Edisi 22-09-2018
DKI Diminta Percepat Normalisasi Sungai


JAKARTA- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyarankan agar proyek normalisasi sungai dipercepat guna mengantisipasi banjir.

Sebab, musim hujan diprediksi mulai bulan depan, Oktober, dan puncaknya pada Januari 2019. ”Oktober nanti musim hujan sudah masuk, jadi bisa dikatakan proyek kali harus segera selesai,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo kemarin.

Prabowo menjelaskan, meskipun saat ini hujan yang turun menyebabkan genangan di sejumlah titik. Namun, itu belum cukup parah karena hujan yang terjadi akibat siklon tropis Mangkhut dari Filipina.

”Dampak siklon Mangkhut membuat Pulau Jawa, Kalimantan, hingga sisi Sumatera bagian timur diguyur hujan. Kalau September ini belum dikatakan hujan. Transisinya baru minggu depan. Musim hujannya Oktober,” ucapnya.

Prabowo mengatakan, pada Oktober nanti hujan turun dengan intensitas sedang, yakni 100-120 mililiter per bulan. Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah (pemda) tak terlena.

Tanpa antisipasi yang tepat, bukan tak mungkin genangan dan banjir akan terjadi. BMKG memprediksi guyuran hujan dengan intensitas tinggi akan terjadi pada awal Januari 2019 mendatang.

”Saat itulah puncak musim hujan terjadi dengan volume air yang turun cukup banyak, bahkan hujan bisa turun seharian penuh,” katanya. Untuk itu, BMKG meminta agar optimalisasi proyek normalisasi segera diselesaikan, mengingat waktunya yang tersedia tinggal tiga bulan.

”Cara ini (normalisasi) dianggap solusi tepat mengantisipasi banjir,” katanya. Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyebut normalisasi baru 16 kilometer dari total 33 kilometer yang melintas di DKI.

Sodetan Kanal Banjir Timur juga baru dikerjakan 50%. Imbasnya, dengan intensitas hujan yang tinggi genangan atau banjir mengancam Jakarta. Kepala BBWSCC Bambang Hidayah mengatakan, balai besarnya tidak akan mengalokasikan dana untuk normalisasi sungai Jakarta di APBN 2019.

Diprediksi proses administrasi pembebasan lahan oleh Pemprov DKI Jakarta memakan waktu lama. ”Sementara (di APBN 2019) belum kami usulkan karena masih mengumpulkan lahan yang sudah dibebaskan.

Prosesnya lama sehingga yang kami bebaskan sedikitsedikit. Mudah-mudahan di 2020 berlanjut,” harapnya. BBWSCC hingga kini terus melakukan perawatan di titiktitik Sungai Ciliwung yang sudah dinormalisasi.

Di antaranya pengerukan di 17 sungai yang menjadi kewenangan BBWSCC, termasuk Sungai Pesanggrahan, Sunter, dan Cipinang. ”Ada 129 titik rawan banjir di Jakarta,” tutur Bambang.

Sementara itu, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pemkot Jakarta Selatan menyiagakan 51 unit mesin pompa untuk menyedot air bila terjadi genangan. Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin SDA Pemkot Jakarta Selatan Firmansyah mengatakan, seluruh mesin pompa tersebut tersebar di 26 titik rumah pompa.

Selain itu, pihaknya juga menyiagakan 152 petugas di delapan kecamatan. ”Mesin pompa dan para petugas SDA ini kami siagakan untuk menyedot genangan,” katanya. Dari 26 titik rumah pompa itu, satu unit mesin pompa yang ada di Rumah Pompa Madrasah saat ini masih dalam proses perbaikan.

”Kami juga menyiagakan dua unit pompa mobile dan lima unit pompa trailer yang siap beroperasi,” ujar Firmansyah. Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Selatan, Holi Susanto, mengatakan, sebagai antisipasinya suku dinasnya juga melakukan pengerukan Waduk Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Poncol, Pasar Minggu.

Pengerukan Waduk Poncol seluas 6.860 meter persegi tersebut berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Dalam pengerukan tersebut pihaknya mengerahkan tiga unit ekskavator amfibi, satu unit ekskavator long arm serta 17 unit truk pengangkut lumpur.

Kepala Suku Dinas SDA Pemkot Jakarta Barat, Imron Syahrin, mengklaim nor malisasi yangdilakukanmembuatjumlah genangan mengalami penurunan. Sejak 2016 tercatat 32 titik genangan mengalami penurunan menjadi 18 pada 2017.

”Sekarang kami analisis ada delapan titik,” kata Imron. Imron menyebut, delapan titik itu berada di bibir kali seperti Kali Semongol, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, dan Kali Mookevart, serta Kali Sekretaris.

”Sebagai antisipasi kami juga mengerahkan PHL (pekerja harian lepas), pasukan biru, dan berkoordinasi langsung ke kecamatan dan kelurahan,” paparnya. Upaya normalisasi saluran air warga juga telah dilakukan. Tercatat ada 15 titik saluran air telah dinormalisasi.

helmi syarif/yan yusuf