Edisi 11-10-2018
Desa Presisi Tinggi


Polemik tentang data di Indonesia tidak pernah selesai. Mengapa? Karena sajian data dalam angka-angka statistik dianggap sarat kepentingan.

Ketika pemerintah mengungkapkan keberhasilannya dengan angka-angka, ti dak sedikit publik melakukan penyangkalan. Penyangkalan terse but dikarenakan antara data yang d isampaikan d an f ak ta yang ada dianggap tidak ber sesuaian. Saatnya polemik ini dise lesaikan melalui desa pre sisi yang memberikan ja min an atas keabsahan data-data yang dibutuhkan.

Penyebab

Implikasi atas data yang dianggap kurang absah atau valid adalah minimnya kepercayaan publik atas keberhasilan pen capai an pembangunan. Belum lama ini pemerintah melangsir pen capaian penurunan angka ke miskinan yang mencapai satu digit. Juga beberapa angka produk si pangan yang katanya sudah swasembada. Namun, setelah dilangsir, a ngka-angka ter sebut s eketika terkoreksi. Ang ka kemiskinan yang turun, terkoreksi dengan angka ke timpangan yang tinggi. Demi ki an hal nya komoditi beras yang di - anggap sudah mencapai target swasembada, langsung ter ko - rek si melalui peng umum an impor beras seba nyak 2 juta ton. Orang desa, pe tani, dan ber bagai kalangan di buat bingung.

Po lemik pun men cuat, peme - rin tah seolah ke hilangan keper - cayaan publik ten tang data. Mengapa situasi dan kon - disi seperti ini selalu saja ter ja - di? Hemat penulis terdapat be - berapa penyebab. Pertama, se - lama ini orang desa hanya di - tempatkan sebagai “objek” dalam pengumpulan data. Pen - dekatan sensus, survei, dan se - jenisnya yang digunakan saat ini sarat dengan persoalan presisi. Meletakkan satu-satunya sumber data kepada responden ( menjawab pertanyaan yang diberikan) dengan tidak mempertimbangkan sumber lain (keberagaman sumber data) menjadi persoalan tersendiri.

Demikianlah dialami de - ngan data podes (potensi desa) yang mengandalkan sumber res ponden hanya dari kepala atau sekretaris desa. Kedua , mi - nimnya akses data desa ber ba - sis spasial. Masih banyaknya desa di Indonesia yang m ema - jang sketsa desa (dianggap se - ba gai peta desa) di kantor desa - nya, menunjukkan data desa masih belum berbasis spasial. Jika pun ditemukan peta orthophoto desa, citra yang diguna - kan belum memiliki resolusi ting gi. Artinya, desa belum memiliki kesadaran spasial yang memberikan gambaran utuh ten tang ruang desanya. Ketiga, kreativitas yang ku - rang d alam p endekatan pe - ngum pulan data desa.

Sejauh ini, sensus maupun survei desa me rupakan satu-satunya pen - de katan yang digunakan da lam penyusunan database de sa. Pen dekatan yang melibat kan par tisipasi orang desa da lam pe - ngumpulan data masih sa ngat minim. Apalagi, kom bi nasi pe - ngumpulan data desa yang meng gunakan data spe sial, saya yakin masih sangat langka. Keempat, data desa disusun secara manual. Tidak sedikit tampilan data desa dalam ben - tuk tulisan tangan atau ketikan masih ditemukan. Meski su - dah terdapat sistem informasi desa atau sejenisnya, itu belum menggambarkan situasi dan kondisi desa yang seutuhnya.

Data yang tersaji dalam sistem in formasi masih sekadar me - min dahkan data desa yang ma - nual ke dalam sistem. Kelima, minimnya sumber daya aparat desa. Pendidikan yang rendah, keterampilan yang minim, dan tingkat resi li - ensi yang rendah terhadap dis - rup si yang dihadapi desa ada lah deretan persoalan sumber daya manusia dihadapi desa saat ini.

Peluang

Saat ini kita memasuki era di ma na kesejatian tercabut da ri akarnya atau t erjadinya p er - ubah an yang fundamental (era dis rupsi). Era ini ditandai de - ngan pesatnya kemajuan digi tal (era 4.0) yang mengubah ta tan - an kehidupan manusia. Ba gi se - ba gian orang meng ang gap nya an caman, tetapi tidak se di kit orang menganggap bah wa era dis rupsi yang diser tai era 4.0 ada lah peluang yang harus dire - but. P andangan ter akhir i ni ingin menegaskan bah wa per - ubah an y ang terjadi ja ngan sam pai melindas ma nu sia, te tapi manusialah yang ha rus mam - pu berselancar dan me man faat - kan perubahan yang ter jadi.

