Edisi 30-09-2018
Kembang-Kempis UMKM di Jalur Tol Jawa


Pesatnya pembangunan infrastruktur ternyata tidak selamanya memberikan dampak positif bagi perkembangan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).

Pengalaman pahit pernah dirasakan sejumlah UMKM yang ada di Purwakarta begitu terkoneksinya jalan bebas hambatan antara Cikampek-Purwakarta- Padalarang (tol Cipularang).

Sentra kuliner peuyeum bendul (tape singkong dari Desa Bendul) harus kehilangan omzet hampir di atas 50%, begitu jalan bebas hambatan tersebut beroperasi pada 2005. Tak ayal, sebanyak 171 produsen penganan khas dan andalan Purwakarta ini mengalami mati suri dalam beberapa tahun.

Sangatlah beralasan, gerai-gerai peuyeumbendulbanyak berjejer di sepanjang jalur arteri Purwakarta- Bandung, di antaranya di daerah Kecamatan Bungursari dan Desa Bendul, Kecamatan Sukatani. Jalur itu merupakan akses penghubung Jakarta-Bandung, selain menggunakan jalur Puncak.

Begitu tol Cipularang beroperasi, maka sangat minim kendaraan dari Jakarta menuju Bandung atau sebaliknya yang menggunakan jalur itu. “Produsen peuyeum bendul berusaha untuk tetap bertahan agar penganan khas Purwakarta ini tetap lestari.

Kami pernah kehilangan omzet karena minimnya konsumen. Pada wak tu itu pemasaran hanya dijajakan di pinggir jalan menunggu pengendara lewat,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan UMKM dan Koperasi Kabupaten Purwakarta Entis Sutisna kepada KORAN SINDO.

Dampak dari tol Cipularang tidak hanya dirasakan produsen peuyeum bendul, tetapi juga banyak rumah makan besar harus gulung tikar terutama di jalur Purwakarta-Bandung via Sukatani.

Hingga saat ini rumah makan yang sempat berjaya pada 2000-an itu tak bisa bangkit kembali. Kondisi UMKM Purwakarta pun semakin suram begitu, tol Cipali, yang menghubungkan Cikampek-Palimanan, selesai dibangun. Praktis jalur tengah yakni Sadang-Subang akan terkena imbas.

Namun, menurut Entis, tol Cipali tidak berpengaruh banyak terhadap UMKM karena jalur Sadang-Subang merupakan jalur industri. Banyak pabrikpabrik besar berdiri di sepanjang jalur itu.

Dengan diapit tol Cipularang dan Cipali, Pemkab Purwakarta berpikir keras guna mencari terobosan baru agar produsen peuyeum bendulbisa kembali berjaya. Salah satunya dengan memaksimalkan rest area di sepanjang tol Cipularang, yakni Km 72, 88, dan Km 97, sebagai lokasi pemasaran baru.

Hanya, baru satu gerai yang terwujud di Km 72 Jalur A. Saat ini, menurut Entis, sedang diupayakan membuka gerai di Km 97. Di lokasi itu tidak hanya peuyeum bendul, tetapi juga komoditas lain yang menjadi unggulan Purwakarta untuk dipasarkan misalnya simping, gula merah cikeris, serta produkproduk andalan lain.

“Kalau rest area di tol Cipali terbilang cukup jauh. Kami belum bisa menargetkan harus ada gerai UMKM, tidak ada rest area yang masuk wilayah Purwakarta. Namun, secara umum kondisinya sudah berangsur-angsur normal kembali,” ungkap Entis.

Kondisi UMKM Purwakarta yang berjumlah 8.000 unit ditambah 2.400 industri kecil menengah (IKM) ini harus terus berkembang seiring target Pemrov Jabar yang menekankan 100.000 wirausaha baru.

Dua jalur tol itu tidak boleh menjadi penghambat atas perkembangan UMKM yang ditarget menjadi 10.000 unit. Guna mendongkrak pertumbuhan UMKM, terang dia, dikoneksikan dengan kebijakan pemkab yang menjadikan Purwakarta sebagai daerah tujuan wisata.

Target kunjungan wisata di tahun ini sebanyak 1,5 juta orang, akan dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini pastinya bakal berpengaruh terhadap perkembangan UMKM yang ada.

Salah satu fasilitas sentra UMKM pun telah disiapkan untuk menampung beragam produk, yakni dengan adanya Galeri Menong di Jalan Veteran, Purwakarta. Sementara itu, produsen peuyeum bendul sempat meraup untung besar di saat insiden bergesernya pilar Jembatan Cisomang (tol Cipularang) pada Desember 2016.

Jalur arteri itu pun kembali dipadati pengendara dari Jakarta menuju Bandung, atau sebaliknya. Gerai-gerai peuyeum bendul yang tadinya sepi kembali ramai hingga April 2017. Para perajin yang biasanya memproduksi 80 kg tape bahkan harus ditambah menjadi 100 kg setiap harinya.

Asep Sumarna, seorang tokoh masyarakat Sukatani, menyebutkan, beragam cara dilakukan agar penganan ini tetap bisa bersaing dengan produk lain. Dengan cara penataan dari mulai pembuatan hingga pemasaran.

Ditambah dengan menciptakan sejumlah varian berbahan dasar peuyeum bendul. “Alhamdulillah, ketika insiden Jembatan Cisomang, jalur ini kembali ramai oleh kendaraan. Kios-kios peuyeum bendulpun kembali diserbu pembeli.

Tercatat ada 171 produsen yang menggantungkan hidupnya pada peuyeum bendul,”ungkap Sumarna. Rupanya, ramainya pembeli hanya berlangsung beberapa bulan.

Begitu per baikan Jembatan Cisomang selesai dan tol Cipularang kembali dibuka, para produsen dan pedagang peuyeum bendulhanya mengandalkan liburan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya, kioskios akan dipenuhi pengunjung yang habis berwisata di daerah Buangan, Waduk Cirata.

asep supiandi