Edisi 11-10-2018
Bayar Utang, Mahathir Jual Aset Negara


KUALA LUMPUR– Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengungkapkan pemerintahannya akan memberlakukan pajak baru dan menjual aset negara untuk membayar utang yang ditinggal pemerintahan sebelumnya.

Itu dilakukan Mahathir untuk memulihkan kepercayaan investor. Pemerintahan Mahathir menghadapi utang warisan senilai 1 triliun ringgit atau USD240,67 miliar (Rp3.657 triliun). Hutang itu mencapai 80,3% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Malaysia. Selain itu, Mahathir juga menyalahkan kasus korupsi dan pencucian uang 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang melibatkan Najib, keluarga, dan koleganya. Mahathir harus berpikir keras mendapatkan sumber pendapatan baru setelah membatalkan pajak pelayanan dan barang yang tidak populer beberapa pekan setelah dilantik sebagai PM.

”Kita mungkin akan menyusun pajak baru untuk mendapatkan uang agar bisa membayar hutang,” ujar Mahathir saat konferensi yang dihadiri investor di Kuala Lumpur dilansir Reuters. Dia juga tidak mengelaborasi jenis pajak baru yang akan dibentuk. Namun, media lokal melaporkan pemerintah akan mengenalkan pajak minuman soda dan warisan. Kemudian Mahathir mengungkapkan hal lain yang bisa dilakukan pemerintahannya adalah menjual aset negara. ”Tanah adalah salah satunya. Kita mungkin menjual beberapa aset berharga untuk bisa membayar hutang,” tuturnya. Namun, dia tidak mengidentifikasi aset apa saja yang akan dijual.

Mahathir menegaskan kebijakan penjualan aset negaranya berbeda dengan program yang dilaksanakan Najib. Mahathir ingin fokus menjual aset negara kepada investor lokal. Sedangkan Najib menjual tanah kepada orang asing untuk membangun properti kelas atas yang tak mampu dibeli mayoritas rakyat Malaysia. Bank Dunia baru-baru ini memotong tingkat pertumbuhan ekonomi Malaysia menjadi 4,9% dari 5,4%. Itu berkaitan dengan prospek belanja ekonomi Malaysia dan tingkat hutang yang tinggi. ”Pemerintahan saya memang memprioritaskan membayar hutang dan memperbaiki mesin pemerintahan yang rusak,” ungkap Mahathir.

Pada saat bersamaan, Mahathir menginginkan Kuala Lumpur bisa menarik investasi asing secara langsung. Mahathir yang sebelum tidak diperkirakan akan memenangkan pemilu pada Mei lalu, selalu menyalahkan pemerintahan mantan PM Najib Razak yang menyebabkan Malaysia terjebak utang sangat banyak. Mahathir menuding Najib yang membangun perekonomian Malaysia dengan dasar utang. ”Iniakanmenjaditugasberat bagi pemerintah karena kita mendapatkan warisan (utang) dari pemerintahan yang dis - orientasi,” ujar Mahathir. Dia menjelaskan pemerintahan mantan PM Najib tidak memiliki akuntabilitas dalam mengelola keuangan negara.

Bangkit Kembali Menjadi Macan Asia?

Mahathir berkeyakinan bahwa negaranya bisa pulih dengan bantuan investor asing. Itu berdasarkan pengalaman Malaysia saat menghadapi krisis keuangan Asia pada per-tengahan 1990-an. ”Negara ini akan tumbuh dan tumbuh menjadi macan yang lain,” ujar Mahathir. Itu mengacu ekonomi Hong Kong, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan yang dikenal sebagai ”Macan Asia” pada 1990-an karena proses industrinisasi yang cepat. Hanya saja, kasus dihadapi Malaysia saat ini berbeda dengan apa yang dihadapi pada 1990-an. Dulu pertumbuhan ekonomi dipicu ekspor komoditas dan investasi pada pasar ekuitas di tengah maraknya privatisasi.

Sedangkan krisis yang dihadapi Malaysia saat ini karena ketergantungan belanja infrastruktur dengan investasi asing dan penurunan ekspor. Pemerintahan Mahathir telah membatalkan proyek yang ditalangi dana dari China senilai 76,18 miliar ringgit (Rp278 triliun) dan proyek subway senilai 15,22 miliar (Rp55 triliun). Itu semua bertujuan untuk meyakinkan investor asing. Ekspor Malaysia juga mengalami penurunan 0,3% pada Agustus lalu. Hal itu menjadikan pertumbuhan perdagangan terendah sejak Oktober 2014.

”Banyak perusahaan Malaysia terkendala dampak perang dagang AS-China,” kata laporkan United Overseas Bank di Singapura pada laporan terbarunya. Penurunan pertumbuhan ekonomi Malaysia saat ini karena kehilangan pendapatan tahunan senilai 23 miliar ringgit akibat dihapusnya pajak barang dan layanan. Pemerintahan Malaysia sebelumnya menyatakan defisit fiskal sebesar 2,8% dari PDB pada 2018, tetapi pemerintahan baru menganggap hal tersebut tidak realistis.

Tetap Percaya Diri

Pemerintahan kabinet Mahathir akan mengungkapkan anggaran fiskal 2019 pada 2 November mendatang. Me reka memperingatkan tahun yang berat akan dijalani mendatang. ”Anggaran akan dikorbankan, semua akan berkorban, dan kita harus menerima bahwa kita berkorban,” kata Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng. Namun, Lim menegaskan, fundamental ekonomi Malaysia masih kuat, meskipun diperkirkan akan mengalami kemunduran. ”Konsolidasi fiskal tidak akan mudah dicapai,” ujarnya.

Dia menegaskan Malaysia tidak akan mengalami defisit ganda, tetapi akan menikmati surplus. Lim menegaskan reformasi institusional yang dilakukan pemerintahan Malaysia memberikan kepastian investor dan kepercayaan terhadap sistem. ”Itu memang tidak muda. Tapi, saya percaya bahwa itu bisa dilakukan. Selalu ada gelap, sebelum fajar,” ujarnya melansir The Star. Lim mengungkapkan, pemerintah melalui Komite Reformasi Pajak (TRC) berencana melakukan diversifikasi sumber pajak dan mengkaji insentif pajak yang sudah diberikan. ”TRC diberi mandat untuk meminimalisasikan kesenjangan pajak, mendiversifikasi pendapatan pajak, serta membuat sistem pajak lebih netral, efisien, dan progresif,” katanya.

Nanti sistem perpanjangan Malaysia juga bisa meminimalisasikan kebocoran. Dalam analisis Capital Economics, Malaysia akan menghadapi pertumbuhan ekonomi menurun tajam saat Mahathir merenegosiasi investasi China. ”Jika Mahathir memosisikan melawan keterlibatan China dalam proyek infrastruktur akan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” kata analisis Capital Economics. Sebelumnya Mahathir Mohamad yakin China akan simpati dengan masalah fiskal internal Malaysia. Pernyataan itu diungkapkan Mahathir saat dia berupaya melakukan negosiasi ulang atau kemungkinan pembatalan proyek- proyek China bernilai lebih dari USD20 miliar.

Mahathir menjelaskan, setelah bertemu PM China Li Keqiang di Beijing, dia tidak yakin dengan konfrontasi dengan negara manapun dan menekankan keuntungan yang didapat Malaysia dari peningkatan perdagangan, teknologi, dan kewirausahaan China. ”Kami juga berharap China memahami masalah yang sedang dihadapi Malaysia saat ini,” ungkap Mahathir saat konferensi pers bersama Li.

Andika hendra







Berita Lainnya...