Edisi 30-09-2018
Mencoba Peruntungan di Rest Area


Pembangunan jalan tol dari Jawa Barat hingga Jawa Timur membawa dampak tersendiri bagi hampir seluruh pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pada sepanjang jalur pantura.

Tak sedikit para pelaku UMKM yang gulung tikar atau mencoba peruntungan mendapatkan lokasi usaha baru di wilayah rest area. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementrian PUPR, Herry Trisaputra Zuna, menjelaskan bahwa semua pihak harus mengerti dengan fungsi jalan tol meskipun memiliki dampak kurang menyenangkan bagi pedagang di pinggir jalan.

“Semua kota harus kom petitif, diharapkan punya daya tarik tersendiri, sehingga orang ke kota tersebut bukan hanya karena lewat tidak sengaja, tapi ada yang dituju seperti Cirebon, Pekalongan, Tegal, dan Bandung yang sudah siap bersaing karena punya karakteristik,” tutur Herry kepada KORAN SINDO.

Pembangunan jalan tol di sepanjang pantura menurut Herry tidak perlu dikhawatirkan para pelaku UMKM karena daya tarik yang kuat dari daerah di dalamnya akan membawa para wisatawan yang melintasi tol pantura tetap akan mendatangi tempat-tempat wisata tersebut.

Pemerintah menurutnya sangat memahami dampak pembangunan jalan tol bagi UMKM tersebut, terlebih setelah Menteri BUMN Rini Soemarno meminta BUMN memaksimalkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sepanjang pesisir pantai pantura.

Yang diutamakan saat ini setelah terbangunnya jalan tol yang cukup panjang dari Banten hingga Jawa Timur, antara lain, mengoptimalkan penggunaan rest area untuk para pelaku UMKM. “Keberadaan UMKM di rest area jalan tol ini merupakan arahan langsung dari Presiden Jokowi.

Menteri BUMN dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dibantu pemerintah daerah harus bersinergi untuk mengelola dan mengembangkannya,” tandas Herry.

Dia mengungkapkan, saat ini rest area yang baru dibangun di sepanjang jalan tol baru harus memenuhi ketentuan minimal sekitar 30% kebutuhan UMKM, sedangkan untuk ruas jalan tol lama harus memenuhi sekitar 20%.

“Di jalan tol potensi besar ada di rest area. Kami memberi porsi yang cukup untuk UMKM. Mengapa tidak semua bisnis UMKM, karena kita mengharapkan agar bisnis di rest area terus berputar sehingga kontribusi mereka dapat menopang keberlangsungan rest area,” tuturnya.

Menurut data BPJT, saat ini di beberapa rest areawilayah Jawa Tengah juga dikembangkan keberadaan UMKM hingga 70%. Tantangan tersebut dimaksudkan agar BUMN dapat memiliki konsep untuk mengatur dan tetap membuat rest area sebagai sebuah usaha berkembang.

Namun penempatan rest area ini menurutnya tidak akan selalu dilokasikan di sisi jalan tol, melainkan juga akan dikembangkan di pintu keluar atau pintu masuk perbatasan kota. “Rest areamasuk ke kota seperti di Pekalongan, kami koordinasi dengan pemda sampai dibuatkan jalan khusus.

Pemda Pekalongan tidak mau rest area di dalam tol, mereka ingin bagaimana caranya masuk ke kota. Nah hal seperti ini menjadi perhatian kami,” ujarnya. Saat ini terdapat dua jenis rest area di jalan tol.

Pertama, rest area yang dilengkapi dengan fasilitas area parkir, toilet, musala, dan warung makan.

Jenis kedua, dilengkapi dengan SPBU, restoran, bengkel, minimarket, dan ATM. Herry menambahkan, berdasarkan pengalaman, keuntungan perdagangan di rest area memang tidak terlalu banyak.

Maka perlu dijaga agar industrinya terus ada. Dia pun menjelaskan bahwa kendalanya ialah anggapan yang tercipta selama ini bahwa bisnis di rest area ada di SPBU sehingga konsep 70% untuk UKM masih banyak yang pesimistis.

“Perlu ada proses branding dengan konsep berbeda. Memang masih percobaan, tapi masih harus dibuat konsep baru. Saya harap jangan meremehkan UKM yang mengisi rest area,” tuturnya optimistis.

ananda nararya