Edisi 11-10-2018
Dari Depresi Berubah Jadi Charity


NOVEMBER 2017 jadi hari yang tidak pernah dilupakan Kevin Love. Saat itu Kevin Love bersama LeBron James yang membela Cleveland Cavalliers menjamu Atlanta Hawks.

Sejak pertandingan dimulai, Kevin Love sudah merasa ada yang salah dengan dirinya saat itu. Bukan karena dia hanya bisa mencetak 2 angka hingga kuarter kedua berakhir. Namun, karena ada perasaan yang tidak menentu yang muncul dari dalam dirinya.

Selama pertandingan, Kevin Love diliputi rasa waswas yang tidak jelas. Degup jantungnya pun berdetak lebih kencang daripada biasanya. Begitu kuarter ketiga hendak dimulai, Kevin Love yang semula duduk di kursi pemain tiba-tiba berlari ke ruangan ganti sambil berlari.

Di ruangan ganti kecemasan yang ada di Kevin Love tidak juga hilang. “Anehnya saya tidak tahu mengapa saya begitu panik,” ceritanya. Seiring degup jantung yang berdetak kencang, Kevin Love tiba-tiba pingsan.

Terakhir yang dia ingat, dia dibawa oleh teman-temannya ke klinik Cleveland Cavalliers. “Setelah diperiksa, ternyata kondisi fisik saya baik-baik saja. Tidak ada yang mengkhawatirkan.

Saya pulang dan bingung kenapa ini sebenarnya?” tanya Kevin Love. Dua hari kemudian, Kevin Love bermain basket lagi. Kali ini dia berhasil mencetak 32 angka. Saat itu dia benar-benar merasa lega dibandingkan dua hari sebelumnya saat melawan Atlanta Hawks.

“Saya lega bukan karena permainan saya bagus tapi saya lega karena tidak ada satu pun orang yang tahu tentang peristiwa dua hari sebelumnya,” sebutnya. Dari situ Kevin Love mulai merasa bahwa yang salah bukan fisiknya tapi mentalnya.

Dia akhirnya membicarakan masalah itu dengan kekasihnya, Kate Bock. Dari situ dia diajak untuk berkonsultasi dengan psikiater. Membuka diri memang jadi masalah besar buat Kevin Love.

Dia memang bukan pribadi yang tertutup ,hanya saja dia tidak ingin untuk menceritakan masalah yang tengah dia hadapi ke semua orang. Sejak kecil, dia selalu beranggapan bahwa anak laki-laki adalah anak yang tidak perlu mengungkapkan segala hal atau masalah yang tengah mereka alami.

Pandangan itu akhirnya terbawa hingga dia dewasa. Setelah diskusi dengan Kate Bock, Kevin Love akhirnya menemui psikiater dan ternyata banyak hal yang bisa membuat diri begitu mudah depresi.

Kebanyakan hal itu malah tidak ada hubungannya dengan basket sebagai profesi yang dia jalani saat ini. “Banyak hal itu tidak kita sadari sampai kita melihatnya dari kacamata orang lain.

Saya tahu membicarakan masalah memang tidak akan menyelesaikan masalah tapi setidaknya kita jadi memahaminya,” ucapnya. Kevin Love melihat betul betapa ancaman depresi begitu mengerikan saat ini.

Banyak selebriti dan orang-orang ternama yang terlihat sehat, bahagia, dan kaya raya tiba-tiba memutuskan bunuh diri tanpa diketahui alasan sebenarnya. Dari keprihatinan itulah, Kevin Love akhirnya mencoba aktif di kegiatan kemanusiaan yang khusus untuk membantu orang-orang yang mengalami depresi.

Tidak cukup di situ, dia juga membentuk sebuah lembaga nirlaba yang dinamakan Kevin Love Fund. Lembaga ini bergerak untuk memberikan dukungan finansial kepada setiap organisasi dan individu yang aktif dalam penanganan depresi dan mental.

“Saya tidak mengatakan semua orang seperti saya harus segera pergi ke psikiater. Yang ingin saya katakan adalah saya akhirnya berada pada satu titik bahwa saya mengaku sangat butuh bantuan. Saya yakin semua orang menghadapi sebuah masalah yang tidak diketahui oleh orang lain, termasuk orang terdekat dalam hidup mereka,” sebutnya.

wahyu sibarani