Edisi 11-10-2018
Tantangan Kebangsaan Kian Besar


PENAJAM PASER UTARA– Pada era globa lisasi sekarang, tantangan kebangsaan kian besar. Mulai ancaman penyalahgunaan teknologi, penyebaran paham radikalisme, fanatisme kedaerahan, hingga kuatnya intervensi asing.

Berbagai tantangan itu harus disikapi serius seluruh elemen bangsa agar tidak me nimbulkan kehancuran bangsa ke depan. Wakil Ketua MPR Ma hyu din menuturkan, langkah yang harus dilakukan untuk meng hadapi berbagai tan tangan bangsa tersebut adalah de - ngan memasyarakatkan Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila sebagai dasar ideologi negara, UUD 45 sebagai konstitusi negara, ketetapan MPR, NKRI se bagai bentuk negara, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Empat pilar ini perlu di masyarakatkan, perlu disosialisasikan karena tantangan kebang saan pada era globalisasi se makin kuat,” tutur Mahyudin di sela sosialisasi di Kantor Ke - camatan Babulu, Kabupaten Pe najam Paser Utara, Provinsi Ka limantan Timur, kemarin. Mahyudin mencontohkan, ancaman radikalisme yang bisa berujung pada tindakan tero - risme menjadi salah satu ancam an serius bangsa. “Ini terjadi karena masih lemahnya p emahaman agama. Pemahaman beragamanya keliru dan sempit sehingga muncul paham agama yang ujung-ujungnya menjadi teroris,” tuturnya.

Dia menjelaskan, dulu pada era pemerintahan Presiden Soe - harto ada pelajaran P4 (Pe do - man Penghayatan dan Penga - mal an Pancasila), juga ada PMP (Pendidikan Moral Pancasila). “Saat itu pendidikan moral lebih diutamakan daripada yang lain. Nilai matematika jelek enggak apa-apa, yang penting pen di - dikan moralnya bagus. Setelah Reformasi, diganti PPKN (Pen - didikan Pancasila dan Ke war - ganegaraan). Ada yang hilang, moralnya yang hilang sehingga banyak yang mengatakan kita tidak bermoral. Kini marak LGBT, gay, karena moralnya hi - lang,” tuturnya. Mahyudin mengaku sebagai Wakil Ketua MPR, dirinya ba - nyak didatangi masyarakat yang menginginkan agar Pen didik an Moral Pancasila diajarkan kembali di sekolah.

“Pancasila itu lahir dari jiwa bangsa Indo - nesia itu sendiri. Kita ini mudah terpengaruh bangsa lain, se - mentara budaya kita sendiri ti - dak kita hargai. Orang luar ram - but pirang kita ikuti, padahal tidak semua yang dari luar itu baik,” papar Mahyudin yang maju sebagai calon Dewan Per - wa kilan Daerah (DPD) dari Dae - rah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur ini. Dalam beragama, katanya, se jujurnya Islam yang ada di In - donesia adalah Islam yang kuat dan paling toleran. Namun de - ngan adanya internet, be la ka - ngan muncul paham radi ka lis - me. “Islam itu agama yang rah - mat an lil alamin . Kerjakan saja perintah-Nya. Gak usah belajar dari orang yang tidak kita kenal. Belajar saja dari guru-guru yang sudah kita kenal, dari NU, Mu - hammadiyah, sudah benar itu,” urainya.

Menurut dia, masih banyak masyarakat yang terpukau to - koh yang Arab yang dianggap pa - ling baik, padahal tidak se di kit orang Arab yang keturunan kaum jahiliyah. “Makanya Is lam di turunkan di Arab. Na mun, ba - nyak juga yang bagus, m a ka nya crosscheck dulu. Kalau imam nya radikal, suka nyerang orang, ja - ngan ikuti. Di Surabaya ada ibu ajak anak bunuh diri, ini kayak orang gila saja karena otak nya sudah dicuci,” papar nya. Karena itu, menurut Mah - yu din, program deradikalisasi perlu digalakkan. Selama ini, program deradikalisasi masih dianggap gagal.

