Edisi 30-09-2018
Upaya Merekonstruksi Sistem Pangan Dunia


Sejak 2008 sampai hari ini harga pangan semakin membumbung tinggi. Kita bisa merasakannya kala belanja di toko dan warung makan.

Bagi kaum miskin di dunia, dampaknya sangat mengenaskan. Tiap tahun satu dari delapan orang menderita kelaparan.Peliknya persoalan pangan membuat jutaan orang terperosok ke lembah kemiskinan dan menyulut aksi kerusuhan serta unjuk rasa di lebih dari tiga puluh negara.

Fenomena tersebut sejatinya telah diprediksi oleh Thomas Robert Malthus, filsuf Inggris abad ke-19. Ia menubuatkan bakal terjadinya bencana besar kependudukan dunia akibat pertumbuhan penduduk yang cenderung melebihi jumlah produksi pangan.

Pasca 200 tahun kekhawatiran Malthus dimunculkan kembali oleh para pengikutnya. Para Malthusian meramalkan akan terjadi “Kematian Besar-besaran” pada akhir abad ke-20.

Hal senada juga dipaparkan oleh Kelompok Roma yang memprediksi laju pertambahan penduduk dunia akan menabrak tembok ambang batas ketersediaan sumber daya alam.

Namun, pendapat mereka ditampik para ilmuwan dan pakar ekonomi yang menaruh kepercayaan pada kemampuan manusia mencapai kemajuan teknologi dan organisasi sosial.

Maka, pada 1970-an terjadilah perdebatan sengit antara para Malthusian dengan penganut kemakmuran. Paul McMahon, penulis buku Berebut Makan: Politik Baru Pangan ini, menjaga jarak dengan para Malthusian dan mengambil sebagian menubuat kemakmuran.

Buku ini merupakan hasil kerja kerasnya selama lima tahun meneliti perihal pangan, pertanian, dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan. McMahon mengakui era sekarang memang penuh tantangan.

Jumlah penduduk dunia diprediksi bertambah dari 7 sampai 9 miliar jiwa sampai dengan empat puluh tahun ke depan. Tiap tahun sekitar 80 juta mulut perlu disuapi. Seiring dengan itu pertumbuhan kelas menengah dunia terus bertambah dan mereka menuntut kesediaan pangan yang makin mahal.

Hasil penelitian McMahon menyebutkan, melonjaknya harga pangan dipengaruhi akibat-akibat komulatif. Pada lapisan permukaan ada tiga faktor.

Pertama , manipulasi perdagangan bahan pangan oleh pemerintah di banyak negara.

Kedua , spekulasi di pasar komoditas oleh para pemodal.

Ketiga , jatuhnya nilai tukar dolar AS sampai hampir sepertiga terhadap berbagai mata uang negara lainnya (h. 61).

Namun, selain ketiga faktor itu, ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran merupakan aspek paling dominan. Produksi sebagian besar bahan pokok dunia lebih rendah dari konsumsinya selama tujuh sampai delapan tahun, yaitu sejak 2000 sampai 2008.

Banyak negara bisa bertahan karena memakan cadangan yang masih tersedia. Inilah yang menyebabkan cadangan bahan pangan dunia kian menipis. McMahon menyebut krisis 2008 sebagai kobaran api besar yang berkecamuk menyapu pasar beras internasional.

Harga beras di Thailand melonjak tiga kali lipat. India, Vietnam, dan beberapa negara lainnya yang lebih kecil akhirnya melakukan pembatasan ekspor. Kondisi semakin kacau ketika negara-negara pengimpor beras panik dengan melakukan pembelian besar-besaran.

Filipina misalnya secara agresif melakukan aksi lelang beras di pasar dunia. Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia mendesak Filipina supaya me gurungkan semua lelang itu. Sebab, tiap kali mereka membuka lelang baru, imbasnya dirasakan oleh negara lain.

Kepanikan, keserakahan, dan ketakutan menghantui pasar bebas du nia pada pertengahan 2008 (h. 142-147). Faktor lainnya adalah pencaplokan lahan besar-besaran di hampir seluruh belahan dunia.

Di Asia sangat luas terjadi di Indonesia, Kamboja, dan Filipina. Namun, paling luas nomor satu terjadi di Sudan. Peringkat kedua adalah Madagaskar, Ethopia, Mozambiq, dan Benin. Adapun Tanzania, Sierra Leone, dan Liberia, menyusul pada peringkat berikutnya (h. 226-229).

Hal serupa juga dialami negara-negara maju seperti AS, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Tapi, sasaran utamanya adalah Afrika. Pencaplokan lahan besarbesaran berimplikasi pada lahan-lahan paling produktif, sektor-sektor pertanian berorientasi ekspor kemudian terintegrasi ke pasar global.

Yang paling mencengangkan, penelitian McMahon berhasil menyingkap panoramik politik makanan saat ini dan krisis global yang menyertainya. Ia memakai istilah feeding frenzy, yang berasal dari perspektif ekologi untuk menggambarkan sekelompok pemangsa kalap menghadapi begitu melimpahnya makanan yang ada.

Si pemangsa bertingkah menggigit apa saja di dekat mulutnya, bahkan mereka juga menggigit pemangsa lain sesamanya. McMahon berkesimpulan, jika krisis ini tak segera diatasi dengan baik, akan membawa petaka besar bagi masyarakat luas.

Melalui pilihanpilihan politik dan ekonomi yang lebih baik, ia menggagas upaya rekonstruksi sistem pangan agar lebih adil dan berkelanjutan. McMahon menawarkan empat tindakan yang bisa dilakukan pemerintah, petani, investor, dan semua warna negara, yaitu;

1) Memacu petani-petani kecil di negaranegara miskin untuk meningkatkan produksi pangan;

2) Menggunakan prinsip-prinsip agroekologi dalam produksi pangan;

3) Mengarahkan agar pasar-pasar keuangan bekerja menyasar tantangan-tantangan nyata;

4) Mengatur penyesuaian atas harga-harga pangan yang terus meninggi dan beralih ke bio-based economy , yakni semua aktivitas ekonomi yang digerakkan dari riset dan pengetahuan ilmiah yang fokus pada biotechnology (h. 287).

Selain itu, keamanan pangan juga bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak ketersediaan bahan pangan, tetapi apakah rakyat memiliki saluran untuk memperolehnya. Karena itu, jawabannya tergantung pada unsur-unsur sosial, ekonomi, dan politik dari sistem pangan dunia.

Dengan kata lain, apakah semua negara memilih bersaing atau justru saling bekerja sama demi nasib jutaan manusia di belahan dunia. McMahon optimistis kita bakal sanggup mengatasi dan melampaui masa-masa sulit ini.

Pun, mampu membangun sistem pangan yang tangguh menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim yang akan terjadi. Dengan harapan rasa kemanusiaan kita semua akan mampu mempertahankan keberlangsungan kehidupan. Semoga.

ahmad jauhari

litbang di yayasan tarbiyatul wathon, campurejo, gresik