per - bank an OJK M Miftah meng a - takan, program Layanan Ke - uangan Tanpa Kantor (laku pandai) seperti BRILink me ru - pakan jawaban untuk mem - perluas inklusi keuangan di Indonesia.

BRILink dinilai bisa mempermudah masyarakat yang terisolasi untuk mem ban - tu memperkenalkan sistem keuangan. Hal ini dapat mem - bantu masyarakat dalam membangun bisnis atau usaha di daerahnya sehingga me num buh - kan perekonomian daerah.

“Ternyata para agen lebih efektif sosialisasikan menabung daripada bank itu sendiri. Ini di luar ekspektasi kita saat awal meluncurkan Laku Pandai. Bahkan, nama Laku Pandai kalah tenar dibandingkan nama BRILink atau brand lain di setiap bank,” ujar Miftah.

hafid fuad