Edisi 11-10-2018
1.096 Tahanan Masih Belum Kembali


JAKARTA - Ditjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM terus memperbaiki enam lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) yang rusak akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Dari 1.460 tahanan yang keluar saat bencana terjadi pada 28 September, baru 364 tahanan yang melaporkan diri ke posko Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Artinya, se ba nyak 1.096 tahanan dan warga binaan masih berada di luar tahanan. “Total binaan dalam lapas sekarang 204 orang, yang sudah lapor 364 orang, yang belum diketahui 1.096 orang. Total jumlah penghuni 1.664,” kata Dirjen Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami di kantornya, Jakarta, kemarin. Menurut Sri, jumlah ta hanan yang belum kembali ter se but diperolehberdasarkandatadari enam rutan/lapas yang ada di Palu dan Donggala: Lapas Palu, Lapas Perempuan Palu, Rutan Palu, Rutan Dong gala, Rutan Parigi, dan LPKA Palu.

Sementara untuk napi yang masih ada di UPT paling banyak berasal dari rutan cabang Parigi, yakni 109 orang. “Satgas akan lak u - kan pen ca rian terhadap mereka yang me larikan diri. Tapi bila me li hat data yang ada di kami, se tiap harinya ada peningkatan jumlah. Data yang sudah me la - porkan sudah 364 orang. Yang sudah ada di dalam rutan 204 orang,” ujarnya. Sri Puguh mengimbau ke - pada para napi untuk segera me laporkan diri sebagai ben - tuk iktikad baik meneruskan masa hukumannya di dalam lapas. Para napi yang kabur bisa melapor ke sejumlah tempat yang sudah ditentukan.

“Kami imbau kepada mereka yang belum menyerahkan diri, yakni 1.096 orang ini un tuk melaporkan diri. Posko yang adadiLapasPalu, LPKAPalu, Rutan Palu, Rutan Dong gala, dari rutan cabang Parigi siap me - nerimanya. Utamanya ditem - pat kan di Rutan Palu,” tegasnya. Sri mengatakan, pihaknya hingga kini masih belum bisa melakukan pencarian terhadap warga binaan yang belum kem - bali. Sebab, sampai saat ini Dit - jen Pemasyarakatan masih ke - sulitan memberikan fasilitas da sar seperti bahan ma kanan ser ta kesediaan air dan listrik ke pada para tahanan serta war - ga binaan yang sudah berada di dalam rutan ataupun lapas.

“Ketersediaan bahan ma - kanan ini masih belum men cu - kupi. Kami tetap imbau se be - lum kami lakukan pencarian. Sudah kami anggap sebagai apa namanya, masuk ke DPO. Ini lebih baik laporkan diri. Ini pen ting bagi yang bersangkutan, kepada keluarganya atau siapa pun untuk segera laporkan saja,” ungkapnya. Sri mengatakan, pencarian untuk para tahanan ataupun warga binaan akan dilakukan bila ketersediaan fasilitas da - sar sudah terpenuhi. Hal ini me nunggu laporan dari Kan - wil Sulawesi Tengah. “Kali ini menyangkut penyediaan ba - han makanan napi harus siap dulu. Jangan sampai sudah men cari napi dan me ma suk - kan nya lagi ke lapas, makanan tidak bisa terpenuhi, air belum bisa kita penuhi, listrik juga belum bisa,” katanya.

Sri Utami juga mengatakan, pihaknya memberikan izin bagi tahanan di Rutan dan La pas di Sulawesi Tengah untuk me ne - mui keluarganya yang menjadi korban gempa. Na mun, Ditjen Pemasyarakatan memberikan waktu hanya satu pekan bagi para warga binaan. Setelah itu, mereka diminta kembali dan menyerahkan diri. Menurut Utami, izin ke luar tahanan itu diberikan karena situasi yang darurat pascagempa. Sebelumnya, Menteri Hu - kum dan HAM Yasonna Laoly mengungkapkan, lapas roboh akibat bencana. Karena itu, untuk alasan kemanusiaan, para nara pidana masih dibiarkan di luar lapas.

Pasalnya, para napi juga mengkhawatirkan kondisi ke se lamatan keluarganya. “Se - men ta ra kita harap kan biar dulu dibuat planning yang rapi soal itu. Jangan nanti asal di ma - sukkan, gempa lagi, meninggal banyak juga, kita yang jadi urusan,” ung kap Yasonna.

Binti mufarida


Berita Lainnya...