Edisi 30-09-2018
Korban Jiwa Terus Bertambah Donggala Belum Terjangkau


JAKARTA –Gempa diikuti tsunami yang meng guncang Kota Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah (Sulteng) meninggalkan duka mendalam bagi bangsa ini.

Bencana tersebut bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik yang masif dan parah, tetapi juga merenggut begitu banyak korban jiwa. Hingga kemarin petang, data korban tewas terus bertambah.

Laporan terakhir yang disampaikan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah melampaui angka 400 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya menyebut korban jiwa sebanyak 384 orang.

Jumlah itu dikhawatirkan akan berlipat ganda karena data tersebut baru dari Kota Palu. Itu pun masih banyak korban yang belum ditemukan karena tertimbun bangunan roboh, di antaranya mal, rumah sakit, hotel yang di dalamnya penuh dengan orang.

Data tersebut juga belum termasuk korban dari Donggala. Hingga kemarin, tim evakuasi sama sekali belum bisa menjangkau daerah tersebut karena akses transportasi dan komunikasi lumpuh.

Pun beberapa daerah lain yang turut terdampak gempa. Selain korban jiwa, BNPB mengidentifikasi sebanyak 540 orang mengalami luka berat yang tersebar di 5 rumah sakit di Palu dan lebih dari 16.000 warga ibu kota Sulteng tersebut terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Menurut BNPB, total jumlah warga yang terdampak langsung oleh gempa sebanyak 2.415.321 jiwa. Mereka tersebar di 9 kabupaten/kota dengan konsentrasi paling banyak di Donggala (13 kecamatan) dan Palu (8 kecamatan).

“Sebagin besar korban meninggal karena terjangan tsunami. Paling banyak korban meninggal ditemukan di ujung Teluk Palu, Pantai Talise. Kami terus akan menginformasikan perkembangan bencana.

Saat ini masih mengalami kesulitan berkomunikasi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB kemarin. Sehari pascagempa 7,4 Skala Richter (SR), bantuan mulai berdatangan.

Hal itu terjadi setelah Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu yang sempat ditutup selepas gempa kembali beroperasi. Tercatat 13 pesawat dan helikopter membawa bantuan makanan, obatobatan, peralatan airnav, telekomunikasi, PLN, dan keperluan logistik yang dibutuhkan untuk mengatasi kondisi darurat.

Untuk mengatasi kondisi darurat di Sulteng, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto untuk memimpin penanganan.

Kemarin Wiranto sekitar pukul 13.55 Wita sudah tiba di Palu. Turut serta dalam rombongan adalah Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Wakapolri Komjen Ari Dono, Kepala Basarnas F Henry Bambang Soelistyo, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menkominfo Rudiantara.

Mabes TNI juga sudah memberangkatkan 7 Satuan Setingkat Kompi (SSK) dari Batalion Kesehatan, Batalion Zeni Tempur, Batalion Infantri, Batalion Zeni Komunikasi dan Konstruksi dengan dua pesawat Hercules dari Bandara Halim Perdana Kusuma.

Namun kemarin pagi pesawat tidak bisa mendarat di Palu dan akhirnya harus disambung dari Makassar dengan helikopter SuperPuma. Berdasarkan informasi yang dihimpun BNPB, sehari pascagempa 7,4 SR dan tsunami yang mengguncang Sulteng, kondisi Kota Palu sangat memprihatinkan.

Bangunan di kota tersebut, terutama yang berada dekat dengan kawasan Teluk Palu dan pantai Talise, banyak yang rusak berat, bahkan rata dengan tanah. Selain bangunan rumah, infrastruktur juga banyak yang rusak parah.

Di antaranya Jembatan Kuning IV atau Jembatan Ponulele di Kota Palu, Sulteng. Jembatan yang diresmikan pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini merupakan kebanggaan Kota Palu.

Jalur trans-Palu- Poso-Makassar juga terputus total karena longsor. Beberapa bandara juga mengalami kerusakan karena gempa. Bandara Palu mengalami kerusakan paling berat.

Bagian menara lantai 4 runtuh, peralatan komunikasi rusak, pemancar radio rusak, jaringan Usat down, radar, dan VOR belum berfungsi. Bukan hanya itu, sepanjang 500 meter dari 2.500 meter landas pacu atau runway retak akibat gempa.

Landas pacu yang tersisa sepanjang 2.000 meter tersebut tidak dapat didarati pesawat jet berukuran besar seperti Boeing 747 dan sejenisnya. Bandara Mamuju juga mengalami kerusakan di bangunan menara, tetapi masih berfungsi.

Begitu pula Bandara Luwuk Bangai mengalami pergeseran tiang menara, tetapi masih berfungsi. Kerusakan parah juga dialami sejumlah pelabuhan di kawasan yang terdampak langsung gempa dan tsunami.

