Edisi 11-10-2018
Minat Diaspora Jadi PNS Sangat Minim


JAKARTA - Karier menjadi pe gawai negeri sipil (PNS) ternyata tak terlalu dilirik kaum diaspora atau warga Indonesia yang bermukim di luar negeri.

Buktinya, upaya pemerintah me narik mereka dengan membuka formasi calon PNS mulai tahun ini ter nyata tak mendapat respons hangat. Hingga empat hari jelang masa pen daftaran CPNS, terdata hanya ada empat pendaftar dari 42 formasi yang di buka di berbagai instansi. Tahun ini hanya tiga jabatan yang dibuka untuk formasi diaspora yakni peneliti, dosen, dan perekayasa. Sya rat pen - didikan diwajibkan minimal S-2, kecuali untuk perekayasa yang da pat dilamar dari lulusan S-1. Badan Kepegawaian Negara (BKN) belum mengetahui pasti alasan para diaspora ini tak terlalu berminat men jadi PNS.

Yang jelas, BKN meng aku sudah melakukan sosialisasi de ngan maksimal sebagaimana terha dap formasi yang lain. Tak hanya itu, me nurut Kepala BKN Bima Haria Wi bisana, so sialisasi aktif terkait seleksi CPNS ini juga sudah dilakukan oleh Ke menterian Luar Negeri. “Tidak di le bihkan dan di ku rangkan. Kemlu juga sudah melakukannya,” ungkap nya di Jakarta. kemarin. Tak hanya itu, pihaknya juga telah mempermudah proses pendaftaran khusus jalur diaspora ini. Antara lain saat melakukan pendaftaran para diaspora tidak diharuskan meng gu na kan KTP elektronik, tapi bisa de ngan paspor. Lantas, bagaimana jika jumlah pe lamar tidak mencapai kuota yang di te tapkan?

Apakah akan diterapkan ke bi jakan khusus untuk meme nuhi nya? Ditanya hal ini, Bima masih be lum bisa memastikan. Menurut Bima, rendahnya minat pelamar diaspora tersebut ke mung kinan akibat lokasi tinggal mereka berada di luar negeri. Jauhnya jarak ter sebut membuat pelamar merasa kurang leluasa. “Memang agak repot ka rena audience -nya di luar negeri,” katanya. Selain diaspora, tahun ini pe me rintah membuka rekrutmen CPNS dari jalur khusus para lulusan terbaik (cumlaude), penyandang disabilitas, putraputri Papua dan Papua Barat, tenaga honorer eks kategori dua (K2), dan olahragawan ber prestasi inter na sional.

Kepala Biro (Karo) Humas BKN Mo hammad Ridwan mengung kap kan, untuk for ma si diaspo ra se be narnya dike ta hui su dah ada 52 akun pelamar yang di buat. Namun, memang yang ba ru me - nun taskan pen daf tar an ha nya empat orang. Jumlah ini me mang masih lebih tinggi di banding formasi khu sus lain nya yakni atlet ber pres tasi. “Un tuk atlet belum ada akun pe la mar yang dibuat sama sekali,” ungkapnya. Sementara untuk formasi khusus penyandang disabilitas, sudah ada 2.071 orang yang mem buat akun. Pelamar yang se lesai mendaftar sebanyak 1.019 orang. Kuota penyan - dang disabilitas adalah seba - nyak 1.797 formasi. Formasi putra/putri Papua yang telah membuat akun pela - mar sebanyak 4.161 orang.

Dari jumlah tersebut, pelamar yang sudah selesai mendaftar seba - nyak 2.191 orang. Lalu untuk formasi lulusan terbaik sudah ada 17.590 orang yang membuat akun. Dari jum - lah itu, yang telah me nyele sai kan pendaftaran sebanyak 11.964 orang. “Untuk formasi Honorer K2 yang sudah mem buat akun sebanyak 5.548 orang, lalu pelamar yang selesai mendaftar adalah 3.668 orang,” ungkapnya. Ridwan mengatakan total akun pelamar yang sudah ter daftar 4.046.866 orang. Total pelamar yang selesai daftar se ba - nyak 2.287.409 orang. “Untuk formasi umum, akun pe la mar yang terdaftar 3.984.312 orang. Dan yang sudah menye le saikan proses pendaftaran berjumlah 2.268.716 orang,” tuturnya.

Pakar kebijakan publik Uni - ver sitas Padjajaran (Unpad) Yogi Su prayogi mengatakan se be nar - nya langkah yang dila ku kan pe - me rintah membuka for masi khu - sus diaspora adalah bagus. Na - mun begitu, dia me ni lai situs pe - ne rimaan CPNS ku rang infor ma - tif bagi diaspora dan cende rung masih bersifat admi nis tra tif. “Padahal, diaspora itu butuh kejelasan. Harus jelas gaji dan tu gas serta fungsinya apa saja. Kalau melihat syaratnya kan hanya lulusan dan akreditasi. Ini sifatnya administratif. Pada hal gaji mereka sebelumnya pas ti sudah di atas rata-rata,” ujarnya.

Selain itu, Yogi menilai su dah seharusnya ada meka nis me seleksi berbeda bagi dias pora. Salah satunya dengan meng utamakan rekam jejak para dias pora terlebih dahulu. “Misalnya harus di-tracking dulu rekam je jaknya. Baru ke mu dian seleksi computer assis ted test (CAT). Mereka juga kan me mi li ki sedikit pe maham an,” katanya. Sosialisasi harus dilakukan lebih masif di kantor kedutaan dan perwakilan di luar negeri. Menurut dia, jika sampai hari penutupan pen daf taran masih banyak yang belum mendaftar akan lebih baik di perpanjang.

Dita angga







Berita Lainnya...