Edisi 30-09-2018
Peluang Besar Gapai Prestasi


Cabang olahraga paralayang untuk pertama kalinya dipertandingkan dalam Asian Games 2018 dan langsung mendulang dua medali emas dari nomor individu serta beregu.

Hening Paradigma menjadi satu dari lima atlet paralayang beregu putra Indonesia yang sukses mencapai posisi juara. Dia berjaya bersama Jafro Megawanto, Joni Efendi, Roni Pratama, dan Aris Apriansyah.Indonesia memang mendominasi di cabang olahraga paralayang.

Tingkat Asia Tenggara sudah lama dikuasai oleh atlet putra Indonesia. Seperti apa sesungguhnya cabang olahraga yang juga sering digunakan masyarakat untuk berwisata itu? Hening punya cerita mengenai hal ini.

Segudang pengalaman dan prestasi dikejarnya, sekaligus berjuang agar paralayang dipertandingkan pada ajang Olimpiade dengan harapan bendera Merah Putih bisa berkibar di Tokyo pada 2020 mendatang. Apa saja kisah Hening dan paralayang yang sudah digelutinya sedari remaja? Simak cerita lelaki 32 tahun itu kepada KORAN SINDO .

Seoptimistis apa Anda bahwa paralayang bakal dipertandingkan dalam Olimpiade Tokyo dua tahun mendatang?

Kami cukup optimistis. Kami atlet paralayang akan melakukan lobi-lobi, ditambah kemarin saat Asian Games, Jepang yang notabene akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2020, mendapat satu medali emas dan satu perak sehingga mereka juga ingin mengulang kesuksesan meraih medali emas.

Indonesia sudah sangat mendominasi di kawasan ASEAN. Menurut Anda apa penyebabnya?

Penggiat paralayang di Indonesia militan, jadi event banyak, kami selalu ramai. Ditambah lagi kami didukung oleh pemerintah untuk menyediakan alat dan lain-lain. Tidak semua negara seperti itu. Korea Selatan dan Singapura saja menggunakan alat sendiri.

Bagaimana perkembangan olahraga paralayang ini di luar negeri, apakah sudah booming ?

Di Eropa dan Amerika sudah dikenal, tapi masih nomor lintas alam. Di paralayang ada tiga nomor. Pertama lintas alam, kemudian ketepatan mendarat, dan akrobatik. Indonesia mendominasi di nomor ketepatan mendarat.

Untuk lintas alam kami baru unggul di Asia Tenggara. Di tingkat Asia, Indonesia ada di posisi empat, tapi Alhamdulillah kami mampu mengalahkan Korea Selatan. Korea bukan hanya jago, mereka juga unggul sebagai produsen parasut.

Bisa diceritakan sejak kapan Anda menekuni paralayang?

Awalnya ini hobi yang diseriusi menjadi prestasi. Bapak saya aktif di paralayang. Sejak kecil saya tahu apa yang bapak kerjakan. Baru mencoba pada 1999 ketika saya berusia 13 tahun. Saya terbang bersama bapak berdua. Saat itu saya merasa senang dan nyaman.

Setahun berselang, baru saya serius latihan di Bogor, jadi bolak-balik Semarang- Bogor. Kebetulan ibu saya bekerja di Semarang, bapak kerja di Bogor. Jadi, sejak remaja saya sudah biasa tinggal di dua kota tersebut. Pada 2004, saya ikut kejuaraan multievent nasional dan seleksi Asian Beach Games pada 2008.

Tak takutkah Anda dengan olahraga ini dan apa yang menarik dari paralayang?

Cukup aman karena standar keamanan kita tinggi. Semua ada sertifikasinya. Paralayang olahraga yang menyenangkan, terkadang dijadikan aktivitas rekreasi. Namun, untuk berprestasi kita harus siapkan tubuh, pikiran, dan tidur yang cukup.

Bagi yang suka jalan-jalan lihat pemandangan alam, saya sarankan ikut olahraga paralayang. Kalian bisa melihat keindahan alam dari atas yang tidak semua orang bisa lihat. Saya senang jalan-jalan dan ingin menjelajahi daerah lain yang belum dikunjungi.

