Edisi 30-09-2018
Ambarium: Pray, Hope, & Dreams


Berkarya seni seperti menetralkan dan memfokuskan lagi pikiran, karena semua itu akan kembali kepada yang maha mengaturnya.

Itulah inti dari karya-karya yang dipamerkan Ambar Pranasmara bertajuk Pray, Hope, and Dreams. Bekerja sama dengan Senso Art Gallery Cafe, Jalan Tan Hiok Nee, Johor Baru 25a, Malaysia, pameran tunggal seni rupa yang digagas Ambar Pranasmara membuka kejutan pasar seni rupa Malaysia.

Bahkan, pameran yang dibuka pada Minggu (16/9) dan seyogianya berakhir pada 30 September, diperpanjang hingga 15 Oktober. Pameran yang menampilkan 60 karya lukis akrilik di atas kertas dan kanvas dengan ukuran ber variasi, dibuka pemilik Senso Art Gallery Chaterine Chai, dan dihadiri kolektor, para seniman serta Konsulat General Repulik Indonesia di Johor.

Senso Art Gallery terletak di Kota Johor Lama dengan arsitektur bangunan tua berupa ruko dekat dengan jalur penyeberangan ke Singapura, cukup strategis untuk mendapat banyak pengunjung. Angin segar bagi para perupa yang ingin mencoba menjelajah kota untuk memamerkan karya-karya kreatifnya dengan ukuran relatif mudah dicangking.

Apresiasi yang baik dari masyarakat seni di Johor, Malaysia, itu menumbuhkan peluang dan kesempatan menjalin hubungan kerja sama event seni rupa. Meskipun sebetulnya di Indonesia sendiri itu lebih potensial.

Namun, pengalaman Ambar ini justru menumbuhkan semangat untuk berkarya bagi seniman yang berada di sekitar Kota Johor, bahkan ada yang langsung berminat untuk pameran di sana.

Ambarium itu sejenis Laboratorium Seni Rupa yang bisa di-packing dan dibawa ke mana-mana bersama pemiliknya, seperti halnya Labora torium Seni Rupa Ambar Pranasmara. Dengan laboratorium itu dapat leluasa berkarya di mana pun sehingga menghasilkan gagasan dan tema sesuai dengan situasi ser ta kondisinya.

Terbukti, semua karya yang ditampilkan dalam pameran di Senso Art Gallery Cafe ini, hasil kerja dalam waktu senggang pada istirahat setelah bekerja di kota itu. Bukan hasil karya yang meniru kar ya orang lain, tapi karya yang mengekspresikan sebuah fantasi, harapan, dan doa, ketika sedang bekerja, ketika jalan-jalan melihat pemandangan kota, pantai, dan pegunungan menakjubkan di negeri jiran itu.

Ambar berusaha meng ekspresikan doa-doa dengan melukis kan nya pada lembaran kertas. Dalam setiap doa itu ada harap an dan cita-cita. Seperti usaha spiritual memvisualisasikan apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

Jadi, apa pun yang tampak dalam karyanya merupakan keindahan dari kesederhanaan setiap doa, harapan, dan cita-cita itu. Sementara doa, harapan, dan cita-cita itu sendiri adalah keindahan yang hanya dapat dibayangkan dan dirasakannya.

Ambar Membawa Tradisi Petani Jawa

Seperti halnya para petani di Jawa, Ambar Pranasmara kelahiran Yogyakarta 1972 yang memiliki latar pendidikan seni lukis pada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogya karta dan seni patung di ISI Yogyakarta, hal utama baginya adalah kerja dan lebih utama itu berkarya.

Demikian pula dengan petani di Jawa, selain bercocok tanam, mereka juga biasanya membuat karya ke rajinan, kerja bangunan, atau berkesenian lainnya. Semen tara Ambar, karier pekerjaan nya di bidang pembuatan patung monumen, relief, mural, juga mengerjakan artistik film, klip musik, dan TVC.

Ambar juga dibesarkan di keluarga seniman. Kreativitas tanpa batas, di mana pun dapat berkarya sebagai ungkapan rasa syukur untuk mendekatkan diri kepada sang maha pencipta atau ungkapan kegalauan, introspeksi, koreksi, doa, dan harapan.

Tentunya hal ini dilakukan usai menunaikan kerja utama, berkarya sebagai obat penawar kelelahan fisik. Berkarya seni seperti menetralkan dan memfokuskan lagi pikiran, karena semua itu akan kembali pada yang maha mengaturnya.

Itulah inti dari karya-karya yang dipamerkan Ambar Pranasmara bertajuk Pray, Hope, and Dreams. Berbeda dengan karya yang dipamerkan Ambar pada Pro ject Preeet #2 dengan tema “Personal Effect” di Gallery Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8.4 Sewon, Bantul, Yogyakarta, pada 14 Maret 2018.

Pada pameran tersebut upaya mengenali barang-barang pribadi dan kenangankenangan yang memiliki hubungan emosional lebih intens dengan senimannya serta menampilkan karya seni dari karier pekerjaannya.

Barang-barang yang dipresentasikan merupakan karya duplikasi dari produk seni pada zaman dulu kala, abad II sebelum Masehi. Kini, keberadaan benda tersebut di museum luar negeri.

Pada mulanya benda seni tersebut memenuhi kebutuhan artistik untuk syuting film. Benda ini memiliki kenangan yang berhubungan dengan profesinya sebagai seniman patung juga artistik film yang dilakoni semenjak mahasiswa.

Benda duplikasi itu menjadi koleksinya sebagai penanda capaian artistik pada filmnya. Antara kerja yang utama dan kerja yang lebih utama itu saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat.

Atas hasil karya dan hasil kerja itu menciptakan dialog dengan dirinya sendiri, dialog dengan keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Dalam setiap dialog itu ada doa, harapan, dan cita-cita. Yogyakarta, 29 September 2018.

JAJANG R KAWENTAR

Penulis Art Critique Forum Yogyakarta