Edisi 30-09-2018
AI Mampu Mendeteksi Tipe Kanker Paru-Paru


Studi terbaru menunjukkan program komputer baru dapat menganalisis gambar tumor paruparu pasien.

Program tersebut dapat menentukan jenis kanker, bahkan mengidentifikasi gen yang berubah pada pertumbuhan sel abnormal. Dipimpin para peneliti di NYU School of Medicine, studi ini dapat menjelaskan perbedaan jenis kanker.

Ada dua jenis kanker paru - paru, yakni adenokarsinoma dan karsinoma, sel skuamosa dengan akurasi 97 persen. Alat AI juga dapat menentukan apakah versi abnormal dari 6 gen yang terkait dengan kanker paru.

Setidaknya, terdapat dalam sel dengan akurasi berkisar 73 - 86 persen yang tergantung pada gen. Perubahan genetik sering menyebabkan pertumbuhan abnormal. Kanker dapat mengubah bentuk sel dan berinteraksi dengan sekitarnya.

Para peneliti mengatakan sel kanker dapat diatasi dengan terapi, walaupun tidak semua terapi berkerja dengan maksimal. Bahkan ada juga jenis terapi yang membuat pembengkakan pada sel kanker.

Sekitar 20 persen pasien dengan adenokarsinoma, diketahui mengalami mutasi pada gen reseptor pertumbuhan epidermis atau EGFR. Kasus seperti ini masih dapat diatasi dengan pemberian obat yang disetujui oleh dokter.

Walaupun demikian, tes genetik biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu. Konfirmasi keberadaan sel menjelaskan sifat kanker yang semestinya. "Menunda pengobatan kanker tidak pernah baik," kata peneliti senior Aristotelis Tsirigos, PhD, profesor di Departemen Patologi di NYU Langone's Perlmutter Cancer Centre, dikutip dari sciencedaily.

Pada studi saat ini, tim peneliti merancang teknik statistik dalam program AI. Kemampuan belajar menjadi lebih baik pada tugas, ditanamkan dalam AI. Program semacam itu membangun aturan dan model matematis yang memungkinkan pengambilan keputusan.

Seiring jumlah pelatihan yang dilakukan, programpun akan semakin pintar dalam menganalisis. “Studi kami memberikan bukti kuat bahwa pendekatan AI akan dapat secara instan menentukan subtipe kanker dan profil mutasi untuk mendapatkan pasien yang memulai terapi, yang ditargetkan lebih cepat,” kata Tsirigos.

Pendekatan AI yang lebih baru, terinspirasi oleh jaringan sel saraf di otak. Sirkuit jaringan yang semakin kompleks digunakan untuk memproses informasi yang berlapis-lapis.

Para peneliti melatih jaringan saraf dalam Google Inception v3, untuk menganalisis gambar slide yang diperoleh dari “The Genome Atlas Kanker”, sebuah database dengan gambar diagnosa kanker yang telah ditentukan.

Hal tersebut memungkinkan para peneliti mengukur seberapa baik program mereka dapat dilatih. Tingkat keakuratan dan otomatisasi dapat mengklasifikasikan jaringan normal dibandingkan yang sakit. Menariknya, kesalahan analisa dalam program AI, juga ditemukan pada ahli patologi.

AI maupun ahli patologi membuat analisa salah terhadap perkembangan kanker. Dari 54 gambar, 45 gambar salah diklasifikasikan oleh salah satu dari ahli patologi dalam penelitian. Sedangkan program AI masih menawarkan pendapat kedua yang lebih baik, dibandingkan hasil analisis pertama.

Asisten profesor di departemen Radiologi dan Kesehatan Penduduk, Narges Razavian, mengatakan bahwa sinergi antara data dan kekuatan komputasi menciptakan peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya agar ditingkatkan, baik praktek dan ilmu kedokteran.

“Dalam penelitian kami, kami bersemangat untuk meningkatkan akurasi tingkat patologi, dan untuk menunjukkan bahwa AI dapat menemukan pola yang sebelumnya tidak diketahui dalam fitur yang terlihat dari sel kanker dan jaringan di sekitar mereka," kata Razavian.

Ke depan, tim berencana untuk terus melatih program AI. Data akan dipersiapkan agar dapat menentukan gen mana yang bermutasi pada kanker tertentu dengan akurasi lebih dari 90 persen.

Para peneliti sedang mencari persetujuan pemerintah untuk menggunakan teknologi secara klinis. Program AI menjadikan pasien tidak harus bertemu dengan dokter untuk mengetahui hasil perkembangan sel kanker.

fandy