Pulau paling utara di Indonesia sudah saya kunjungi bersama temanteman. Melihat alam sambil jalan-jalan, kemudian pertandingan sering kami lakukan. Kegiatan ini didukung oleh Kemenpora bagian recreational sport serta tim Hercules TNI AU.

Apa saja yang harus dipersiapkan ketika akan bertanding?

Bergantung nomor. Untuk nomor ketepatan pendaratan lebih sederhana karena cuma take off dan landing . Alat yang dipakai beratnya maksimal 15 kg. Untuk nomor lintas alam lebih rumit. Saya menyebutnya seperti mengendarai mobil F1 ha, ha, ha.

Kita akan terbang jauh dan menggunakan radio komunikasi, instrumen navigasi, bahkan makanan dan minuman. Lintas alam itu ada subkategori jauh dan cepat. Jauh itu sampai 4-5 jam. Bisa sampai 100 km, di luar negeri bisa 500 km. Makanya membutuhkan persediaan makan dan minum. Kalau yang cepat, harus ada titik yang dilewati, yaitu 80 km.

Di mana saja tempat latihan dan yang menjadi favorit Anda?

Disesuaikan dengan tujuannya. Kalau untuk prestasi bisa di Wonogiri, Palu (Sulawesi Tengah), Batu Dua (Sumedang), untuk Kejurnas sangat bagus. Untuk paralayang yang digunakan rekreasional bisa di Bali dan Puncak Bogor. Di luar negeri paling jauh ke Kanada. Punya pengalaman berbeda, kita melihat sesuatu yang baru. Jauh dari Indonesia sehingga berbeda dari segi alam hingga budayanya.

Benarkah paralayang termasuk olahraga mahal jika dilihat dari alat-alat yang digunakan?

Ya relatif. Kalau boleh saya jelaskan setiap alat dan harganya. Parasut Rp50-60 juta, tempat duduk Rp20-30 juta yang pa ling bagus, parasut cadangan se nilai Rp8 juta dikalikan dua karena bawa dua. Instrumen seharga Rp10 juta, biasa bawa dua cukup lumayan, tapi semua itu disediakan oleh pemerintah.

Hal yang menarik, atlet para layang biasanya dari kalangan bawah sehingga dukungan pemerintah memang terasa sekali. Menjadi atlet paralayang seperti from zero to hero , seperti salah satu teman saya yang background -nya adalah pelipat payung.

Atlet yang berasal dari bawah lalu terangkat berkat olahraganya karena mereka tidak punya alternatif kegiatan lain, jadi mereka bertahan di sini. Di paralayang juga demikian. Teman saya sudah lama men jadi pelipat payung, kemudian diberi rezeki untuk boleh mencoba dan diajarkan gratis. Saat mencoba memang serius sehingga hebat dan menjadi atlet.

Siapa yang menjadi inspirasi Anda?

Orang tua. Saya dapat dukungan penuh dari orang tua. Dukungan dari keluarga sangat signifikan karena bisa mendapat prestasi. Kalau ibu sangat khawatir, tidak mau lihat saya terbang. Bapaklah yang mendorong saya masuk ke paralayang. Maklum, bapak kan sempat menjadi atlet.

Apa pesan Anda untuk mereka yang ingin jadi atlet, khususnya paralayang?

Menjadi atlet memang harus dari hati ingin membela Tanah Air dan dibutuhkan ketekunan berlatih. Untuk teman-teman yang ingin menekuni paralayang, peluang berprestasi sangat besar, terutama bagi wanita karena trennya baru jalan. Nomor wanita baru dibuka, seleksi timnas juga sedang mencari banyak bibit.

Jadi, jangan ragu untuk menekuni karier se bagai atlet paralayang. Kalau tidak bisa membela negara, paling tidak bisa menjadi tandem master yang penghasilannya besar, di atas rata-rata masyarakat Indonesia. Saya juga masih melakukannya sebagai (kerja) sampingan. Kalau mau beli sesuatu yang mahal, saya jadi tandem master dulu.

ananda nararya