Demikian halnya d engan de sa. Desa harus mampu ber - adap tasi d engan perubahan yang terjadi, harus mampu ber - selancar di atas perubahan itu sendiri. Saatnya desa bergegas dan menata dirinya. Ke sen - jang an akses pengetahuan, in - for masi, spasial, dan ke sen - jang an l ainnya y ang meng - ham bat kemajuan pem ba - ngun an desa bukanlah sesuatu yang tidak mampu diretas di era 4.0 saat ini, melainkan me - rupakan peluang yang harus direbut. Tujuh isu strategis de - sa dalam UU No 6/2014 (pe na - ta an desa, perencanaan desa, ker jasama desa, investasi ma - suk desa, BUM Desa dan BUM Desa Bersama, kejadian luar biasa, dan aset desa) adalah peluang bagi desa untuk me la ku - kan perbaikan melalui d esa yang memiliki presisi tinggi.

Desa presisi tinggi adalah desa yang memiliki ketepatan da - lam merencanakan dan mem - bangun serta menyelesaikan per soalan yang terjadi di desa berbasis data dan teknologi digital maju dengan kebera gam - an dan pengulangan pada pe - ng ukuran yang dilakukan secara partisipatif. Untuk m ewujudkan d esa pre sisi tinggi di atas maka di - per lukan tiga pemahaman. Per - tama, pemahaman bahwa saat ini telah terjadi kesen jang an akses informasi dan data. Disadari bahwa desa memiliki ke terbatasan i nformasi dan data yang mampu mem berikan gambaran utuh tentang desa. Keterbatasan tersebut berimplikasi pada peren ca naan d an p elaksanaan pem ba - ngunan desa.

Alhasil, ukuranukuran keberhasilan ataupun kegagalan pembangunan desa bukan berasal dari dalam desa, melainkan dari luar desa. Kedua, pemahaman minim - nya kesadaran spasial dalam membangun data desa. Data spasial memiliki peran penting me rencanakan dan menyusun program m aupun kebijakan pembangunan desa. Namun, di sayangkan, data dalam ben - tuk daftar keinginan warga ma - sih dominan digunakan se ba - gai pertimbangan penyusunan pro gram dan kebijakan desa me lalui musyawarah peren ca - na an pembangunan desa (mus renbangdes). Tam pak nya sa dar spasial ini masih jauh da - lam perencanaan dan pe lak sana an pembangunan desa-desa di Indonesia.

Ketiga, pemahaman ter ja di - nya kesenjangan penge ta hu an (kapasitas) aparat desa. Kita me nyadari b ahwa kapasitas apa rat desa butuh kecepatan up-grade yang tinggiagar adap - tif dan mampu menghadapi situ asi disrupsi. Diakui bahwa saat ini aparat desa masih memi liki sumber daya yang minim. Pendidikan yang rendah, ke terampilan yang minim, dan tingkat resiliensi yang rendah ter hadap disrupsi adalah de ret - an persoalan yang kita ha dapi saat ini. Akan tetapi, de ret an persoalan tersebut bu kan lah ancaman, melainkan pe luang yang harus digarap dan dikerjakan dengan baik.

Pendekatan Baru

Saatnya p olemik t entang data harus diselesaikan. Data de ngan presisi tinggi dengan sen tuhan digital harus dimulai dari desa. Era 4.0 memberikan ruang keterbukaan dan ke pas - ti an yang dibutuhkan untuk mem bangun I ndonesia d ari desa. Pendekatan lama (kon - ven sional) pengumpulan data yang sering kali membuat polemik saatnya diperbaiki dengan memanfaatkan era digital. Un - tuk itu dibutuhkan pende katan baru yang mampu me ngom - binasikan pendekatan kon ven - sional dengan pendekatan di gi - tal berbasis partisipasi war ga desa. P endekatan baru ini kami (penulis dan peneliti PSP3 IPB) inisiasi d engan na ma Drone Par ticipatory Map ping (disingkat DPM).

DPM a dalah p endekatan pe ngumpulan data desa presisi tinggi yang memper tim bang - kan dimensi spasial, teknologi ting gi, digital, dan partisipasi. Peng gunaan drone (Unmanned Aerial Vehicle ) dengan peli batan warga desa diperuntukkan menghasilkan c itra r esolusi ting gi untuk kepentingan data spa sial yang selama ini belum di miliki desa. Dengan sen tuhan partisipasi warga, data spasi al yang diperoleh digunakan un tuk memperoleh data tematik persil (demografi, pendi dikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain), peta desa sesuai aturan yang berlaku (ad mi nis trasi, batas desa, infrastruktur, topografi, penggunaan lahan, dan lain-lain), verifikasi data po tensi desa, estimasi maupun pro ksi pembangunan desa berba sis lahan, daya dukung desa, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

Lebih dari itu, data base yang diperoleh dari da ta spasial dapat dijadikan seba gai basis menyusun artificial intellegence Rencana Pem bangun an Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDes). Dengan demikian, ukuranukuran perencanaan dan pembangunan desa memiliki presisi tinggi yang dapat menghalau terjadinya manipulasi data dan anggaran yang bersumber dari aras desa maupun supra desa. Di sinilah pentingnya mewujudkan desa presisi tinggi yang mampu mengakhiri polemik data yang tidak pernah selesai. Semoga!

Sofyan Sjaf
Sosiolog Pedesaan FEMA/Kepala PSP3 Institut Pertanian Bogor

Berita Lainnya...