Edisi 11-10-2018
Semua Anggota Tim Bisa Jadi Pemimpin


Perjalanan wisata yang telah menjadi gaya hidup dan tren masyarakat global masa kini ikut mengungkit bisnis di sektor terkait, salah satunya penjualan tas dan koper milik Samsonite International.

Dengan mengusung konsep multibrand,produsen koper terbesar di dunia itu terus berekspansi dan berinovasi melahirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.

Dikutip dari Reuters, menguatnya pasar perjalanan wisata ikut mendongkrak pertumbuhan penjualan bersih Samsonite sebesar 16,6% pada paruh pertama 2018. Perusahaan bermarkas di Luxemburg itu meraup penjualan bersih pada semester I/2018 senilai USD1,85 miliar naik dibanding tahun sebelumnya USD1,59 miliar.

Penjualan bersih merek Tumi meningkat 16,6% secara year-onyear, merek Samsonite naik 5%, dan American Tourister tumbuh 24,2%. Presiden Asia Pasifik dan Timur Tengah Samsonite International S.A Subrata Dutta mengatakan, ke depan Samsonite akan terus konsisten dengan pendekatan multibrand yang bisa merangkul semua segmen konsumen.

Hadir di lebih dari 100 negara, Samsonite memandang Indonesia sebagai pasar sangat potensial dan dalam tiga tahun ke depan ditargetkan menjadi Top 5 kontributor bagi bisnis induk Samsonite. Seperti apa strateginya? Berikut petikan wawancara KORAN SINDOdengan Subrata beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan sekilas tentang bisnis Samsonite?

Samsonite sebagai perusahaan memiliki beberapa merek produk. Dari aspek size- nya, tiga di antaranya telah menjadi merek teratas (Top 3) di dunia, yaitu Samsonite, American Tourister, dan Tumi. Jadi, kami punya pendekatan multibrand. Masing-masing brand tadi menawarkan solusi sesuai dengan kebutuhan dan karakter yang berbeda-beda.

Artinya ketiga merek produk itu juga menyasar konsumen berbeda, seperti apa?

Contohnya, produk American Tourister itu menyasar konsumen muda yang dinamis dan suka mencoba. Fungsinya terutama lebih ditujukan untuk keperluan jalan-jalan atau berwisata (leisure), bukan untuk kerja.

Ini berbeda dengan Samsonite yang kami kembangkan sebagai merek lebih serius, tas non-travel. Koper dan tas punggung Samsonite didesain sebagai solusi bagi pebisnis. Adapun merek Tumi ini lebih high-end. America Tourister yang merupakan kombinasi antara style dan substansi menjadi produk paling ideal untuk milenial dan anak muda.

Kami juga berinvestasi besar dengan menjadikan pesepak bola Cristiano Ronaldo sebagai brand ambassador American Tourister. Selain pesepak bola andal, dia juga stylish, fashionable,dan enak dilihat. Kepribadiannya ini dirasa cocok dengan American Tourister.

Bagaimana penjualan merek-merek tersebut di Indonesia?

Di Indonesia, Samsonite punya reputasi kuat. Dengan citra dan kualitas produk yang bagus, penjualan American Tourister tumbuh dengan sangat baik di Indonesia. Dengan kata lain termasuk fast growing brand.Melalui tiga merek Top 3 tersebut, kami juga ingin mencakup semua segmen konsumen masyarakat di sini.

Selain itu, kami punya merek lainnya, yaitu Kamelion menyasar konsumen yang suka membeli tas tanpa brand.Harganya cukup bersaing, berkisar low-medium price. Dalam menjual produk, kami juga bekerja sama dengan mitra lokal yang paham. Ada beberapa agen yang kami tunjuk dan sudah bermitra beberapa lama dalam membangun pasar untuk kami.

Seberapa besar kontribusi bisnis Samsonite di Indonesia terhadap grup?

Terus terang saat ini belum masuk lima besar, tapi kita lihat Indonesia ini populasinya keempat terbesar di dunia, banyak anak mudanya dan suka dengan fashion. Kami melihat banyak potensi sehingga ekspektasi kami dalam tiga tahun ke depan Indonesia akan masuk Top 5 kontributor bagi Samsonite grup.

Hal ini didukung dengan empat merek unggulan tersebut. Kami me-leverage strategi multibrand dan berinovasi sesuai perkembangan konsumen yang makin demanding, apa saja fitur-fitur yang dicari orang dari sebuah tas atau koper. Kalau kita sudah terbukti profesional dan berkualitas, produk kita juga akan dicari dan dibeli orang.

Berapa besar pangsa pasar Samsonite saat ini?