“Program de ra - dikalisasi sering gagal karena be lum ada penjara khusus te roris. Mereka ditahan di tahanan yang sama dengan narapidana lain yang terjadi justru tahanan teroris itu menyebarluaskan ajarannya. Karena itu, negara per lu menguatkan program de - ra dikalisasi. Perlu ada pendamping dari dokter dan lainnya,” tuturnya. Tantangan bangsa yang ti - dak kalah serius adalah fana tis - me kedaerahan. Program Oto - nomi Daerah banyak disa lah - gunakan.

“Bupati banyak yang jualan izin. Ini dampak gagalnya Otonomi Daerah. Sekarang oto - nomi digeser ke provinsi. Dulu banyak bupati jualan izin ke in - vestor, akhirnya rakyatnya gak punya apa-apa, hanya jadi kuli dan penonton di daerahnya sendiri,” urainya. Fanatisme kedaerahan juga bisa berujung pada menguat nya unsur SARA (suku, ras, dan agama). “Terutama meng hada pi ta hun politik, masjid-masjid di - gu nakan kampanye SARA. Na - mun, saya percaya suatu saat pri - mordialisme di politik akan hi - lang karena masyarakat akan sa - dar bahwa masyarakat me mi lih pemimpin yang bisa diharapkan membawa kemajuan,” ka tanya. Ancaman pada tahun politik ini yang juga sangat serius ada - lah praktik politik uang (money politics).

“Jadi caleg, bupati, se - ka rang berat karena politik uang. Karena itu, rakyat harus me ngubah pola pikirnya. Kalau kita pilih karena uang, pasti akan menciptakan koruptor ba - ru karena mereka akan berpikir mengembalikan modalnya,” tu - turnya. Kurangnya keteladanan dari para pemimpin, menurut Mah - yu din, juga menyebabkan prak - tik korupsi di Indonesia kian marak. “Hakim Agung ditan g - kap, hakim Mahkamah Kons ti - tu si ditangkap, ketua DPR di - tang kap, ketua DPD ditangkap. Ini darurat korupsi. Harus kita hentikan mulai sekarang. Kalau korupsi terus terjadi, negara bisa bangkrut. Rakyat yang me - larat,” urainya.

Di sisi lain, penegakan hukum di Indonesia belum ber ja - lan dengan optimal. “Hukum kita masih tajam ke bawah, tum pul ke atas. Maling ayam gam - pang ditangkap. Padahal, ha kim itu wakil Tuhan di dunia, maka disebut yang mulia, tapi masih doyan duit,” katanya. Tantangan kebangsaan yang tidak kalah penting adalah pe - nga ruh eksternal yang masuk melalui teknologi. Saat ini, ka tanya, dunia tidak bisa disekat. “Dunia dalam genggaman. Ham - pir semua orang punya smart - phone. Ada hiburan, medsos, se - muanya itu sebenarnya baik, tapi ada juga yang tidak baik. Asing berusaha merusak Indonesia agar tidak maju-maju. Sebab, Indonesia adalah salah sa tu pasar besar dunia. Kalau Indonesia maju, mereka bisa bangkrut karena bisa bikin pon - sel sendiri,” katanya.

Belum lagi dampak negatif yang ditimbulkan akibat tek no - lo gi. “Game itu rata-rata me - ngandung tokoh berbau porno sehingga anak kita sibuk main game. Tolong jaga anak kita ma - sing-masing karena kebanyakan main game itu bisa merusak. Banyak orang cerai gara-gara Face book. Teknologi ini bisa di ja - dikan media dakwah, tapi juga bisa menemukan cinta lama kembali di Facebook. Banyak ke - luarga rusak gara-gara Facebook,” katanya. Sementara itu, Bupati Pe na - jam Paser Utara Abdul Ghafur Masud dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan Suhardi mengata kan, pendiri bangsa ingin men jadikan Indonesia menjadi bangsa yang kuat dengan sem - boyan Bhineka Tunggal Ika.

“Jangan menjadikan perbedaan sebagai pemecah belah, tapi se buah kesatuan untuk berne - gara,” tuturnya. Dia mengatakan, saat ini tan tangan yang dihadapi bang - sa tidak hanya dari satu arah, juga dari berbagai arah, ter masuk dari medsos sehingga perlu pendidikan karakter.

Abdul rochim





Berita Lainnya...