Edisi 11-10-2018
Transjakarta Tetap Andalkan Separator


JAKARTA – PT Transportasi Ja karta tetap mengandalkan separator setinggi 60 cm untuk sterilisasi jalur, meski pembatas jalan tersebut kerap menyebabkan kecelakaan.

Banyak insiden mobil pribadi ataupun bus menabrak separator, misalnya bus Transjakarta koridor I (Blok MKota) menyenggol separator di Jalan Sudirman dan sebe lumnya sedan menabrak separator di kawasan Permata Hijau, Jakar ta Selatan. Kepala Humas PT Trans portasi Jakarta Wibowo mengakui, banyak kasus kecelakaan kendaraan menabrak separator busway. Evaluasi pun terus di la kukan, tapi keberadaan se pa rator setinggi 60 cm tersebut masih menjadi salah satu cara mensterilkan jalur dari ken da ra an pri badi selain pemasangan portal dibantu penjagaan petugas.

“Berdasarkan standar pela - yan an minimum (SPM) me mang diatur agar jalur Trans jakarta ste - ril. Untuk bisa me me nuhi atur an itu dipasanglah separator, portal, serta petugas yang berjaga,” ujar Wibowo kemarin. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Di nas Perhubungan DKI Ja kar - ta Sigit Widjiatmoko menga takan, sterilisasi jalur merupakan upaya pendukung untuk menca pai SPM di mana batas head - way maksimal tujuh menit. Sayang nya, operasional bus Transjakarta belum mencapai head - way lantaran jalur belum steril. Dia juga telah meminta pi - hak kepolisian membantu pen - jagaan busway, khususnya ko - ridor I dari kendaraan pribadi.

Dia tidak ingin ada diskresi yang selama ini menjadi alasan polisi membiarkan kendaraan pri ba - di melintas di jalur Trans ja karta. “Jalur mix dengan kendaraan pribadi akibat tidak ada se pa rator akan kami pasang kem bali,” ungkapnya. Ketua Dewan Transportasi Ko ta Jakarta (DTKJ) Iskandar Abu Bakar menyarankan PT Tran s portasi Jakarta meng - ubah pola operasional bus un tuk mensterilkan jalur karena se pa - ra tor setinggi 60 cm sangat rawan kecelakaan dan mengu rangi kapasitas ruas jalan. “Se jak awal saya tidak setuju de ngan separator itu. Selain rawan kecelakaan, separator me ma kan ruas jalan dan menye bab kan penyempitan jalan. Aki bat nya, ke - macetan pasti ada,” ujarnya.

Menurut dia, manajemen operasional PT Transportasi Ja - karta perlu dievaluasi dengan menempatkan jarak bus satu de ngan lainnya sekitar lima me - nit. Selain dapat mengangkut penumpang secara maksimal, jalur tidak terlihat kosong dan tidak dimanfaatkan kendaraan pribadi yang terjebak macet di jalur reguler. Iskandar juga meminta PT Transportasi Jakarta bekerja sama dengan Polda Metro Jaya menerapkan tilang elek tro nik/ e-tilang atau electronic traffic law enforcement (ETLE) di jalur Trans jakarta seperti yang di - terapkan d i kawasan Sudirman- MH Thamrin saat ini.

“Seka rang kan ditempel bus terus belakang nya kosong lama. Atur ja rak bus setiap lima menit se kali agar tidak terjadi kekosongan, kemudian tegakkan sanksi hukum melalui e-tilang,” tegasnya.

Bima setiyadi












Berita Lainnya...