Di Asia, Samsonite cukup kuat. Pertumbuhannya dalam satu dekade terakhir hampir dua kali lipat. Dalam hal pangsa pasar, saya agak sulit menjawabnya karena tidak ada studinya, tapi kalau mengacu pada pasar dari bisnis luggage saja, pangsa pasar kami diperkirakan lebih dari 30%.

Seiring tren e-commerce, bagaimana kinerja penjualan daring dari produk Samsonite?

Kami sudah bekerja sama dengan sejumlah platform belanja online yang besar-besar, seperti Lazada dan blibli.com. Kami menyadari tanggung jawab dan pekerjaan kami untuk hadir di manapun dan ke manapun konsumen pergi.

Pangsa pasar kami di e-commerce juga sejalan dengan pertumbuhan penjualan kami di offline.Artinya, offline tetap lebih tinggi, tapi keduanya bertumbuh. Bagaimanapun bisnis kami berawalnya dari offline.

Kami punya toko ritel sendiri, produk kami juga ada di department store,hipermarket, dan clasical luggage store.Kontribusi penjualan offline lebih dari dua kali lipat dibanding online.Namun, mengingat konsumen muda banyak yang tertarik belanja online,maka kami menyediakan juga online store.

Target bisnis untuk tahun depan seperti apa?

Kami akan melakukan perluasan brand dengan mengeluarkan sesuatu yang baru karena kami memang mencanangkan agar ada hal baru setiap tahun. Kami juga akan ekspansi ritel dengan memperbanyak toko dan memacu pertumbuhan penjualan di toko. Indonesia ekonominya kuat sehingga kami berharap pangsa pasarnya lebih tinggi. Selain itu, kami akan meningkatkan point of sale dan throughput per toko.

Bagaimana Anda menyikapi persaingan dengan produk sejenis?

Persaingan di Asia dan Indonesia ini sangat tersebar. Ini pasar sangat terfragmentasi sehingga banyak kompetitor. Kami selalu senang dengan kompetisi. Salah satu filosofi yang kami yakini: never get obsessed with the competition, get obsessed with the costumer.

Jadi, kami di sini bukan hanya untuk berkompetisi, tapi untuk melayani konsumen. Selama kita menyediakan produk yang tepat bagi konsumen, semuanya akan baik-baik saja. Di sisi lain, kompetisi itu penting karena membuat kita terus aktif dan kreatif.

Untuk pelayanan purna jual sendiri seperti apa?

Produk kami sudah hadir di lebih dari 100 negara, sedangkan kompetitor kami hanya ada di 30-40 negara. Karena kami hadir di 100 negara, Anda bisa servis tas atau koper di mana saja, tidak harus di negara tempat pembelian.

Servis ini penting karena brand itu tentang janji dan janjinya adalah produk kami tidak pernah gagal. Kalau kami gagal, tentu harus bisa menyediakan servis dengan cepat. Tidak hanya produk gagal saja, yang paling sering datang kepada kami adalah konsumen lupa kombinasi angka untuk membuka dan mengunci kopernya. Itu juga kami harus membantu.

Seperti apa falsafah atau gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?

Kepemimpinan itu bagi saya relatif tergantung situasi dan kondisinya, terutama jika kita bekerja sebagai sebuah tim. Semua anggota tim bisa jadi leader.Contohnya untuk urusan pemasaran, anggota tim saya yang ahli di bidang pemasaranlah pemimpinnya, karena dia pasti lebih baik dari saya.

Begitu pun di bidang lainnya. Untuk sesuatu yang saya ketahui lebih banyak, maka saya yang akan jadi pemimpin. Sebagai pribadi, gaya saya saat bekerja lebih suka yang fun, selain tentu ada angka-angka yang harus dicapai secara konstan dan membantu konsumen agar mendapatkan pengalaman yang lebih baik dengan produk kami. Having fun itu penting dan being fair juga penting.

Apa tantangan yang Anda rasakan selama berkarier?

Saat krisis tahun 2008/2009 itu tahun yang sulit. Di satu sisi kami harus tumbuh tinggi, tapi kami dihadang resesi. Saat itu, saya menangani pasar Timur Tengah dan India. Untuk memastikan kami bisa mengelola resesi sekaligus bertumbuh itu suatu tantangan.

Saat resesi tentu kita mengencangkan ikat pinggang, melakukan berbagai efisiensi untuk menjaga bisnis tetap untung. Namun, kalau kita memangkas habis anggaran untuk promosi, setelah resesi selesai kita bisa mati karena kita telah “membunuh” brand itu.

inda susanti