Pelabuhan Pantoloan Kota Palu bernasib paling parah. Kran peti kemas yang biasanya digunakan untuk bongkar muat peti kemas roboh. Di Pelabuhan Wani, bangunan dan dermaga mengalami kerusakan.

Di pelabuhan ini KM Sabuk Nusantara 39 terhempas tsunami ke daratan sejauh 70 meter dari dermaga. Infrastruktur listrik dan komunikasi juga rusak. Hingga kemarin, dari 7 gardu induk PLN terdampak gempa, baru 2 gardu yang bisa dihidupkan kembali.

Jaringan komunikasi di Donggala, Palu, dan sekitarnya pascagempa sempat tidak dapat beroperasi karena pasokan listrik PLN putus. Lima gardu induk (GI) yang masih padam adalah GI Parigi, Sidera, GI Silae, GI Talise, dan GI Pasangkayu.

Perkiraan GI padam sebesar 105 MW yang melayani pelanggan di daerah Parigi, Kota Palu, Donggala hingga Pasangkayu. Di antara kerusakan yang terjadi, kondisi paling memprihatinkan adalah robohnya sejumlah bangunan yang ditempati banyak warga.

BNPB menyebut pusat perbelanjaan terbesar di Kota Palu, Mal Tatura, ambruk. Ada juga Hotel Roa-Roa berlantai delapan rata dengan tanah. Padahal di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu yang menginap.

Ada juga Arena Festival Pesona Palu Nomoni. Di sana puluhan hingga seratusan orang pengisi acara belum diketahui nasibnya. Upaya untuk mengevakuasi korban dipastikan tidak berjalan mudah karena kurangnya peralatan berat.

Kepala Basarnas Marsdya TNI M Syaugi yang kemarin sudah tiba di Palu menyatakan pihaknya sangat membutuhkan alat berat untuk membantu korban yang terjebak reruntuhan. ”Banyak bangunan runtuh.

Yang dibutuhkan alat berat seperti ekskavator. Sebab kalau hanya pakai manual itu sulit. Itu kan banyak bangunan beton-beton besar ya,” jelasnya. Untuk membantu evakuasi, Basarnas sudah menggerakkan tim SAR dari Balikpapan, Banjarmasin, Kendari, dan wilayah lainnya di daerah menuju Palu, Donggala dan sekitarnya.

Basarnas secara khusus juga memberi perhatian pada Sigi karena di daerah tersebut dilaporkan banyak korban jiwa. “Sudah saya berangkatkan sejak kemarin malam. Karena semalam bandara ditutup, jadi lewat laut.

Ini sudah mulai berdatangan,” ujar Syaugi. Terkait evakuasi ini, kemarin Mendagri Tjahjo Kumolo telah mengeluarkan radiogram berkaitan dengan penanganan gempa dan tsunami kepada pemerintah daerah.

Dalam radiogram bernomor 361/7676/SJ itu Tjahjo meminta Gubernur Sulteng, Bupati Donggala, dan Wali Kota Palu agar segera menerbitkan Surat Pernyataan Tanggap Darurat Bencana sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Lalu pada radiogram bernomor 361/7675/SJ dia juga meminta agar Gubernur Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku memerintahkan Kepala Pelaksana BPBD dan Kepala SKPD Damkar-Satpol PP untuk menggerakkan personel ke wilayah bencana.

Termasuk juga sarana dan prasarana yang bisa dimanfaatkan dalam membantu penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami. “Serta mendukung jalannya pemerintahan di Kabupaten Donggala dan Kota Palu.

Kepala daerah tersebut juga memerintahkan perangkat daerah lainnya untuk dapat memberikan bantuan berupa bahan kebutuhan pokok sehari-hari,” kata Tjahjo. Seperti diketahui, gempa 7,4 SR yang berpusat di 25 Km timur laut Donggala berguncang sekitar pukul 17 Wita kemarin.

Kondisi semakin parah karena gempa diikuti dengan tsunami. Selain gempa 7,4 SR, juga terjadi rangkaian gempa lain dengan kekuatan lebih dari 5 SR di sejumlah titik. BNPB mencatat ada 131 gempa susulan di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, setelah terjadi gempa berkekuatan magnitudo 7,4 SR.

Intensitas gempa di kedua daerah tersebut sudah menurun. Kendati demikian BMKG tidak bisa memprediksi apakah kondisi sudah benar-benar aman atau sebaliknya akan terjadi lagi gempa yang lebih besar.

Hal ini merujuk pada kasus gempa Lombok. Sebagai informasi, Donggala dan Palu punya sejarah kebencanaan yang cukup panjang. Gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9) kemarin bukan peristiwa yang pertama terjadi.

Patahan Palu Koro yang membelah Sulawesi menjadi dua terbilang sangat aktif. Tiap tahun patahan selalu bergeser 35-45 mm. Pada periode tertentu mereka akan lepas hingga memicu terjadinya gempa.

dita angga