Edisi 30-09-2018
Tarif Mahal, Jalur Konvensional Masih Prioritas


DPRD Jawa Timur (Jatim) hingga saat ini belum mendapatkan temuan bahwa sentra UMKM bisa menjadi sepi akibat keberadaan jalan tol di Jatim.

Terutama jalan tol yang melewati Surabaya-Mojokerto hingga Kertosono. Hal ini akibat jumlah kendaraan yang menggunakan jalan tol tersebut masih relatif sedikit. Hal itu disampaikan anggota Komisi B Bidang Perekonomian DPRD Jatim Agus Maimun.

Politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyatakan, tarif jalan tol yang mahal, khususnya tol Surabaya-Mojokerto yang mencapai Rp80.000 membuat banyak pengemudi enggan pindah ke jalur tol.

“Jalan tol tarifnya mahal. Tidak tahu lagi ke depan, kalau tarifnya murah dan banyak kendaraan yang memilih jalur tol. Mungkin akan ada dampak terhadap UMKM yang berada di pinggir jalan konvensional,” tutur Agus Maimun kepada KORAN SINDO .

Caleg DPR RI dari PAN itu menambahkan, saat ini tingkat kemacetan di jalur konvensional Surabaya-Mojokerto tidak begitu parah sehingga para pengendara mobil masih memilih jalan ini. Berbeda ketika nanti kemacetannya parah, jalur tol menjadi alternatif agar perjalanan bisa lebih lancar.

“Jika nanti benar-benar ada dampak terhadap UMKM pinggir jalan, kami akan minta Jasa Marga mengakomodasi UMKM yang terdampak itu. Caranya mereka berjualan di rest area jalan tol,” ujarnya.

Namun pemerintah menurutnya tetap harus serius dalam menata dan mengembangkan UMKM. Pasalnya sektor usaha kecil ini merupakan fondasi ekonomi Jatim. Bahkan hampir 55% PDRB Jatim disumbang dari sektor ini.

Kedepan pemerintah harus banyak membantu UMKM, terutama dalam permodalan dan pemasaran. Kualitas produk dari UMKM tersebut menurutnya harus terus ditingkatkan agar mampu berdaya saing.

Pembangunan sejumlah jalan tol khususnya di wilayah Jawa memang disambut bahagia masyarakat. Salah satunya sutradara asal Indonesia yang sudah malang melintang di kancah Hollywood, Livi Zheng. Gadis cantik nan berbakat ini kerap ke kampung halamannya di Blitar.

Dengan antusias dia menceritakan kesannya. Livi sangat senang karena perjalanannya jadi lebih cepat. “Kalau boleh dibandingkan dengan jalan yang dulu, jalan tol ini jalannya lebar dan tidak macet.

Blitar banyak sekali tempat-tempat wisata yang bisa dilihat seperti Pantai Serang, Candi Penataran, dan kuliner Blitar juga top,” tuturnya. Livi memang antusias karena tol sepanjang pantura menurutnya memiliki beberapa kesamaan dengan jalanan di AS seperti dalam hal kecepatan perjalanan dan lebar jalan.

Livi yang kini tinggal di Los Angeles memang terbiasa dengan jalan bebas hambatan. Hal lain yang disukainya jika menggunakan jalan tol ialah mampir sebentar di rest area . Di rest area Livi senang untuk berwisata kuliner.

“Kita sangat beruntung Indonesia punya banyak jenis makanan. Saya selalu coba makanan khas kalau melewati beberapa kota dan itu cukup di rest area jalan tol,” ujarnya.

Sementara itu General Manager Tempat Istirahat dan Pelayanan PT Jasamarga Properti Hubby Ramdhani mengungkapkan, saat ini pihaknya telah melakukan mekanisme sesuai dengan arahan Presiden, yaitu melakukan koordinasi dengan UMKM yang ingin memasarkan produknya di wilayah rest area (tempat istirahat).

Saat ini menurutnya telah dipersiapkan dua rest area yang dijadikan percontohan. “Karena nanti ke depan akan ada jalan tol dari Cirebon ke Semarang, sehingga akan banyak yang terdampak di jalur lama,” tandasnya.

Dua rest area wilayah Pejagan-Pemalang dan Semarang-Batang akan disiapkan untuk sekitar 70% UMKM, sedangkan sisanya untuk pihak swasta. Jasamarga yang mengelola rest area juga menyediakan kaveling untuk ditempati.

“Kami tidak bisa menerima semua UMKM karena tidak mungkin rest area isinya sama semua. Nanti justru tidak bisa hidup, jadi harus ada variasi. Makanan pun harus beragam, juga non-food seperti kerajinan lokal.

Ada zona masingmasing,” tutur Hubby. Sementara itu Kementrian Koperasi dan UMKM menyambut baik langkah Kementrian PUPR, BUMN, dan pemda setempat untuk memfasilitasi UMKM yang terkena dampak dari pembangunan jalan tol.

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UMKM Agus Muharram menyatakan siap jika diminta pemerintah daerah menyiapkan UMKM untuk mengikuti program yang ada.

Namun Agus menyarankan bahwa bisa juga pelatihan dilakukan melalui CSR dari BUMN. “Biasanya UKM yang akan ditempatkan yang sudah siap berdagang sehingga pelatihan juga mudah dilakukan,” tambahnya.

ananda nararya/lukman hakim