Edisi 22-09-2018
Amazon Akan Investasi Rp14 Triliun di Indonesia


JAKARTA –Perusahaan e-commerce asal Amerika Serikat (AS) Amazon.com dipastikan bakal memasuki pasar Indo nesia.

Tak tanggung-tanggung, perusahaan besutan Jeff Bezos itu akan me nanamkan inves tasi hingga Rp14 triliun dalam 10 tahun ke depan. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perwakilan Amazon.com telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Hanoi, Vietnam, beberapa waktu.

“Hari ini (kemarin) pihak Ama zon bertemu kembali dengan Presiden dan meng ungkapkan minat mereka berinvestasi di Indonesia, nilainya sekitar USD1 miliar (sekitar Rp14 triliun),” ujar Sri Mulyani di Jakarta kemarin.

Menurut Sri Mulyani, setelah pertemuan tersebut pihaknya mendapat arahan untuk menyelesaikan berbagai lang kah yang bisa memungkinkan Amazon merealisasi investasinya. Mengenai model bisnisnya, menurut Sri Mulyani, akan dimulai secara baik dari sisi layanan i-cloud atau komputasi awan.

Untuk mendukung rencana tersebut, Kementerian Keuangan telah menyelesaikan beberapa isu mengenai perpajakan. “Dan sepertinya sudah mau selesai semuanya,” kata man tan Managing Director Bank Dunia itu. Sri Mulyani memastikan, raksasa e-commerce Negeri Paman Sam itu akan berinvestasi dalam bentuk capital investment dan operational expen di ture (opex).

“(Investasi) dalam bentuk capital investment dan opex. Investasi dalam bentuk i-cloud computing ,” ung kap nya. Amazon dikenal sebagai per usahaan yang memiliki lini bisnis mulai dari e-commerce, cloud computing (komputasi awan) hingga berbagai layanan lain berbasis internet.

Perusahaan yang berasal dari Seattle, AS, itu didirikan Jeff Bezos pada 5 Juli 1994. Amazon berhasil menjadi raksasa ritel internet terbesar dari sisi kapitalisasi pasar dan pendapatan. Akan tetapi Amazon kalah dari Alibaba Group dalam total penjualan.

Pada 2016 silam, kapitalisasi pasar Amazon mencapai USD427 mi liar, sedangkan Alibaba USD264,9 miliar. Amazon.com berawal dari toko buku online yang kemudian melakukan diversifikasi dengan menjual furnitur, makanan, mainan anak, dan perhiasan. Mereka juga menjual berbagai produk lain.

Khusus untuk konsumen menengah ke bawah, Amazon fokus dengan AmazonBasics. Perusahaan ini juga memisahkan situs ritel untuk AS, Inggris, Irlandia, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Australia, Brasil, Jepang, China, India, Meksiko, Singapura, dan Turki.

Pada 2015, nilai kapitalisasi pasar Amazon lebih berharga daripada Walmart. Pada 4 Sep tember lalu, nilai perusahaan Amazon mencapai USD1 tri liun dan tetap menduduki peringkat kedua setelah Apple sebagai perusahaan paling ber nilai di dunia.

Total pendapatan Amazon pada 2017 men capai USD117,86 miliar (Rp1.751 triliun) dengan total pegawai mencapai 566.000 orang. Kesuksesan Amazon juga mampu mengantarkan pendirinya, Jeff Bezos, menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Majalah Forbes melaporkan Bezos sebagai orang terkaya pada sejarah modern dengan nilai kekayaan USD150 miliar (Rp2.228 triliun) per Juli 2018. Kekayaannya terus bertambah karena kesuksesan Amazon yang terus meraih keuntungan.

Tak berhenti pada Amazon, Bezos juga mendirikan perusahaan antariksa bernama Blue Origin pada 2000. Misinya adalah mengirimkan manusia ke antariksa. Dia juga mengelola investasi bisnis melalui Bezos Expeditions.

Kompetisi Jangka Panjang

Menanggapi rencana masuknya Amazon.com ke Indonesia, Wakil Ketua Umum Aso siasi Pengusaha Peritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, kehadiran perusahaan asal AS itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap daya beli dan konsumsi ritel masyarakat di dalam negeri.

Setidaknya pengaruh tersebut tidak akan dirasakan dalam waktu dekat. “Sebab peritel online di Indonesia juga sudah banyak akrab di masyarakat kita. Jadi nanti tinggal kompetisi dan kuat-kuatan saja,” ujar Tutum kepada KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Menurutnya, saat ini peritel konvensional sudah banyak beralih memanfaatkan tekno logi digital.

Hal ini men jadi keunggulan tersendiri karena peritel lokal menguasai seluk-beluk maupun karakter belanja masyarakat Indo nesia. Dia berpendapat, rencana Amazon tersebut tidak harus dilihat dalam waktu dekat, melainkan dalam jangka panjang.

“Barangkali kalau jangka pan jang bisa kelihatan pengaruhnya. Apalagi untuk waktu dekat dalam kurun waktu dua tahun,” ujar dia. Tutum menambahkan, kondisi pasar ritel Tanah Air diperkirakan meningkat pada akhir tahun kendati meningkatkanya tidak signifikan.

Kondisi tersebut terlihat dari pola belanja ma syarakat pada Lebaran lalu yang pening katannya tidak seperti yang diperkirakan. “Belanja masyarakat kita banyak tertahan. Ada banyak faktor penyebab, mulai dari nilai kurs yang melemah, kondisi politik menjelang pemilihan presiden dan sebagainya,” sebut dia.

Sementara itu pakar marketing Yuswohady mengata kan, rencana masuknya peritel raksasa Amazon akan mengubah karakter belanja masyarakat Indonesia dari konvensional menjadi digitally. Apalagi dengan brand yang sangat kuat sekelas Amazon yang sudah mampu mengimbangi Goo gle dan Microsoft.

Kehadiran Amazon juga dipastikan menambah sengit per saingan di industri e-commerce Tanah Air. Pasalnya di industri ini sebelumnya sudah masuk investor-investor besar dari luar negeri melalui sun tik an modal cukup besar di beberapa perusahaan berbasis online. “Lagi-lagi kita hanya akan menjadi pasar.

Memang peritel online sudah menjamur dan mulai dikenal masyarakat kita. Namun, patut diingat, Ama zon ini ada di semua lini dengan nilai kapitalisasi yang sangat besar,” ujarnya.

Menurut Yuswohady, bukan tidak mungkin dalam jang kalima tahun ke depan Ama zon bisa mencaplok ritelritel besar konvensional yang ber operasi saat ini dan memadukannya dengan pasar digital online. “Kapitalisasi besar, brand kuat, dan globally brand.

Ditambah kelas masyarakat kita yang berusia muda cenderung mencari karakter belanja yang mudah di era online . Apalagi yang kurang,” ungkapnya. Dia menambahkan, kondisi tersebut bisa berakibat fatal jika tidak diantisipasi dengan batasan-batasan operasional mereka di dalam negeri. “Pemain besar seperti Amazon ini hampir sama dengan Google. Kapitalisasinya besar, ujung-ujungnya deviden keluar juga dalam bentuk dolar nan tinya,” sebut dia.

ichsan amin/ andika hendra