Edisi 11-10-2018
Pesan Harmoni dari Kustom Indonesia


“ COLOR of Difference “, tema Kustomfest 2018, mengajak masyarakat dan anak-anak muda Indonesia untuk menghargai perbedaan dan terus berbicara lewat karyakarya motor kustom yang kreatif.

“Berbeda jangan disamasamakan. Berbeda jangan disama-samakan. Kustomfest, Kustomfest teriakkan warna perbedaan. Kustomfest, Kustomfest suarakan warna kebebasan”. Lirik lagu tersebut berkali-kali berkumandang di area indoor Jogjakarta Expo Center (JEC), Yogyakarta, pada 6-7 Oktober lalu, tempat Kustomfest 2018 dihelat.

Lagu bernuansa rock berdurasi singkat tersebut menjadi anthem Kustomfest yang mengusung tema “Color of Difference”. Kehadiran lagu tersebut membuat ruangan JEC yang dipenuhi ratusan motor dan mobil kustom jadi semakin berwarna. Tidak hanya lewat karyanya, juga semangatnya.

Dibandingkan perhelatan sebelumnya, tema yang diangkat pada tahun ini memang unik. Lulut Wahyudi, founder dan inisiator Kustomfest , mengatakan tema “Color of Difference” kali ini diangkat dari kondisi bangsa yang saat ini tengah panaspanasnya karena suasana Pemilihan Presiden 2019.

“Tahun 2019 adalah tahun panas, tahun politik, panasnya sudah terasa pada tahun ini. Orang-orang mulai terkotak, mulai berbicara mereka dan kami. Maka itu penyelenggaraan Kustom f est 2018 ini berusaha me-remind lagi bahwa kita bangsa yang besar, yang dilahirkan dari berbagai perbedaan budaya, suku, agama, dan ras.

Kita mengangkat tema tahun ini ‘Color of Difference’,” sebut Lulut Wahyudi. Pemilik bengkel motor kustom Retro Classic Cycles mengatakan, saat ini perbedaan justru dijadikan masalah oleh semua orang.

Padahal, dulunya masyarakat Indonesia sudah mengerti betul bagaimana berharmoni dalam perbedaan. “Kita ingin ingatkan Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun atas dasar perbedaan dan kami ingin mengingatkan mulai dari anak-anak kustom.

Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi hal indah dan disyukuri, ‘Color of Difference’,” ucapnya. Hal ini diamini Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Marsda Sri Mulyo Handoko saat memberikan sambutan pembukaan acara Kustomfest 2018 .

Menurutnya, pada masa menuju tahun politik, masyarakat Indonesia perlu terus diingatkan untuk memahami perbedaan sebagai hal yang indah. “Kita dalam situasi politik yang mulai berbeda pada masa pemilu tahun depan, perbedaan kecil bisa menjadi sangat besar, kerap pandangan kita menjadi sempit yang akhirnya hanya berujung kita yang benar dan mereka salah.

Warna perbedaan inilah yang harus kita angkat terus bahwa perbedaan itu indah,” sambung Sri Mulyo. Suasana menghargai perbedaan tersebut, menurut Lulut Wahyudi, bisa terwujud lewat kecintaan pada negara.

Inilah mengapa Lulut Wahyudi mencoba mengangkat nuansa nasionalisme di Kustomfest 2018 dengan membuat motor lucky draw Kustomfest 2018 bernama Belo Negoro dan merestorasi pesawat RI-X WEL yang selama ini berada di Museum Dirgantara TNI AU Yogyakarta.

Motor Belo Negoro, menurut Lulut Wahyudi, terinspirasi dari pesawat tempur Mustang P-51. Dia mencoba mentransformasikan seluruh elemen yang ada di pesawat tersebut ke motor Harley- Davidson Sportster Evolution.

Menurut Lulut Wahyudi, filosofi dari nama Belo Negoro ini pada intinya ingin memperlihatkan bahwa untuk menghormati perjuangan para pahlawan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mengenalkan dunia dirgantara kepada kalangan muda dan penggiat kustom kultur lainnya.

“Setiap tahun Kustomfest selalu menyiapkan sebuah lucky draw yang berbeda, tahun ini sesuai tema ëColor of Differenceí ingin mengangkat keberagaman dunia kustom kultur di Tanah Air dengan memasukkan sejarah dunia penerbangan Indonesia ke dalam sebuah wujud motor kustom,” ujarnya.

Selain membuat motor lucky draw yang identik dengan nasionalisme, Kustomfest 2018 juga membawa pesawat RI-X WEL yang merupakan karya tangan pertama anak bangsa. Pesawat ini merupakan proyek TNI AU saat itu untuk uji coba membuat pesawat secara mandiri.

Mengutip laman resmi TNI AU, Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Letkol Sus Drs Sudarno menyebutkan, pesawat RI-X WEL merupakan singkatan Wiweko Experimental Lightplane RI-X.

“Pembuatan dilakukan oleh Biro Rencana dan Konstruksi Markas Tertinggi AURI Seksi Percobaan Pembuatan Pesawat Terbang di Magetan. Di bawah pimpinan Opsir Udara III (Kapten) Wiweko Supono dan selesai dibuat pada tahun 1948,” katanya.

Lewat pesawat tersebut, Lulut Wahyudi ingin mengajak anak muda agar bisa terus berkreasi seperti anak muda dahulu. “Mereka saja bisa membuat pesawat dan sekarang waktunya anak muda itu untuk melebihi capaian tersebut,” pungkas Lulut Wahyudi.

wahyu sibarani